Hi! Tahukah engkau?

Semenjak engkau hadir dalam kehidupanku, malam-malamku tak lagi kelam seperti dahulu. Ya, karena engkau hadir sebagai bintang-bintang yang berkelipan. Dan ketika aku bertanya pada seorang teman yang jago banget fisika, beliau bercerita padaku. Bahwa bintang itu sesungguhnya tidak mempunyai ujung-ujung yang tajam, seperti yang biasa terbayang olehku. Ternyata memang begitu adanya. Dan beliau menambahkan pula, bahwa bintang itu sesungguhnya berbentuk bulat, ya seperti bulan yang purnama.

"Dan mengapa ketika menggambarkan bintang, orang-orang pakai ujungnya runcing dan berjumlah lima?," tanyaku berhubung masih penasaran.

Dan teman aku pun menjelaskan, begini, "Bintang itu sesungguhnya sedang bersinar. Dan sinarnya itu berasal dari dirinya sendiri. Dan karena sangat kuatnya sinar yang ia pancarkan, maka terlihat seperti ujung-ujung yang runcing, di mata kita. Namun aslinya, bintang itu bulat… seperti bulan… teman."

Dengan sangat lembut, ia menjelaskan padaku. Hingga aku benar-benar mengerti. Yang ditandai dengan anggukan tanda setujuku. Beliau pun bertanya, "Masih ada yang kurang jelas?" tanyakan silakan. Engga apa-apa kok. Kan kita bertemaaaan. Tambah temanku yang super baik itu. Dan akupun bersyukur mempunyai teman sebaik beliau. Teman yang dapat menjelaskan padaku, saat aku bertanya. Teman yang dapat menerangkan padaku, saat aku dalam kegelapan. Pun teman yang menjadi bagian dari hari kelamku, hingga aku benar-benar menyadari, bahwa kehadiran teman mampu menjadi cahaya hari-hariku.

Ketika siang, dan aku bersua dengan teman-temanku, aku rasakan hariku penuh dengan penerangan. Karena beliau-beliau temanku adalah pribadi yang bersinar. Sinar akhlaknya sungguh rupawan, hingga membuatku terpesona. Dan pada ketika kami bersama, mentari sedang terik-teriknya bersinar. Hingga ku ingatkan diriku, ketika tidak lagi bersama teman-temanku. Bahwa mentari adalah perwakilan beliau untuk kembali mensenyumiku. Sehingga aku tidak lagi ragu, saat melangkah walau sendiri. Nah! Begitu pula ketika malam. Saat gulita benar-benar berkuasa di gelap malam, aku pun segera menatap langit. Dan kerlipan bintang-bintang yang cantik, menjadi temanku yang baik. Ya, temanku berikutnya.

Ketika kami bersama, maka terlihatlah kebahagiaan darinya. Begitu pula dengan aku. Kebahagiaan yang ditandai dengan semakin banyaknya kerlipan bintang ku saksikan. Dan ingin ku memetik satu diantaranya, kapanpun aku mau. Agar, aku tidak lagi perlu menengadah langit setiap malam.

"Ah… Aku. Mana bisa bintang ku petik?," dalam pikir dan sadarku, teringatlah aku pada diri. Ya, aku yang masih menjejakkan kaki-kaki ini di bumi, hanya mampu berilusi. Sedangkan di dalam bayanganku, bintang-bintang itu telah begitu dekatnya, kini. Dan ia sedang tersenyum padaku.

"Senyuman yang menarik," gumamku. Seperti senyuman yang engkau tebarkan ketika mensenyumiku dalam kebersamaan kita. Dan wajahmu semakin berseri-seri saja, bersamanya.

Aku suka.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s