Dear… Awalnya, saya menuliskan kata “Dear” sebagai judul catatan kali ini. Namun, saya kurang begitu yakin, akan memberi judul tersebut. Namun kata tersebut belum saya hapus ketika merangkai paragraf satu ini. Walaupun belum yakin banget dengannya. Ya, karena saya akhirnya menyadari, bahwa ia bermakna. Setidaknya, untuk mengingatkan saya lagi, akan tema yang akan saya angkat saat ini. Icchh… Dear. Artinya adalah sayang, kalau tadi saya translate dari English ke Bahasa Indonesia.

Dear=Sayang.  Akhirnya, saya belum menghapusnya juga.  Ketika saya berada di paragraf kedua ini. Lalu, saya  menambahkannya dengan participants. Sehingga judul pun menjadi “Dear Participants.” Udah. Ini judul udah sips banget…! Dan mari kita melompat ke paragraf selanjutnya, yuuks..?!

Sayang adalah sebuah kata yang penuh dengan makna. Dan maknanya mungkin saja belum mampu saya uraikan di sini, saat ini. Karena sayang bukanlah sebuah kata yang sangat mudah untuk kita merangkainya dalam susunan kalimat. Namun sayang adalah sebuah perasaan, ekspresi atau apa lagi namanya. Intinya adalah, sayang itu sungguh bermakna. Bagiku, bagimu, dan bagi kita semua. Engkau pun tentu mengenal kata “sayang”, bukan?

Ah, sangat disayangkan, apabila kita yang katanya, telah mengenal kata sayang, menjadi tidak menanggapi, ketika seekor kucing mengeong di sisi kita. Dan sangat disayangkan sekali, apabila kita melihat seorang anak yang sangat menyedihkan kondisinya ketika kita sedang berada di dalam perjalanan, namun dengan mudahnya kita berlalu. Sungguh, sungguh, di manakah kita telah menyimpan sayang yang kita kenali sebelumnya?

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar seekor kucing yang sedang mengeong di depan kamar.  Sedangkan saya sedang asyik dengan aktivitas pagi, duduk manis mengulas mimpi, mengimajinasi hari-hari yang akan saya jalani. Dan seekor kucing itu adalah Catchy, yang menjadi bagian dari kehidupan saya semenjak setahun yang lalu. Hmm… Entah apa yang ingin ia sampaikan padaku. Serta merta, saya teringatkan pada catatan ini. Ya, saya ingin mengabadikannya dalam barisan kalimat. Tentang aku dan Catchy, si kucing berbulu triple warna; hitam, putih, dan orange. Indahnyaaaaaaaa ragamu, Cat… 😀 Dan aku suka. Aku sayang Catchy.

"Aku dan Catchy"

Aku dan Catchy, kami saling menyayangi. Walaupun kami berasal
dari orang tua yang berbeda, namun kami seakan saudara. Ya...
kami bersaudara. Sehingga dalam berbagai kesempatan, kami man-
faatkan waktu untuk kebersamaan. 
Catchy baik padaku. Dan kebaikannya aku rasakan. Ya, aku benar-
benar merasakan kebaikan yang ia sampaikan padaku. Sehingga aku 
pun sangat ingin membalas kebaikannya. Aku ingin menjadi sebaik
Catchy. Catchy yang dengan bahasa kucing-nya, membangunkanku saat
aku ketiduran, agar segera bangkit. Ini terjadi pada suatu senja. 
Dan aku sangat ingat. Xixii. Bincang-bincang kata tentang 
Catchy dan aku, kiranya udahan duyu yaach. Karena saat ini 
Catchy sedang bobo manis di pangkuanku dan aku sedang teringat 
dengan seorang teman. Temanku yang sangat menyayangi makhluk 
berjenis kucing ini. Teman yang bagiku sudah bagaikan saudara 
sendiri. Teman yang aku temui di kota ini, ketika kami 
sama-sama menempuh pendidikan. Semenjak lebih kurang tujuh
tahun yang lalu, adalah awal pertemuan kami. Temanku itu 
adalah Tya. 
***

Tya, beliau sangat baik padaku. Beliau pun turut berpartisipasi dalam proses demi proses yang aku jalani sepanjang kehidupanku di sini. Ya, saat aku sedang jauh dari keluarga, beliau adalah keluargaku yang berikutnya. Ketika aku mengalami kekurangan, beliau menambahkan. Ketika aku, dulu, pada masa-masa sulit kehidupanku, beliau datang menjadi jalan yang memudahkanku. Sungguh, sungguh, aku tidak akan mudah melupakan. Betapa kebaikan seorang teman, memang tidak dapat terbeli.

Eh, Tya… masih ingat ga, tentang hari-hari kita bersama. Senja ketika itu. Tanpa rencana dan sebelumnya tidak kita prediksi terlebih dahulu, akhirnya kita berjumpa. Walaupun dalam prosedur yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, akhirnya kita pun menjalani. Engkau dengan segala teknologi yang kini melekat padamu, pun berbagi denganku.  Hingga dengan begitu, engkau kembali menjadi jembatan yang memudahkanku untuk segera sampai pada negeri impian. Sungguh, kebaikanmu teman, ingin aku jadikan ada. Nah. sebelum aku melangkah lagi, untuk meneruskan perjuangan, maka teringatku pada dirimu sebagai salah seorang partisipan dalam proses ku menyelesaikan tugas. Doain yaa, semoga cita kita tercapai dalam naungan kasih sayang-NYA. Karena kalau bukan karena Allah yang mengizinkan, mana mungkin kita dapat menjadi seperti yang kita mau. Ya, semoga kita kembali teringatkan, lebih sering.

Ada banyak proses yang kita tempuh untuk mencapai cita. Beraneka coba, mungkin saja kita alami dalam proses-proses tersebut. Dan terkadang, kita lupa pada-NYA. Nah, semoga salah satu catatan ini, menjadikan kita kembali ingat, bahwa apapun yang kita alami, bukan karena usaha kita sendiri. Namun karena adanya partisipasi dari banyak pihak, terhadap kita. Karena beliau semua, sayang pada kita. Lalu, dengan apakah kita membalasnya?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s