End of Journey (Ikthitaam-e-Safar)
End of Journey (Ikthitaam-e-Safar) (Photo credit: NotMicroButSoft (Winter Survival – Keran Top Exped)

Baru-baru ini, aku kembali membawa pesan tentang kematian. Ya, pesan kematian. Dan bukan berarti bahwa aku telah mengalaminya, belum saja. Karena buktinya, saat ini aku masih dapat berkunjung di sini untuk pertemuan kita.

Tentang pesan kematian yang sedang ku bawa ingin rasanya aku menguraikannya satu persatu pada lembar hari ini. Lalu merangkai huruf demi huruf untuk menyusun satu dua buah kalimat tentang pesan tersebut.

Di penghujung senja, saat aku kembali membawa pesan tersebut. Senja tadi, dan aku sedang di dalam perjalanan. Aku berjalan di tengah jalan raya, sedangkan di sekelilingku sedang banyak kendaraan yang sedang melintas. Namun anehnya, tiada suara klakson yang meneriakiku. Oh, aku seakan tanpa raga. Haha.

Dengan membawa nafas yang masih berkejaran antara tarikan dan hembusannya, ku usaha menggerakkan jemari ini. Beberapa saat setelah kejadian itu berlangsung. Ya, aku mengusaha untuk meraih sebuah pulpen dan buku diari yang semenjak tadi pagi mereka berdua bersenyuman di dalam tas yang aku bawa. Dan hingga paragraf ini terhadirkan, pesan tentang kematianlah kiranya yang akan menghiasi beberapa lembar diari hari ini. Pesan yang akan senantiasa membayang-bayang di dalam ingatanku, sampai aku mengalirkannya dalam sebuah catatan, meski singkat.

Aku bersyukur, alhamdulillaahirabbil’alamiin…

Engkau merengkuh ringkihnya tubuhku Ya Allah,

Engkau selamatkan ia dengan Kekuatan-Mu Ya Rabb,

Tubuh hamba yang hampa berharap dapat menjadi sarana untuk mengabdi kepada-Mu di sisa-sisa kebersamaannya dengan jiwa ini.

Ia yang tidak jadi terpental,

Ia yang gagal bersentuhan dengan beberapa kendaraan yang sedang melaju kencang,

Ia yang tidak Engkau izinkan mendekapi trotoar tempatnya berdiri kala itu

Oh… sungguh pemandangan yang sangat tragis, ketika aku coba memvisualisasikan posisiku ketika itu. Aku yang merasakan ringan, tanpa raga. Berdiri tegak di antara kendaraan yang melintas di jalan raya. Sedangkan aku, dalam kondisi setengah sadar. Dan saat aku benar-benar dalam kesadaran penuh, terpesona aku, aku terpana. Aku takjub sungguh. Dan bagiku, pengalaman seperti demikian tidak akan pernah terlupa, karena ia adalah pengalaman pertama. Oleh karena itu, aku pun menitipkannya di sini, agar ingatanku tentang pesan kematian dapat kembali hadir kapan saja aku menemukan bait-bait ini. Insya Allah

Sehingga aku perlu dalam kondisi sadar setiap saat, dan berhati-hati dalam melangkah. Langkah-langkah yang terayun, merupakan langkah-langkah menuju kematian dan semakin dekat saja ia. Bahkan lebih dekat dari pada satu detik yang akan datang. Karena kematian dapat saja terjadi saat ini, sekarang. Wallaahu a’lam bish shawab.

Oleh karena itu, ingatlah wahai diri, pada kematianmu yang sangat dekat itu. Kematian yang ketika ia datang dan aku mengalami, harapku dalam kondisi husnul khatimah, Aamiin ya Rabbal’alamiin. Sedangkan tentang kapan dan di mana, aku tidak pernah mengetahuinya. Begitu pula dengan engkau, ya? Lalu, siapakah yang sedang berdekatan dengan kita ketika itu? Semoga, saat kita sedang berakraban dengan Allah, yaa.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s