engkau yang satu
engkau yang satu (Photo credit: gigibiru_kukuning says is Raja Azni)

Apakah gunanya diary? Selain untuk menitipkan catatan-catatan yang kita ingin ia abadi. Catatan tentang senyuman, kepolosan, ketulusan, perhatian, kasih dan harapan. Semuanya ada di dalam diari, kalau kita mencatatnya dengan rapi. Dan hari ini tepatnya pagi ini, diari komplen, dengan mengirimkanku sebait pesan.

Apakah pesan diari? Akan kita saksikan setelah catatan berikut ini:

Alhamdulillah… pagi yang indah dan tidak akan pernah terkalahkan, telah tiba. Adalah pagi ini, ketika aku masih dapat menyaksikan indahnya senyuman mentari yang berseri. Senyuman yang menarikku untuk turut tersenyum pula bersama pagi. Dengan semilir angin yang mulai beraksi, aku pun melangkahkan kaki-kaki ini di atas rerumputan yang masih basah karena embun. Sedangkan kaki-kakiku ini, tidak beralas sedikitpun. Sehingga aku dapat merasakan benar-benar, bagaimana embun yang sejuk itu membasahi telapakku dengan leluasa.

Aku lega, aku bahagia. Aku sungguh-sungguh menghayati moment yang istimewa ini. Karena dalam yakinku, tidak akan pernah terulang lagi suasana yang sama, kapanpun. Meskipun esok mentari masih bersinar dengan senyumannya yang meriah, namun tentu saja berbeda pesonanya, bukan?

Pagi ini, langkah-langkahku mulai menepi di sisi jalan yang ku lalui. Dengan sesekali mengedarkan arah pandang ke sekitaran, aku bersenandung riang di dalam hati. Bersama lantunan dzikir penenang hati, menjadi teman yang akrab sekali. Sungguh kedamaian tidak akan pernah terbeli, walau dengan harga setinggi apapun. Karena kedamaian itu adalah milik hati. Dan hati tidak mempunyai materi. Begitu pula dengan materi, ia tidak akan pernah melekat di hati, sampai kapanpun. Cukup Ilahi Rabbi menjadi Pemerhatinya hingga nanti. Dan ia bersyukur bersama-Nya.

Berpagi-pagi merangkai senyuman, perlu kita laksanai setiap hari. Agar, kelanjutan hari yang akan kita jalani pun bertaburan syukur di dalam hati. Semoga, semoga ia bersemi dengan menebarkan semerbak harum aromanya yang khas.

Pada pagi hari yang indah berseri, tadi subuh-subuh, aku sudah bangun. Kemudian beraktivitas lebih awal dengan semangat yang ku usaha terus terjagai. Karena semangat itu, terkadang lari dan pernah juga pergi. Namun aku tidak ingin kehilangan ia. Maka aku pun merengkuhnya lagi dan lagi. Agar ia tidak jadi meninggalkanku, sendiri. Karena tanpa semangat, aku tidak dapat melakukan apapun, termasuk tersenyum di wajah ini.

Oh, hati. Lalu bagaimana dengan hati? Ia yang menjadi poros hadirnya senyuman. Bagaimana kabar hati saat ini?

Di antara langkah-langkah yang terus ku ayunkan, aku bertanya pada diri. Bertanya padanya berulang kali, hingga ia benar-benar memberikan jawaban. Sedangkan aku, senyum-senyum saja menyaksikan kebingungan yang ia tampilkan pada wajah. Wajah yang tidak dan bahkan belum pernah tersenyum semenjak awal hari tadi. Ia kaku, karena tanpa ekspresi sama sekali. Dan aku selalu punya cara untuk membuatnya tersenyum lagi. Salah satu cara yang aku lakukan adalah dengan menyaksikan mentari, segera. Ya, ketika senyuman mentari itu menebar di wajahku, maka aku pun akan ikut tersenyum.

Sungguh aku mudah terbawa keadaan. Aku sungguh-sungguh ingin bertanya sekali lagi, kepada diri dan hati ini. Tentang ia yang menjadi begini. Padahal sebelumnya, aku adalah pribadi yang tanpa ekspresi sama sekali.

(Eh, engga gitu juga kaliii…. 😀   )

Pagi ini, aku di sini. Hanya ingin melatih jemari untuk bergerak lagi. Karena semenjak beberapa waktu yang lalu, ku lihat ia belum beraktivitas sama sekali. Padahal hatiku sudah berbicara berucap kata. Sedangkan pikirku sedang menelusuri jalan harapan yang siapa untuk ia tempuhi. Kemudian, aku pun membujuk jemari dengan perlahan, agar dapat membantuku untuk merangkai kalimat. Kalimat-kalimat yang dapat menjadi jalan hadirnya isi hatiku.

Dan hasilnya adalah….. catatan pagi tentang langkah-langkahku tadi. Ketika aku bergerak di atas rerumputan yang masih basah oleh embun sebelum ia menghilang dan kembali menjadi awan. Padahal sesungguhnya, saat ini aku masih berada di dalam ruangan dan sedang menyaksikan mentari dari balik tirai. Sehingga belum dapat aku menyaksikan langsung, bagaimanakah senyuman mentari pagi ini? Aku penasaran, dan aku ingin tahu. Sungguh. Makanya, beberapa saat lagi, setelah aku menyelesaikan catatan ini, aku akan bangkit dan berdiri. Lalu aku pun benar-benar merasakan bagaimana sinar mentari itu menerpa wajahku, langsung. Dan pada saat itu, aku sedang mengingat Engkau.  Engkau. Ya, Engkau di sana.

Secangkir kopi ku seduh pagi,
teman sarapan hari ini,
Jadikan Allah curahan hati,
Wahai diri......

(ini isi pesan dari diari yang sudah lelah dengan oretan-oretan yang menghiasinya hampir setiap hari. I’m Sorry, Di…)

🙂😀🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s