Berbinar cerah terang benderang adalah sinar mentari ketika siang. Namun kerlipan yang bersambungan adalah gemintang ketika malam. Hei, lihatlah teman, kilaunya tak berkesudahan. Sehingga membuatku tidak henti memandang. Ya, walaupun sudah ku coba mengatupkan indera penglihatan untuk beberapa waktu lamanya, ia kembali membuka. Dan apa yang terjadi setelahnya? Ya, bintang-bintang itu membuatnya pun berkedipan tiada henti.

Sungguh nuansa alam yang indahnya meninggalkan kenangan. Ada pesan yang ia sampaikan pada sesiapa saja yang menyisihkan waktu untuk memperhatikannya, pun peringatan. Bahwa malam, tidak akan selamanya. Karena esok, tentu mentari akan bersinar lagi.

Mentari yang akrab dengan pagi, membuat ingatan ini segera beranjak dan bangkit dari duduknya. Lalu, melayanglah ia hingga sampai padamu, teman. Dan saat ini aku mengingatmu yang sedang tersenyum dengan sempurna. Senyuman secerah mentari pagi yang sungguh membahagiakan sesiapa yang memandangnya. Begitu pula dengan aku yang sedang menitipkan ingatan terhadapmu. Engkau mentari di hatiku.

Sungguh, sungguh, tidak mudah melupakan. Apalagi terhadap teman-teman yang pernah menyisipkan kenangan pada beberapa lembar catatan kehidupan kita. Dan kenangan tersebut membuat kita segera berseru, yuhuu… aku sungguh terharu. Haru yang menepi di sudut mata. Ia menyisakan deru dari dalam hati. Ia meluahkan rasa yang semenjak lama tersimpan rapi. Dan rasa itu bernama rindu. Rindu cerah senyumanmu, itulah aku saat ini. Senyuman yang penuh dengan pesan, kesan dan kenangan.

Pernah pada suatu hari kita bersama, aku melihat wajahmu nan lugu. Wajah yang walau tidak engkau ekspresikan, namun dari sana aku membaca beberapa baris kalimat. Kalimat yang tidak akan pernah mampu engkau sampaikan pada sembarangan orang. Dan termasuk juga padaku. Itu terjadi, kalau engkau tidak mengenalku. Namun, apa yang terjadi setelahnya? Akhirnya engkau pun berbagi dengan aku. Engkau berkisah tentang raut wajahmu nan lugu. Wajah tenang tanpa ekspresi itu, sesungguhnya menyimpan banyak kenangan terdahulu. Kenangan yang engkau bawa saat menemuiku. Dan setelah kita berjumpa, bersapa, dan bersama, engkaupun melimpahkannya dengan mudah. Engkau curhati aku dengan segala yang engkau ingin luahkan. Engkau sampaikan padaku, tentang berbagai hal yang engkau ingin melepaskannya. Dan aku suka ekspresi lugumu, walau pun tanpa kata-kata itu. Apalagi setelah engkau bersuara, sungguh, aku ingin menyimaknya lagi, saat ini. Namun apa daya, engkau jauh di mata.

Dan kini, saat kedua mataku sedang asyik dengan pemandangan cakrawala di atas sana, dapat ku menyaksikan kerlipan matamu pula. Ya, kerlipan bintang-bintang, sedang mewakili kerlipan mata indahmu.

Kini, kita sedang berbicara tanpa suara. Kita sedang bersapa tanpa sepatah kata. Karena kita sedang asyik dengan alam yang mampu menjadi jalan membukanya mata kita lebih lama. Sehingga kita tidak segera menutupnya rapat, namun bahagia saat ia terjaga. Ya, sampai waktunya tiba, mentari pun mengalahkan benderang bola mata kita. Menyilaukannya untuk beberapa masa, sampai bintang-bintang bermunculan lagi, di langit malam. Seperti saat ini.

:::Mengagumi Bintang dan Langit Malam:::

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s