Kami property (picture taken from a helicopter)
Kami property (picture taken from a helicopter) (Photo credit: Wikipedia)

Aku…
Ini semua tentang aku. Aku yang semenjak hari ini belajar tentang hal yang bukan baru lagi, tentunya. Namun bagiku adalah ia menjadi sebuah pengalaman baru. Dan aku senang bersamanya. Adapun pengalaman baru yang aku maksudkan adalah tentang kebersamaanku dengan selembar note dan sebatang pulpen di tangan.

 

 

Aku…
Ini adalah tentang pengalamanku. Aku yang sebenarnya telah ingin merangkai kalimat tentang hal ini, semenjak beberapa hari yang lalu. Pada waktu itu, aku ingin sangat merangkai kalimat tentang ingatanku yang hadir pada saat itu. Namun, aku tiba-tiba merasakan ada yang kurang dariku.. Yaitu, di sampingku tidak ada pulpen sama sekali. Walaupun pada saat itu, lembaran kertas bertebaran di sisiku. Akan tetapi, bagaimana aku dapat merangkai kalimat, sekiranya pulpen tiada? Aku pun urung merangkai kalimat. Sedangkan ingatanku yang hadir saat itu, dalam yakinku akan hilang. Dan ingatan tersebut tidak akan dapat hadir lagi, kapan saja. Sedangkan kalau aku segera menuliskan ingatan pada saat ia datang, maka ia tidak akan pernah hilang. Sungguh aku akan sangat menyesal, terhadap kesempatan-kesempatan yang hilang belakangan. Termasuk saat di sisiku sedang tidak ada pulpen, ataupun alat tulis yang dapat merekam ingatanku.

 

 

Aku…
Saat ini berbahagia sekali. Karena aku dapat meluapkan apa yang ada di dalam pikiranku, segera, di dalam rangkaian kalimat. Karena di sampingku ada selembar kertas dan sebuah pulpen yang ada tintanya. Dan aku berjanji, untuk seringkali membawanya kemanapun aku pergi, iya, aku berjanji dengan diriku sendiri. Semenjak saat ini, aku ingin bersamai ia. Karena aku yakin dan percaya, bahwa lintasan-lintasan  ingatan yang hadir dalam waktu yang tidak menentu itu, terkadang dapat menjadi jalan pengingat kita pada sebuah episode. Dan episode itu adalah saat ingatan bermunculan.

 

 

Aku…
Pernah pada suatu hari. Sedang berjalan-jalan di sebuah lokasi yang bagiku sangat baru. Dan di lokasi tersebut, aku berjumpa dengan seorang yang bagiku pun baru pertama bertemu. Di dalam waktu pertemuan kami, terjadilah percakapan. Kami berbincang layaknya saudara yang sudah lama berkenalan. Dan pertemuan kami itu adalah untuk yang pertama kalinya berlangsung, setelah kami terpisahkan oleh jarak dan waktu untuk masa yang lama. Akhirnya, pertemuanku dengan seorang yang baru tadi, ku ingin abadikan segera, dalam barisan kalimat.

 

 

Aku…
Berjumpa dengan seorang yang baru, bernama Ai. Ai adalah seorang gadis lugu nan ayu. Beliau berusia lebih muda dariku, begini aku menaksir. Karena dari beberapa baris kalimat yang beliau ucapkan padaku ketika kami pertama kali berkenalan, beliau menjelaskan baru tamat sekolah menengah pertama, lebih kurang tiga tahun yang lalu. Sejenak aku berpikir, … lalu menanggapi. Oh.. tamatan tahun 2010, SMPnya ya, Ai? Aku bertanya untuk meyakinkan diriku sendiri. Sedangkan Ai, menganggukkan kepalanya, lesu.

 

 

Aku…
Ai…
Kami berjumpa di pertigaan, yang bagiku merupakan lokasi yang baru. Sedangkan Ai, ternyata telah terlebih dahulu berada di sana. Beliau berkisah, bahwa keberadaan beliau di pertigaan, adalah untuk menunggu angkutan umum yang akan lewat. Sedangkan aku, hanya lewat saja. Karena kebetulan, jalur yang sedang aku lalui itu menuju ke lokasi di mana aku bertempat tinggal saat ini. Dan aku baru pertama kali lewat di pertigaan itu.

 

 

Aku…
Ai…
Kami pun bercakap sejenak, karena kami berpapasan. Aku lewat di depan beliau, tepat. Sedangkan Ai, terlihat dalam kondisi yang lemah. Beliau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan pikir itu, dalam yakinku, sungguh dalam. Entah apa… Aku tidak ingin tahu, pun tidak perlu tahu. Namun, ada yang menarikku untuk membersamai gadis berusia belia itu, untuk beberapa waktu ke depannya. Karena aku memang sedang tidak ada jadual yang mendesak untuk aku lakukan. Dan akhirnya, kami pun bersama sampai sekitar Dua puluh menit berikutnya.

 

 

Aku…
Ai…
Kami duduk di satu angkot – angkutan kota, bersama. Adapun kursi tempat kami duduk, berseberangan. Aku duduk tepat di kursi yang berada di depan beliau. Kami berhadapan. Sehingga sangat mudah bagi kami untuk dapat saling memandang dan menukar percakapan.  Selama kebersamaan kami, tidak banyak yang kami obrolkan. Karena kami pun sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Namun sempat terlintas tanya dariku pada beliau, tentang maksud keberadaan beliau tadi, di pertigaan. Untuk keperluan apakah, dan hendak ke mana?

 

 

Aku…
Ai…
Kami akhirnya bercakap ala adik kakak yang saling mencurahkan isi hati. Ai, beliau uraikan beraneka rasa yang memenuhi ruang hatinya. Sedangkan dari tatapan mata yang ku lihat, ada pesan penting yang sedang beliau sampaikan. Pun dari raut wajah yang beliau tampilkan, aku membaca pesan berharga.

 

 

Aku…
Ai…
Kami adalah wajah-wajah yang semirip, ku lihat. Ya, ketika melihat wajah Ai yang sedang berkisah di depanku, aku teringatkan pada diriku sendiri. Ya, aku ketika belia. Aku yang … pada saat menyimak kisah beliau, merasakan bahwa yang sedang berkisah itu adalah aku. Ya, aku yang pernah menjalani usia sebagaimana yang beliau jalani. Aku, yang pernah pula menjadi seperti beliau. Aku, pun tersenyum di hadapan beliau. Ku coba tabahkan hati yang bermendung di hadapanku. Ku usaha semaikan meski sebibit senyuman dari wajahku. Karena aku, ingin beliau tersenyum.

 

 

Aku…
Ai…
Kami, masih berada di angkutan kota yang sedang kami tumpangi. Ketika itu, gerimis menitik pelan-pelan. Sehingga berkas embun yang menempel pada kaca, membuat arah pandangku kabur dan tidak begitu jelas saat aku coba arahkan tatap ke luar sana. Dan aku ingin, Ai dapat melihat masa depannya dengan jelas dan bening, tidak seperti pandanganku tadi. Ya, karena yakinlah Ai, bahwa di balik kaca yang berembun itu, ada pemandangan alam yang indah. Ya, saksikanlah. Kalau mau, lap-lah kaca itu, dengan cara menempelkan telapak tangan di permukaannya. Lalu, saksikanlah bagaimana alam memberikan senyuman.

 

 

Aku…
Ai…
Ketika kami berjumpa, memang sedang gerimis. Dan aku yakin, gerimis tidak selamanya. Akan tiba masanya, mentari bersinar cerah untuk menerangi bumi. Esok,?

 

 

Aku…
Ai…
Kami berjumpa sore hari, menjelang senja. Dan ku lanjutkan perjalananku yang berikutnya, ketika Ai akhirnya tiba di persimpangan yang berikutnya. Beliau perlu berpindah angkot, memang. Karena beliau mempunyai tujuan ke Garut. Garut, dari kota penghasil dodol, Ai berasal. Dan pada saat beliau menyebutkan kota tersebut di sela-sela kami bercakap, aku segera teringatkan seorang teman baikku yang juga berasal dari kota yang sama, Siti.

 

 

Aku…

 

 

Ai…

 

 

Hari ini ingin menitipkan sebuah pesan dari Kak Yuli, “Yan, kalau ingin ke luar negeri, udah punya passport, belum?”

 

 

“Belummmm, Kak,” jawabku.

 

 

“Lha, punyai dulu, ntu juga jalan untuk berangkat,” tambah beliau.

 

 

“Namun ada satu pesan, kalau mau ke luar negeri, yang pertama adalah umrah dulu,” bisik beliau. Dan kini terngiang di telingaku. Makkah, Aku Rindu.

 

 

🙂🙂🙂

 

 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s