Hey, apabila di sini engkau menemukan senyuman, maka inilah wujud dari senyumanku. Senyuman yang ku titipkan pada dunia yang akan aku tinggalkan. Dan semoga engkau terkenangkan aku ketika engkau melihatnya lagi. Mengingatku lagi, setelah aku tiada di sini.

Kita pernah bersama. Namun tentunya tidak selamanya aku ada dan bersamaimu. Bagimu yang pernah bersamaku, aku menitipkannya (senyuman). Agar engkau pun tersenyum setiap kali engkau mengingat aku. Karena itu adalah salah satu mauku. Adakah juga maumu?

Oh iya? Kita berbeda. Begitu orang pernah kata. Ya, kita tidak sama dan tidak akan pernah sama. Namun begitu, kita masih berada di bawah terik mentari yang sama, bukan?

Aku pernah bilang padamu, bahwa aku menyukai sinar mentari. Iya, itu benar. Aku suka Mentari. Bahkan melebihi rasa sukaku pada awan yang menaungiku dari teriknya ketika ia bersinar dan aku sedang melangkah di bawah sinarnya. Aku suka mentari karena teriknya mengantarkanku sampai di tujuan. Walaupun ia mengantarkanku dengan tatapannya saja, aku tetap suka ia. Ya, selama aku masih melihat ada bayangan diriku saat melangkah, maka pada saat itu mentari ada bersamaku. Dan aku yakin bahwa ia sedang tersenyum. So, dari mentari, aku belajar untuk tersenyum pula.

Mentari itu mempunyai energi. Energinya banyak, dan ia tidak sungkan menyebarkan dengan bebas. Aku mengagumi sosok bak mentari.

Dalam hari-hariku, sangat jarang aku tidak menyaksikan sinar mentari. Karena aku tinggal bukan di daerah kutub. Dan lebih tepatnya, aku tinggal di wilayah yang beriklim tropis. Indonesia, negeriku. Aku senang tinggal di sini. Karena cuacanya yang kerap berubah. Terkadang sejuk, ada waktunya panas. Pun tidak jarang dingin. Dingin yang membuat tubuhku menggigil. Namun tak sampai beku. Intinya, aneka iklim di negeriku, membuatku betah bersamanya. Walaupun begitu, kelak pada suatu hari aku ingin berada jauh darinya. Ya, agar dapat ku saksikan pemandangan indah alamnya dari sana. Dari mana, yaa?

Aku suka melangkahkan kaki-kaki ini. Aku suka berjalan-jalan. Aktivitas ini aku lakukan ketika aku rindu pada alam. Karena beberapa tahun terakhir, hampir sebagian waktu siang ku habiskan di dalam ruangan. Dan ketika kesempatan berada di alam tiba, itu merupakan satu kebahagiaan tersendiri bagiku. Selain melangkah di alam, aku senang juga melangkahkan jemari ini di alam lain. Hingga sampai pula langkah-langkahku di sini. Di alam maya. Aha? Di sini, aku dapat menyaksikan pemandangan yang berbeda dari hari ke hari. Di sini pula, aku membangun dunia lain. Aku membangun duniaku, yang ada engkau di dalamnya.

Melangkah dengan tersenyum, ada indahnya. Betul, karena langkah-langkah kaki yang sedang ku ayunkan, menjadi berbeda nuansanya, dibandingkan dengan ketika aku sedang tidak bersama senyuman. Dan di dunia baruku, aku belajar untuk merangkai senyuman, seperti saat ini. Terima kasih untuk menjadi bagian dari duniaku, yaa.

🙂🙂🙂

Best Regards,
~…My Surya…~
We are dealing with a situation that is not all IDEAL so we be a DYNAMIC personal

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s