Bandung City At Night
Bandung City At Night (Photo credit: Wikipedia)

Hei, hari ini adalah seorang temanku yang bilang, bahwa ia merindukan Amak. Amak adalah orang tuaku yang perempuan. Dan temanku itu adalah Siti, temanku yang perempuan pula. Lha, mengapa Siti merindukan Amak??

Begini kisahnya. Siti, adalah salah seorang temanku pada masa ngekost, di kost-kostannya Bapak Darsono di Bandung. Dan kini, kami sedang tidak berada di kost-kostan yang sama. Namun demikian, antara aku dan Siti masih terhubung percakapan. Dalam berbagai kesempatan terbaik, kami pun bertukar perasaan. Termasuk saat ini. Ketika kerinduanku pada Amak bertaburan, begitu pula dengan Siti, rupanya. Beliau bilang, kangen Amak. Nah, mengapa Siti merindukan Amak??

Begini kisahnya. Pernah dan bahkan sering, dalam berbagai kesempatan aku bertukar suara dengan Amak melalui nada suara, saat kami satu kost-kostan dulu, maka Siti pun kebagian. Yach, karena Siti pernah bertemu dengan Amak, dan beliau tahu bagaimana Amakku. Sehingga, semenjak pertemuan beliau berdua untuk pertama kalinya, maka beliau pun akrab dengan Amakku. Oh, Siti.

“Kelak, kapan-kapan kita berjumpa lagi, ya, dan dapat kita bertukar suara dengan Amak lagi. Xixiixiii,” begini ulasku pada Siti dalam percakapan kami kali ini.

Dalam hematku, Amak adalah sahabat unikku yang sungguh membuatku berbahagia saat kami bertukar suara. Pun beliau adalah orangtuaku yang sangat aku banggakan. Karena, Amak adalah perempuan pertama yang meneladankan padaku tentang kehidupan. Dan dari beliau pula, aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Aku belajar dari beliau, bagaimana cara terharu. Aku belajar dari beliau bagaimana cara tersenyum. Aku belajar dari beliau bagaimana cara menyikapi keadaan. Dan beliau mengajarkan serta meneladankan banyak hal padaku tentang perempuan. Karena beliau adalah perempuan. Beliau adalah guruku saat berekspresi. Sehingga ekspresi bagaimanapun yang aku ekspresikan, pada saat itu pula aku mengingat Amak, guruku.

Amak bagiku, tidak akan pernah tergantikan dengan siapapun juga. Karena bagiku, beliau adalah satu-satunya perempuan yang mempunyai kemiripan denganku. Dan kami adalah bagian yang tidak akan dapat terpisahkan dengan apapun, sampai kapanpun. Walaupun saat ini, kami tidak lagi bersama, seperti ketika aku berada di rahim beliau, dulu. Namun kini, masih dan senantiasa ku merasakan eratnya dekapan kasih dan sayang beliau terhadapku.

Bagiku, Amak adalah pesona indah seorang perempuan di dunia. Sehingga beliau adalah perempuan tercantik di dalam duniaku. Amak adalah bidadari yang mengerlingkan mata lentiknya di hadapanku, saat aku mengingat beliau. Beliau hadir kapanpun aku mengingat beliau.

Amak, sering mengajarkanku tentang perubahan dalam kehidupan. Beliau memberikanku nasihat dan pesan-pesan yang sangat berharga. Beliau sangat pandai dalam menjelaskan bahan pelajaran tentang kehidupan, terhadapku. Hingga pada pagi hari tadi, aku masih ingat. Bahwa beliau sempat berpesan, dan mengingatkanku lagi tentang aktivitas yang tidak boleh aku tinggalkan, yaitu membaca doa, berikut:

“Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi  wa laa fissamaa’i  wa huwassamii’ul ‘aliim. Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan namaNya sesuatu yang ada di bumi dan di langit ini tidak akan celaka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Amak bagiku, adalah lentera yang bercahaya saat kegelapan ku alami. Beliau menjadi jalan cerahkan hariku lagi, saat mendung benar-benar menggantung di langit hati. Dan beliau tiada pernah henti mengenalkanku pada Illahi Rabbi. Baik saat aku jauh maupun ketika ada berada di dekat beliau. Beruntung aku mempunyai orang tua seperti Amak, seorang perempuan yang baik hati. Sungguh, aku bahagia dalam penjagaan dan pemeliharaan beliau yang penyayang. Dan aku ingin menjaga beliau beliau, ada. Ya Allah… terangi hari-hari kami dengan sinar keAgunganMu, dalam berbagai keadaan. Agar kami dapat memetik hikmah dan memperoleh bahan pelajaran dalam kondisi yang bagaimanapun. Sehingga kami dapat bersabar serta bersyukur kepada-Mu. Amiin ya Rabbal’alamiin.

Amak ku lihat, tersenyum dengan riang. Beliau berekspresi dengan ringan bersama alam. Beliau meneladankan padaku, untuk menikmati bagaimanapun cuaca hari ini.

“Saat mendung menghiasi alam, perhatikanlah dengan baik. Dan yakinlah, bahwa setelahnya akan diiringi dengan kehadiran mentari yang tersenyum. Maka, tersenyumlah ketika mendung,” bisik beliau.

Begitu pula dengan keadaan alam bersama terik panas mentari, nikmatilah jua. Karena beberapa saat kemudian gerimis kan menyapa dengan ramainya. Intinya adalah, usah terlalu larut dalam suasana. Percayalah bahwa semua akan berganti dan berubah.

Amak bagiku, sungguh penuh dengan pengertian. Beliau memahamiku, bahkan lebih dari pemahamanku terhadap diriku sendiri. Karena beliau mengenalku lebih awal, sebelum aku mengenal diriku. Bahkan beliau telah ada, sebelum aku ada. Dan aku tidak akan pernah ada, tanpa beliau yang menjadi jalan adanya aku. Aku rindu, beliau. Amak. Lalu, bagaimana dengan Ayah?? Ayah.

Ayah adalah pribadi yang bagiku penuh dengan empati. Beliau menyampaikan kepada kami bagaimana semestinya kami. Dan aku belum pernah menemukan seorangpun laki-laki di dunia ini, sebagaimana Ayah. Ya, karena beliau adalah satu-satunya laki-laki yang sangat berarti bagiku. Tanpamu Ayah, tiadalah aku di sini, saat ini.

Ya, aku tidak akan pernah mengenal Siti, seorang perempuan yang menjadi jalan bagiku untuk merangkai catatan tentang Ayah dan Amak. Dan aku menyadari bahwa aku bukanlah siapa-siapa tanpa beliau semua. Termasuk engkau, teman. Engkau yang menjadi jalan bagiku untuk masih berada di sini hingga saat ini.  Karena aku ingin membagi kisahku denganmu. Kisah tentang beliau-beliau yang sangat berarti dalam kehidupanku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s