Oia! Aku keingatan akhirnya. Ya, bagaimana kalau untuk update dua lembaran catatan, aku mengirim langsung ke dua secret e-mail saja yaa. Hmmn… menarik juga. Dan ini berarti bahwa secara otomatis, lembaran catatanku akan tidak ada yang tertinggalkan. Baiklah. Untuk saat ini aku akan melakukan test. Ya, tepat setelah catatan singkat kali ini terhadirkan, maka aku akan mempostingnya. Semoga sukses, aamin. Syaalalaaa.. Ha!

Kalau saja langkah ini sukses, maka ke depannya, aku memang betul-betul sangat membutuhkan sarana untuk merangkai catatan yang dapat ku bawa ke mana saja. Dan tentu saja, tidak perlu log in pada halaman dashboard wordpress maka aku dapat mengabadikan ingatan yang hadir pada waktu dan di tempat apa saja. Ya, ya, ini sungguh aku suka. Dan sudah lama memang, aku mengidamkan seperti begini. Oh… Dengan begini, tentu aku akan menjadi lebih bahagia. Ha!

Tidak mudah memang, untuk menggapai apa yang kita cita. Namun, kalau kita berjuang dan berusaha untuk merengkuhnya walaupun pernah terletih dalam lelah, insyaAllah tercapai juga. So, usahlah hiraukan lagi keringat yang membanjir membasahi raga, ketika kita melangkah di bawah siraman terik mentari. Namun, jalani semua itu dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya. yHa!

Hingga sampai pada paragraf yang ke empat ini, aku menjadi teringatkan pada beliau-beliau yang akhir-akhir ini aku temui. Beliau, siapakah beliau? Kiranya aku tidak dapat menyebutkan satu persatu, karena itu tidak perlu. Namun, yang perlu aku ingat adalah, satu hal, yaitu: ketika aku sedang berhadapan dengan sesiapa saja, maka aku perlu mengalihkan perhatianku dari sarana komunikasi atau boleh saja catatan yang sedang aku rangkai. Karena aku perlu memberikan perhatian pada sesiapa yang sedang berhadapan denganku. Sebab jika tidak begitu, aku ragu, akan ada selembar senyuman tanpa makna dari wajah yang sebenarnya sedang ingin berkomunikasi denganku berhadap-hadapan. Namun ternyata aku malah memfokuskan tatap pada sebuah alat komunikasi yang ada di hadapanku. Dan aku ternyata sedang berkomunikasi pula dengan entah siapa, di sana. Ha!

Alhamdulillah… lega rasanya, ketika akhirnya aku pun mengurai sebait pesan yang pernah mempengalamankanku, pada suatu masa. Ketika aku merasa, ya hanya merasa, bahwa kehadiranku ternyata tidak terlalu penting adanya. Karena beliau yang aku temui, malah sedang berkutat dengan alat komunikasi yang sedang berada di dalam genggaman. Haha..!

Tidak ada yang boleh merasa sedang aku bahas, di sini. Namun yang boleh adalah kembali introspeksi diri. Ya, bertanyalah pada diri sendiri, apakah benar saya demikian adanya? Bagaimanakah perasaan saya, ketika perlakukan yang sama, saya alami pula? Sungguh, demikian pula kiranya, dengan apa yang orang lain alami. Hmm…

Sedikit ada rasa yang tidak biasa, aku rasakan. Ketika aku berhadapan dengan seorang yang aku pentingkan. Namun kehadiranku malah seperti tidak terlalu penting bagi beliau. Maka, segera aku mengalihkan perhatian dari beliau, kemudian berlalu. Dan aku pun melanjutkan aktivitasku yang berikutnya, saja. Karena, itu, ada satu pesan, kesan, atau apa namanya ya, hmmm… oh, pelampiasan rasa aja kali ya, namanya. Ya, karena aku merasa, tidak semestinya beliau memperlakukanku demikian. Karena kehadiranku menemui beliau, adalah untuk keperluan kami juga.

Aku tidak melarang, ketika ada yang sedang berkomunikasi dengan oranglain selain aku. Namun, alangkah baiknya, kalau kita sedang bertemu langsung dengan orang lain yang menemui kita, maka kita menyambutnya dengan tatapan mata yang berbinar. Sungguh, akan kembali pantulan binar itu menerangi ruang pikir kita, bukan? Inginkan bukti? Coba saja, aplikasikan dengan sendiri. InsyaAllah tidak percuma.

Dan pengalaman ini, pun aku alami sore ini. Pengalaman tentang seorang yang menyambut kehadiranku dengan baik. Karena, memang kebetulan beliau sedang tidak berkomunikasi dengan sesiapa. Sehingga hanya fokus denganku. Maka dalam kondisi demikian, aku merasa senang aja. Ha.

Baru saja, aku kembali dari rumah Bapak RT, yang lokasinya beberapa rumah saja dari tempatku tinggal. Dan beliau menyambut kehadiranku dengan antusias. Selalu begitu. Tidak banyak yang berubah, dari beliau. Baik ketika pertama kali aku menjumpa beliau, saat kami belum berkenalan, maupun saat sudah berkali-kali aku menemui beliau untuk berbagai keperluan penting. Dan aku bahagia, karena beliau tidak terlihat bersibuk-sibuk, namun menghargai kedatangan aku sebagai tamu.

Aku cukup tahu diri, kalau memang kehadiranku bukan pada saat yang tepat. Dan ternyata ada diantara beliau-beliau yang ku temui, ternyata sedang sibuk. Maka, ku berikan waktu untuk beliau, melanjutkan kesibukan tersebut. Namun, kalaulah tidak terlalu penting, ada baiknya kita melebarkan posisi jemari, dan membukanya. Lalu meletakkan apa saja yang sedang dipegangnya, termasuk alat komunikasi, kalau ada yang sedang ingin banget, berkomunikasi dengan kita secara langsung. Itu saja.

"SESUNGGUHNYA PESAN INI ADALAH UNTUK DIRIKU, AGAR AKU TERINGATKAN."

Terima kasih, teman, engkau telah sudi memahamiku. Karena memang begini adanya aku. Dan aku sangat senang memahamimu yang sedang asyik di sana. Lain kali, aku menemuimu lagi, semoga engkau pun ingat dengan catatanku ini. Kapanpun.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s