Untuk Ciza, ^^

Terkenang si pemuda dengan masa-masa yang pernah ia tempuh. Masa-masa yang penuh dengan perjuangan, begini ia mengata. Tentang betapa beratnya hidup yang ia lalui dalam waktu yang telah berlalu itu. Dan kini, kenangan tentang perjuangan itu melekat sungguh erat di dalam pikirnya. Pikir yang mengajaknya untuk melanjut perjuangan lagi, saat ini.

Kenangan memang terkadang hadir menemuinya. Dan ia sambut dengan tangan terbuka. Sedangkan pada wajahnya, mengembanglah senyuman yang sulit untuk diartikan dengan kata-kata. Hanya penikmat senyuman saja yang mampu memaknai arti sebaris senyum yang ia semaikan. Pemuda, ia sedang menghayati senyumannya.

Ia tersenyum saat terkenang pada dirinya yang sering berjalan, namun tidak tentu arah. Ia teringat pada masa-masa ketika melangkah, dan ia tidak tahu, hendak ke mana. Hingga sampailah pemuda pada sebuah masjid yang megah. Dan di masjid itulah, ia berehat sejenak dari lelah yang ia rasa. Ia berwudu lalu membasuh wajahnya yang kotor oleh debu-debu di perjalanan. Karena ia ingin merasakan kesejukan setelah haus meradang tenggorokannya yang ternyata pernah belum ia aliri dengan air.

Sungguh, ia pernah dahaga. Dan dengan berwudu, legalah jiwa, sentosalah raga. Walaupun untuk mendapatkan setetes air untuk diminum, ia belum kuasa. Karena ia sedang berpuasa. Ah, pemuda yang sahaja dan patuh pada Rabbnya.

Pemuda itu tidak banyak bicara. Karena ia adalah pemuda yang sangat pintar dalam mengendalikan nafsunya untuk bicara. Karena ia tahu bahwa setiap kata akan diminta pertanggungjawaban darinya. Dan ia ingin senantiasa terjaga lisannya dari berkata yang kurang bermakna. Sehingga ketika ia bersuara, hanya untuk keperluan yang penting saja. Bukan irit bicara, namun karena ia ingin menjaga dan terjaga. Dan pemuda itu kini, sedang asyik dengan hari-harinya yang bertaburan makna. Walaupun masih saja, ia pemuda yang seakan tanpa kata-kata.

Pemuda nan sahaja, dalam senyumannya ada pesan. Pemuda yang sahaja, di balik langkahnya ada harapan. Dan pemuda yang sahaja, bergerak untuk meninggalkan sebuah kenangan lagi, hari ini. Karena ia yakin bahwa hari ini yang sedang ia jalani tidak akan pernah kembali.

Ia pernah melangkah di gelap malam, seorang diri. Tanpa sesiapa di sisinya, memang. Pun pemuda sering berjalan di bawah terik mentari yang menyengat, siang hari. Bersama para sahabat, terkadang. Karena memang, tidak banyak sahabat yang ia punya, kiranya. Namun baginya, mempunyai seorang sahabat adalah lebih dari segala-galanya. Ya, sahabat adalah jalan baginya untuk menuju pada cita mulianya. Oleh karena itu, pemuda ingin berjumpa dengan sahabatnya, sering dan selalu.

Pemuda, ia pun mempunyai sahabat yang ia belum pernah mendengarkan suaranya. Apalagi bersua, belum sekali jua. Hanya melalui rasa, mereka saling bertukar kata. Dan mereka bertemu di dalam ingatan saja. Sehingga dalam waktu-waktu ingatannya terhadap sahabat menyapa, maka ia membisikkan sebaris kalimat, Tolong kabar-kabari bila engkau berkunjung ke kotaku, yaa. Maka aku akan menemuimu. Karena aku merindukanmu sejak lama.” Dan dalam harapnya, sahabat mendengarkan suara yang ia alirkan melalui kalimat yang ia rangkai.

🙂🙂🙂

Best Regards,
~…My Surya…~
We are dealing with a situation that is not all IDEAL so we be a DYNAMIC personal

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s