Saat mengamati lokasi tempat tinggalku saat ini, aku sangat senang. Karena aku tinggal di lingkungan yang asri, segar dan masih bebas dari polusi. Ya, sama sekali bahkan tidak ada polusinya. Aku tinggal di daerah perbukitan. Dekat dengan alam. Dan ada banyak pepohonan di sekelilingku. Namun, tidak ada sungai, teman. Kami, aku, sudah terbiasa dengan lingkungan tempat tinggal yang seperti ini. Sehingga tidak asing lagi.

Di sini, aku mula belajar mengenal arti kehidupan.

Di sini, kami sekeluarga berada. Di sebuah rumah yang penuh dengan kedamaian. Ada Ayah, Bunda, adik, kakak, bibi, pun sanak saudara. Kami hidup harmonis dan penuh dengan kekeluargaan. Konon kabarnya, kami adalah keluarga yang sangat besar. Namun untuk saat ini, kami belum dapat lagi berkumpul bersama, seperti sebelum dan sebelumnya lagi. Karena beberapa bagian dari keluarga besar kami, memilih untuk bertempat tinggal di lokasi yang lain. Walaupun demikian, kami tetap keluarga, selamanya. Dan mempunyai keluarga adalah bagaikan kami mempunyai kekayaan yang sesungguhnya.

Di sini, aku beserta keluarga yang ada, beraktivitas bersama. Layaknya keluarga-keluarga lainnya, kami mempunyai waktu dua puluh empat jam sehari semalam.

Dari sini, aku dapat menyaksikan langsung, bagaimana mentari menunjukkan senyum pertamanya kepada alam. Ya, dari sisi jendela yang menghadap ke arah timur, pemandangan tersebut dapat terlihat. Dan aku seringkali tidak mau menyiakan kesempatan berharga ini. Selalu saja aku menyempatkan waktu untuk mengintip dari balik tirai berwarna krem yang sedang menjuntai di balik jendela. Karena bagiku, memandang senyuman mentari apalagi pada pagi hari, seperti mendapatkan sapaan hangat darimu, teman. Engkau mentari di hatiku.

Sebaliknya, apabila ingin menyaksikan senyuman mentari yang beberapa saat lagi akan tenggelam, maka aku hanya perlu melangkah beberapa langkah saja. Lalu berpindah ke sisi jendela yang menghadap ke arah barat. Kemudian ku buka sedikit saja atau keseluruhan lembarannya. Ku geser, agar mendapatkan pemandangan yang lebih baik dan sempurna. Dengan menyaksikan senyuman mentari pada sore hari, ibaratnya aku sedang memperhatikan engkau yang dengan berat hati, menyampaikan salam perpisahan terhadapku. Sungguh, keharuan menyelimuti ruang hatiku, ketika aktivitas ini aku lakukan. Namun demikian, aku tetap tidak ingin kehilangan kesempatan terakhir kita. Maka aku pun meluangkan beberapa menit waktu sore untuk aktivitas ini. Menatap mentari yang segera tenggelam.

Sore hari bersama warna awannya yang terkadang oren, terkadang ping, terkadang biru muda, terkadang biru tua, bahkan kelabu, serta putih, ku saksikan saja dengan saksama. Ya, ketika mentari bersiap tenggelam, ketakjubanku akan meninggi dengan pesona alam yang rupawan.

Tentang aktivitasku di sini, ngapain aja? Selain menatap sinar mentari dari balik tirai jendela pada pagi dan sore hari? Engkau bertanya padaku.

Hmmm… ada lagi. Ada banyak aktivitasku di sini, teman. Begini kisahnya. Aku suka berjalan-jalan, termasuk turun naik tangga. Aku senang melangkah lagi, dari ujung jalan hingga ke lokasi tempat tinggal. Dan halaman yang lumayan luas, merupakan lapangan tempat ku berlatih melangkah lebih banyak.

Tentang aktivitas di sekitar halaman, tentu lebih menarik kiranya. Dengan halaman yang luas, kami memanfaatkannya untuk berkreasi. Kami bertanam beberapa tanaman kecil seperti bebungaan yang berwarna-warni, tanaman rempah-rempah seperti kunyit, jahe, lengkuas, daun serai, dan sebagainya. Intinya, kami berkebun. Hoho.

Oia, dengan halaman yang luas, serta ada pepohonan di sekitarnya, tentu dedaunan berjatuhan, bukan? Dan aktivitas menyapu dedaunan di halaman adalah rutin aku lakukan pada pagi dan sore hari. Itu kalau tidak hujan. Karena kalau hujan, tidak. Hanya saja, setelah hujan reda, maka aku pun beraksi lagi. Karena aku senang menitipkan jejak-jejak kaki ini di atas tanah yang basah. Rasanya seperti menitipkan sebait pesan pada sahabat yang sedang berkunjung, setelah kami lama tak jumpa. Bersama senyuman, aku pun menepikan dedaunan seraya bersenandung riang, lalalalaaa…. nanananaaa…. sungguh bahagia.

Berbeda halnya, kalau aku sedang liburan ke daerah lain. Maka aku tidak akan berada di rumah untuk sementara waktu. Dan pada saat itu, aku pasti merindukan beraneka aktivitasku. Aku rindu bersalaman dengan tanah-tanah yang basah saat menitipkan beberapa bibit bunga di dalam sebuah pot. Aku rindu menyiraminya dengan air yang bening. Aku rindu merawat dan menatanya, agar bebas dari rerumputan di sekitar. Aku rindu aktivitas memandang mentari pagi yang penuh senyuman. Aku rindu semua itu.

Dan saat ini, adalah puncak kerinduanku. Ya, ketika ingatanku semakin meninggi terhadap lingkungan tempat tinggal kami. Lingkungan yang belum semuanya aku ceritakan padamu, teman. Karena masih banyak lagi yang perlu engkau tahu, tentang kondisinya. Namun kini, dapatlah kiranya engkau mengikutiku untuk meneruskan kisah tentang lingkungan tempat tinggalku, berikutnya. Di sini, masih di sini.

Dan aku masih sama dengan yang dulu. Ya, aku adalah seorang perempuan.

Tujuh tahun kemudian… Bandung

Di sini, aku tinggal tidak jauh berbeda dengan lingkunganku yang sebelumnya. Di sini, semenjak lebih kurang tujuh tahun yang lalu, aku berada. Di lokasi yang ada sedikit polusi karena aku tinggal tidak jauh dari jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang hampir setiap saat. Sungguh ramai. Ai, kondisi yang berbeda sangat dengan lingkungan sebelumnya. Di sini, aku beraktivitas, kini.

Di sini, aku teruskan belajar mengenal arti kehidupan.

Di sini, aku beraktivitas tidak lagi di halaman, untuk berkebun, pun menyapu dedaunan yang bertaburan di halaman. Karena halaman di lingkungan tempat tinggalku kini, sungguh minimalis. Sehingga untuk beraktivitas, aku menghabiskan hampir seluruh waktuku di dalam ruangan. As my dream. My dream is doing activities at home. Sehingga, menyaksikan sinar mentari setiap pagi, di sini, merupakan sebuah nostalgia bagiku. Dan aku suka. And above all, I wish to be an author. Although that is still as my dream. But, I wish continue it. Karena aku ingin menulis buku, of course.

“Tentang apa?,” Engkau bertanya.

“Tentang mentari yang tersenyum,” jawabku.

Di sini, aku melanjutkan mimpi-mimpiku. Di sini, aku bersua dengan banyak pihak yang menjadi jalan bagiku untuk meneruskan cita cinta dan mimpiku. Di sini, aku beraktivitas lebih semangaaaat… !😀 Karena di sini, aku menemukan keluarga yang sebagaimana keluargaku sebelumnya.

Di sini, aku pun berjumpa denganmu, teman. Engkau yang merupakan bagian dari mimpi, cita dan cintaku. Engkau yang sebelumnya pernah aku bayangkan akan hadir dalam hari-hariku. Engkau yang mungkin saja belum pernah bertemu denganku, namun engkau sangat berarti bagiku.

Di sini, aku berjuang untuk lebih mengerti arti kehidupan. Karena di sini, aku sedang melanjutkan kehidupanku, bersamamu. Engkau mentari di hatiku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s