Raining Man (Flood 2. Juni 2013)
Raining Man (Flood 2. Juni 2013) (Photo credit: Michael Heichler)

Ciza. Sebuah nama yang indah. Dan aku suka.

Kami berkenalan semenjak beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal tiga puluh satu Mei tahun 2013. Mula perkenalan yang tidak terduga dan tanpa rencana,  bagiku sangat berkesan. Hingga kami pun mengikat perjanjian untuk meneruskan pertemanan. Persahabatan, begini kami menamakannya.

Sebagai seorang sahabat yang baru bagiku, Ciza menitipkan sebuah pesan. “Teruskan perjalanan, ya. Hingga kelak kita pun bertemuan,” bisiknya di telingaku. Melalui percakapan yang kami rangkai, tidak berhadapan. Ya, karena kami memang belum pernah bertemuan. Berhubung perkenalan kami, lewat tulisan.

Ciza. Nama yang mengingatkanku pada sebuah ekspresi, hingga bermunculannya senyuman. Seperti ekspresi ini, “Cheese… (kami mengucapkan satu kata yang sudah tidak asing itu, bersamaan. Seraya menempelkan kedua telunjuk di pipi kiri dan kanan. Dan sebelum berekspresi demikian, terlebih dahulu kami telah mengisyaratkan bahwa, setelah kata Cheese selesai kami ucapkan, maka kami perlu mengembangkan senyuman). Ah, Ciza yang lucu. Kenangku pada masa kami bersapaan lewat susunan kata dalam tulisan.

Ciza tinggal di pulau Sumatera. Tempatnya, bersebelahan dengan kota kelahiranku, Solok, Sumatera Barat. Entah di mana lokasi pastinya. Ciza belum memberitahukan padaku. Karena menurutnya, akan tiba suatu masa ketika Ciza menjelaskan padaku, tentang lokasi dan tempat tinggalnya.

“Lagi pula, tidak terlalu berarti lokasi dan tempat tinggal, saat kita telah saling bersama dalam jiwa yang satu, maka aku ada di dalam hatimu,” ulas Ciza. Saat aku bertanya di antara percakapan yang kami rangkai, “Di manakah Ciza bertempat tinggal?”

“Boleh, juga,” komentarku.

Sedangkan Ciza pun meneruskan merangkai beberapa baris kalimat untukku. Yang intinya adalah tentang pengajuan untuk menjadi sahabatku. Dan aku menerima dengan senang hati. Begitu pula dengan Ciza yang menanggapi dengan ekspresi penuh senyuman. Ia tampaknya berbahagia. Walaupun tidak dapat ku lihat senyumannya yang menebar. Hanya dapat aku bayangkan.

Beberapa waktu berlalu, kami habiskan untuk saling bertukar ekspresi. Aku yang sebelumnya sedang asyik dengan aktivitasku, menjadi tertarik dengan bahan percakapan yang Ciza sampaikan padaku. Tentang persahabatan.

Sempat pula Ciza mengajukan sebuah pertanyaan terhadapku, begini, “Menurutmu, sahabat itu siapa?”

Lalu, aku pun menjelaskan sesuai dengan pendapatku.

“Menurutku, sahabat itu adalah diri kita dan selain diri kita, tidak peduli siapakah ia. Baik manusia, benda mati ataupun makhluk hidup lainnya yang ada di alam ini. Dan bagiku, alam adalah sahabat terbaik. Yang di dalamnya terdapat manusia, benda-benda mati, pun makhluk hidup lainnya. Termasuk engkau, Ciza. Engkau sahabatku, karena engkau ada di alam, bukan?,” aku mengajukan tanya pada Ciza.

Ciza pun tersenyum. Aku mengetahui dari sebuah lambang yang ia tampilkan di antara rangkaian kalimat berikutnya yang ia sampaikan padaku, seperti ini, “Aku setuju denganmu. Alam dan seisinya adalah sahabat kita.🙂 Termasuk mentari yang bersinar pun hujan yang turun ke bumi. Mereka semua adalah sahabat yang baik.”

Demikian beberapa percakapan antara kami, pada awal perkenalan. Dan sampai saat ini, kami belum bertukar kalimat lagi.  Karena Ciza belum pernah lagi muncul dengan senyumannya yang membuatku terkesan. Sedangkan namanya, akan selalu aku ingat. Ciza.

Ciza.  Aku bahagia mengenalinya. Walaupun sampai saat ini, aku belum mengetahui, siapakah Ciza yang sesungguhnya? Apakah ia perempuan atau laki-laki? Dan usianya berapa, ya?

Hmmm… tidak habis pikirku terhadap Ciza, yang baru sekali menyapaku. Sehingga, aku pun menitip namanya di dalam salah satu lembaran prasasti kehidupanku. Agar pada suatu hari nanti, aku kembali teringatkan pada Ciza. A soulmate since last day of May 2013.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s