Oooops! Tersenyumlah...
Oooops! Tersenyumlah…

Dengan apakah aku dapat melukiskan rasa syukur ku yang ada di dalam hati, saat ini? Kecuali dengan senyuman yang ku coba ukir pada lembaran wajahku. Wajah yang masih bersedia untuk tersenyum, walaupun sesungguhnya ia sedang alami kepayahan atas lelahnya. Ah, tak guna lelah engkau perlihatkan. Sekiranya jiwamu rasakan kebahagiaan atas semua yang engkau alami. Maka melangkahlah lagi, dan bersegeralah untuk melukis syukur dari dalam jiwamu.
Jangan pernah menukarkan akidah dengan setumpuk rupiah. Ya, apabila telah tiba saat beribadah, bersegeralah! Tinggalkan segala yang dapat menjadi penghambat dalam beribadah. Lalu, menghadaplah kepada Allah, Rabbmu yang Maha Pemurah. Insya Allah, ketenangan akan engkau alami, dengan cara yang lebih mudah. Sungguh, indah.

Tidak banyak cara yang dapat engkau lakukan untuk melukiskan perasaan syukur. Hanya dengan segera beribadah. Ya, karena memang demikianlah tujuan kehadiranmu di dunia yang sementara ini. Dalam rangka menyembah, beribadah dan mengabdi kepada-Nya, saja. Sedangkan yang lainnya, hanya menjadi jalan untuk sampaikan engkau pada cita luhurmu, untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu, saat engkau kembali teringatkan akan tujuan engkau berada di sini, maka engkau tidak akan bermudah-mudah menyampaikan bahwa  engkau sedang terlelah. Engkau pun tidak akan bersegera terebahkan lalu mendekat dengan tanah. Karena engkau masih mempunyai kekuatan di dalam jiwamu. Engkau ingin berubah.

Tidak ada seorangpun yang dapat merubah keadaanmu, kalau engkau sendiri ternyata tidak berjuang untuk berubah. Sebagaimana pula Allah sangat jelas mengingatkan di dalam Firman-Nya, Q.S Ar Ra’d [13:11) : “For each one are successive [angels] before and behind him who protect him by the decree of Allah . Indeed, Allah will not change the condition of a people until they change what is in themselves. And when Allah intends for a people ill, there is no repelling it. And there is not for them besides Him any patron.”
–>> “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

So, apakah yang sedang engkau lakukan saat ini dalam rangka mengubah keadaan dirimu? Keluargamu, pun beliau-beliau yang engkau sayangi? Apakah engkau sedang berusaha untuk menjadi seorang yang tidak mudah berkata, “Aku lelah. Aku lemah.” Yah. Karena sesungguhnya, engkau kuat, kalau engkau yakin, bahwa engkau mempunyai kekuatan jiwa walaupun benar adanya, ragamu lelah dan lemah. Bahkan engkau tidak akan dapat membayangkan sama sekali, bahwa engkau sesungguhnya mampu menjadi lebih dari yang engkau harapkan, kalau engkau percaya, bahwa Allah senantiasa ada bersamamu. Ya, Allah Yang Maha Mengetahui keadaanmu, tentu sangat senang, kalau engkau mau bergerak. Dan kembali lagi kepada dirimu, sendiri. Apakah ia mau berusaha dan berjuang untuk merubah keadaannya yang saat ini? Agar ia pun dapat menjadi seperti yang ia cita sebelum ini?

Mungkin sebagian kita, sangat mudah melakukan proses untuk mengubah orang lain. Ya, salah satunya adalah dengan mengoreksi, mengkritik dan memberikan input serta peringatan kepadanya. Kita seleksi berbagai kekurangannya, karena kita inginkan ia menjadi dan melakuka kesempurnaan… Sedangkan kita, melupakan diri kita yang sebenarnya pun tidak sepenuhnya sempurna. Ya, kita pun mempunyai kekurangan. Lalu, mengapa begitu mudahnya kita mencari-cari kesalahan orang lain, kalau sesungguhnya kita pun tidak pernah tidak salah? Ah…

Pernah aku bertanya pada diriku, saat ia menerima penyalahan. Lalu, ia pun mengakui dan segera mengintrospeksi diri. Sedangkan terhadap sesiapa saja yang memberikan masukan padanya, ia segera mencatat barisan demi barisan kalimat yang ia terima. Tentu saja agar ia dapat membacanya lagi, pada waktu-waktu yang lain. Dan kembali mengintrospeksi dirinya. Agar, ia tidak alami hal yang sama untuk ke dua, ke tiga, bahkan ke sekian kalinya. Karena ia merasakan dengan sangat, bagaimana kondisi yang ia alami saat melakukan introspeksi. Butuh kesadaran berlebih, perlu komunikasi yang jujur dengan diri sendiri. Agar, tidak ada keinginan untuk kembali menyalahkan orang lain. Ya, begitu.

Ada yang senang, saat ia menerima masukan dari orang lain. Pun ada yang mengatakan bahwa ia lelah karena keseringan menerima masukan. Ia letih atas apa yang ia terima. Hmm… mungkin karena ia belum menyadari dirinya yang sebenarnya. Makanya, keletihan dan kelelahan tersebut ia rasakan. Dan terhadap pemberi masukan, ia pun tidak mau berhubungan lagi. Ia menjauh, jauh sekali. Hingga pada waktu yang berikutnya, ia pun menyadari, bahwa pemberi masukan tersebut sangat baik padanya. Ya, karena dengan adanya masukan yang sampai padanya, pada waktu yang telah berlalu itu, maka ia dapat menjadi dirinya saat ini. Ia pun bersyukur, seraya berterima kasih pada pemberi masukan. Seraya merangkai janji, untuk menjadikan beliau sebagai bagian dari dirinya saat ini. Dan janji yang ia rangkai tidak lagi bernama janji. Karena ia telah membuktikan dengan jelas. Ia berikan bukti terima kasih, dalam rangkaian syukurnya setiap hari. Ia ungkapkan bukti terima kasih, bersama sikapnya yang terbaik. Dan ia sedang melukis syukur melalui senyuman yang ia tebarkan lebih ringan. Ia sekarang sangat senang berhubungan dengan beliau-beliau yang begitu peduli dengannya.

Sehingga, kritik, masukan, saran dan apapun namanya, ia tampung dengan mudah di dalam ruang hatinya yang semakin lapang. Ia sekarang, bukan lagi dirinya yang dulu, yang tidak menerima keadaan  serta keadaan. Kini, ia adalah sebuah jiwa yang modern. Jiwa yang terbuka untuk berbagai masukan. Jiwa yang siap melangkah lagi, walaupun ia alami lelah. Semua, lillahi ta’ala. Makanya ia rasakan lega dalam berbagai suasana. Dan aku, ingin menjadi demikian adanya, seperti beliau yang sekarang berjaya. Berjaya karena jiwanya luas, pikirannya merdeka. Sedangkan raganya, bugar. 😀

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s