Saat kami bermain bersama
Saat kami bermain bersama, February 22nd, 2009.

“Oh, Ibu pikir mau ngajar, jadi guru TK gitu, 😀 ,” tanggap seorang Ibu. Saat kami bertemu di dalam perjalanan, pada suatu pagi. Ketika aku sedang menuju ke tempat beraktivitas yang bukan ke sekolah taman kanak-kanak.  Semoga menjadi doa. Bisikku.

He.

Sedangkan aku hanya mampu tersenyum saat menyimak kalimat yang beliau sampaikan tentang aku. Lalu bertanyaku dengan diri sendiri, “Apakah pantas aku menjadi seorang guru taman kanak-kanak? Dan bagaimana bisa, beliau menilaiku sebagai seorang guru TK.”

Ha.

Dalam bahagia yang menerpa ruang hati, aku tersenyum lagi. Seraya mengingat-ingat kalimat yang beliau sampaikan, hingga saat ini. Dan ingatan tersebut akan terus menyertaiku, sampai aku beraikan ia dalam barisan kalimat-kalimat, seperti saat ini.

Hi.

Untuk menjadi guru, memang merupakan salah satu citaku semenjak dulu. Namun cita itu aku simpan saja di ruang hatiku. Dan tidak pernah lagi aku buka-buka, sampai akhirnya, saat ini pun tiba.  Ketika aku membenarkan kalimat yang Ibu-ibu separuh baya tersebut sampaikan, padaku.

Aku pernah ingin menjadi guru. Lha, bagaimana kalau aku memang tertakdir menjadi guru taman kanak-kanak pada suatu hari nanti? Membayangkannya, aku belum mampu. Dan dengan memandang selembar potretku bersama seorang belia (yang pada waktu itu) merupakan seorang murid taman kanak-kanak, maka aku pun percaya dan yakin, bahwa aku mampu menjadi seorang guru TK.

Ho.

Betul, betul. Aku ingin menjadi jalan sampaikan ilmu dan pengalaman kepada sesiapa saja, selain aku. Termasuk dalam hal ini adalah dengan menjadi seorang guru taman kanak-kanak. Karena beliau-beliau adalah penyampai ilmu, pengalaman dan beraneka ekspresi terhadap murid-murid belia.

Dan aku senang bersama anak-anak. Ah, kapan ya, aku dapat menjadi guru taman kanak-kanak?

***

Aku? Aku senang bersama anak kecil. Dan terkadang aku bertingkah seperti anak kecil. :D  Ya, terkadang dan tidak jarang, aku begitu mudahnya berekspresi. Sebagaimana halnya anak kecil yang leluasa berekspresi, begitulah aku. Kadang-kadang.

Pernah pula beberapa waktu yang lalu, seseorang bilang, bahwa aku bukan anak kecil lagi. Dan pada saat itu, aku pun berpikir, seraya bertanya, “Benarkah demikian adanya? Benarkah aku bukan anak-anak lagi?” Karena pada saat itu, aku belum menyadari. Bahwa ternyata aku telah bukan anak-anak lagi.

Dan saat itu, merupakan terakhir kalinya aku merasa bahwa aku adalah seorang anak-anak. Pada waktu usiaku sudah lebih dari dua puluhan tahun. Terlambat, mungkin untuk menyadari diri. Namun aku percaya, walaupun aku bukan anak-anak lagi, aku masih akan menjadi diriku. Ya, diriku yang pernah menjalani masa sebagai seorang anak-anak. Dan aku tidak mengetahui dengan pasti, kapan terakhir kali aku mengingat bahwa aku pun pernah menjadi anak-anak? Nah! Ketika akhir waktu itu datang, maka pada saat itu pula aku akan berhenti berekspresi. Hmmm.

***

Bersama ekspresi, hidup yang sedang kita jalani menjadi lebih terasa hidupnya.  Berekspresilah dalam bahagia, pun sebaliknya. And enjoy it. Karena kita akan kembali tertawai ia, kelak. Saat kita menemuinya lagi, ia yang telah menjadi kenangan.

“Engkau penuh dengan ekspresi,” begini bisik seorang teman dekatku, di sela-sela waktu yang kami jalani bersama.

“Engkau si wajah tenang,” begini gelaran yang seorang teman lainnya sampaikan padaku, beberapa tahun yang lalu.

Oh… sungguh bertolak belakang antara keduanya, bukan? Dan aku yakin, aku tetaplah diriku. Walaupun sebelumnya, aku adalah si wajah tenang. Yang kemana-mana membawa wajah tanpa ekspresi yang begitu berarti. Sedangkan saat ini, aku menemukan jalan untuk berekspresi lebih banyak lagi. Yaitu dengan meluahkan segala isi dan suara hati dalam bentuk ekspresi.

I can smiling, laughing, crying, and other expressions. Then I found myself with them all. 

Walaupun aku bukanlah guru TK, namun aku seakan menemui banyak ekspresi anak-anak dalam waktu-waktu yang aku jalani. Saat aku bersama engkau.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s