Adalah sepotong rasa, yang tidak akan pernah terlihat mata. Ia sesungguhnya ada, dan penuh dengan makna.

Adalah sepotong rasa, yang apabila kita tidak jeli mengenalnya, maka ia tidak akan pernah ada. Sehingga sepotong rasa yang telah kita kenali tersebut, kita wujud kehadirannya dalam sepatah atau dua patah kata. Kata yang kita alirkan melalui nada suara atau kita rangkai ia melalui susunan huruf yang sahaja.

Adalah sepotong rasa, semua kita tentu mempunyainya. Namun, tidak jarang kita berkata bahwa ada yang tidak mempunyai rasa. Dan kita bilang, ia tidak mempunyai perasaan. Ah, mana bisa? Dan bagaimana mungkin kita berkata sedemikian? Padahal, kalau kita sendiri yang dikatakan demikian, sudikah kita mendengarkannya? Oleh karena itu, wahai teman, dengar-dengarkanlah lebih dahulu, apabila kita ingin mengucapkan kalimat. Dan baca-bacalah lebih awal, sebelum kita merangkai tulisan. Karena, kita tidak akan pernah tahu, siapa saja yang membaca tulisan yang kita rangkai atau suara yang kita alirkan.

Adalah sepotong rasa, terkadang ia yang langsung menjadi penerima tamu dari dalam raga seorang hamba. Dan ternyata, saat kita mengurai kalimat dalam nada suara, rasa tersebut langsung menyahut. Karena ia sesungguhnya ada. Namun demikian, walaupun ia menyahut, tidaklah mesti selalu sahutannya mengalir melalui suara si penerima. Oleh karena, ia ingin menjaga rasanya. Agar tidak terlontarkan kata yang tidak sepatutnya ia sampaikan. Dengan demikian, ia sedang menjaga dirinya, pun sesiapa saja yang ia hadapi.

Adalah sepotong rasa, ia mempunyai peran yang sangat besar dalam diri-diri kita para pembawa rasa. Karena rasa-rasa itu ada, untuk mengingatkan kita lagi, bahwa kita tidak pernah tidak bersama dengannya. Oleh karena itu, wahai teman. Apabila engkau merasakan rasa itu ada, segeralah mengetahui kondisinya. Apakah ia rasa yang baik, ataukah yang sebaliknya. Karena rasa, ia tidak terlihat. Dan hanya dapat engkau rasakan saja. Ya, begitu.

Ada sepotong rasa, yang kita sangat mudah mengungkapkannya. Namun ada juga rasa yang bagi kita, begitu rumit untuk mengurainya. Karena ia begitu berharga? Ya, karena mahal harganya. Dan tentu tidak mudah bagi kita untuk menjelaskan tentang ia. So, hanya menyimpannya dengan rapi, adalah pilihan kita. Agar rasa yang ada, dapat menjaga kita pula. Semoga, memang demikian.

Adalah sepotong rasa, yang kita temukan pada diri kita. Pun ternyata, kita juga dapat menemukan sepotong rasa dari pribadi selain kita. Dan apabila kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, itulah kelebihan yang perlu kita pertahankan. Agar, sebelum melangkah kita dapat menyurutkannya lagi, kalau ternyata kita rasa itu akan menyulitkan orang lain.

Adalah sepotong rasa, pada waktu ia begitu banyak, maka ia akan mengelilingi kita selalu. Dan rasa itu dapat mengalahkan logika, yang semestinya kita punyai juga.

Ah, rasa, jangan salahkan ia, kalau ia berlebihan. Namun bersyukurlah… selau dan senantiasa, bersamanya. Karena ia sedang mengajarkan kita sebuah rahasia. Rahasia yang perlu kita singkapkan maknanya. Karena tiada yang tanpa makna, bukan? Yakinlah.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s