PG22-HANGULHead Start Program introduces newco...
PG22-HANGULHead Start Program introduces newcomers to ways of Korea (Photo credit: USAG-Humphreys)

Terkadang banyak cara kita lakukan untuk menasihati orang lain, namun sering kita tidak menasihati diri kita terlebih dahulu. Sehingga apa yang terjadi? Nasihat kita berlalu bagai angin dan tidak berbekas, ya, tanpa wujud.

Ada pula yang asyik menasihat diri sendiri, sehingga ia terlupa, bahwa ternyata, banyak nasihat yang perlu ia sampaikan kepada orang lain, tidak hanya untuk dirinya saja.

Ya. Begitulah kenyataan yang ada. Tidak ada yang sempurna, apalagi ideal seperti yang kita damba, bukan?

Terkadang, saat kita terdiam, ada yang berkomentar, “Mengapa engkau diam saja.” Sedangkan ketika kita berbicara mengucap kata, ada yang menyampaikan pada kita, “Eee.. engkau diam saja, tidak perlu bicara. Jangan cerewet.”

“Ah… sudahlah, tidak perlu menggubris segala yang ada dengan emosi yang meninggi atau berekspresi berlebihan, sebagai wujud dari sikap kita pada situasi.”

Segera tenangkan diri, dan sampaikan padanya sebuah pesan, bahwa semua itu merupakan bahan pelajaran untuk kita pahami. Dan dengan memahami segala yang ada di hadapan, kita secara tidak langsung, sedang belajar kepadanya. Ya, belajarnya kita dari siapa saja, dari mana saja, bersama siapa saja, tidak kenal henti. Inilah yang dapat menjadi jalan terbukanya pintu hati.

Berprasangkalah baik pada segala yang terjadi. Baik ketika keadaan membuat kita tersenyum dan berbahagia pada saat itu juga, maupun saat mendapati, hati kita terenyuh seketika, dengan segala yang ada. Perhatikanlah, semua akan menjadi bagian dari hari ini yang sedang kita jalani. Maka ambillah ia sebagian saja, untuk kita jadikan sebagai kenang-kenangan dari perjalanan hari ini.

Hari demi hari akan berganti. Masa pun akan terus bergulir seiring dengan pergantian waktu. Sedangkan diri kita yang satu, perlu terus bergerak dalam perjalanan kehidupan ini. Ya, agar kita tidak tertinggal dari perubahan yang terus berlangsung.

Teringat pesan dari seorang sahabat, aku pun merenung. Beliau pernah berpesan padaku, tentang satu hal yang perlu terus aku buktikan. Bahwa aku mampu menjadi diriku. Dan ingatan yang membuatku merenung itu, segera mengembalikanku pada kesadaran penuh, kapan saja aku terhadapkan pada kondisi yang aku jalani dalam hari-hari.

Saat keadaan sesuai dengan harapan, sesungguhnya ia sedang mengajarkanku untuk terus sadar diri dan mengenal siapa aku. Intinya adalah, jangan lupa diri. Namun saat keadaan ternyata bertolak belakang dengan harapan, ia pun sedang membawa sekumpulan bahan ajar untukku, agar aku memahaminya. Dan pada waktu itu, aku perlu belajar lagi. Belajar, ya belajar lagi. Karena tidak ada lagi yang dapat kita lakukan agar kita dapat memahami, kecuali dengan belajar untuk memahami. Dan dari satu renungan, kita dapat merangkai sebait pesan untuk diri. Pesan yang apabila kita sampaikan kepada diri dalam bentuk rangkaian tulisan, maka saat itu pula kita sedang berpesan kepada orang lain. Sehingga kita tidak lagi sedang asyik berpesan pada diri, namun kita pun merengkuh dua pulau harapan dalam sekali merengkuh dayung.

Oh, sungguh indah.. bukan?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s