Jelajah Jiwaku
Jelajah Jiwaku

Ia telah tenang di sana. Tersenyum dengan menawan. Karena ia telah sampai pada tujuannya. Tujuan yang menjadi  cita cintanya. Dan mungkin saja kita belum pernah berpikiran untuk sampai pula di sana. Negeri yang nun jauh di mata. Di manakah?

Dari bawah sebatang pohon ia sempat menyampaikan pesan terhadapku. Beberapa saat setelah ia melanjutkan langkah dan semakin berjarak denganku. Karena ia menyampaikan terlebih dahulu terhadapku, bahwa ia sedang berada di sana, saat berpesan.

Ia sahabatku.

“Jangan marah… jangan marah…,” pesannya.

Terlihat raut mukanya yang bertaburan kebahagiaan. Terdengar nada suaranya nan mengalun dengan ringan di indera pendengaranku. Alunan ringan seumpama semilir angin yang sedang berhembus sepoi. Ya, sama seperti kondisinya saat berpesan. Ada kesejukan yang ia sampaikan, walaupun tidak secara langsung. Pun ada kedamaian yang ia titipkan dan jelas terasa. Karena ia menyampaikannya dalam nuansa serupa, tentu saja.

“Jangan marah… jangan marah…,” nada suaranya yang mengalir syahdu, masih terngiang di telingaku. Dan aku kembali merindukan suara itu, saat ini. Suara yang berisikan nasihat, pun pesan. Nada suara yang membuatku segera bangkit dari dudukku, segera. Dan aku ingin menyusulnya di sana. Ia yang telah meninggalkanku, untuk sementara. Ah, tak guna sesal, walau sekata. Apalagi untuk mengulang detik waktu yang telah berlalu, saat aku masih bersama-sama dengannya dalam pertukaran suara kami. Walaupun hanya mampu ku sampaikan, “Iya,” sebagai jawaban atas pesannya. Dan ini berarti bahwa aku tidak akan marah. Ah! Tentu ini tidak mudah, namun aku yakin, “Tidak marah. Insya Allah.”

***

Terkadang kita bersua sukar dan susah. Suatu ketika berjumpa sulit temannya rumit. Pun ada suka dan berbunga-bunga. Selain bahagia dan gembira. Lalu, kita mau pilih yang mana? Karena mereka ada untuk memberikan kita satu bahan pelajaran pada setiap waktu kedatangannya. Terkadang kita dalam kondisi siap untuk bersuka, dan terkadang kesiapan kita adalah untuk berduka. Ha? Segalanya ada, agar kita segera menyadari bagaimana kesiapan kita dalam menghadapi suasana apapun saja. Karena kita dapat memilih.

Kita dapat menyukai apa saja yang kita sukai. Namun kita pun dapat menyukai apa pun yang kita tidak sukai sebelumnya. Ya, hanya belum. So, apabila kita ternyata bersua dengan ketidaksukaan kita terlebih dahulu. Ia yang kehadirannya lebih awal dari kesukaan kita, maka “Jangan marah… jangan marah…” Karena kita perlu  mencerna dengan sempurna tentang pesan dan bahan pelajaran yang ia bawa untuk kita. Dan semoga kita semakin lebih bijak lagi dalam bersikap terhadap apapun juga. Karena semua yang kita temui dan atau menemui kita, tentu ada maknanya. Dan ia ada sebagai pewarna kehidupan kita.

Aku adalah salah seorang yang sangat tidak suka dengan perpisahan. Karena di dalamnya, akan ada airmata. Pun bersamanya menggemuruh sendu di dalam dada. Apalagi dengan sekepinghati yang sebelumnya tidak tahu apa-apa. Ia akan segera bersuara dan ia bicara apa yang sedang ia rasanya. Akibatnya, bergulirlah waktu selama perpisahan berlangsung, dengan seindah-indah kesan yang ku sebut tak suka itu.

Awalnya aku tidak suka dengan perpisahan, sehingga membuat aku terkadang tidak ingin berpisah dengan sesiapa saja yang pernah ada dalam kehidupanku. Namun kembali lagi kepada awal mula bersua, sebelumnya tentu kita tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya, bukan? Nah! Bagaimana pula kita tidak suka, saat ternyata kebersamaan kita pun tidak akan selamanya.

Raga terpisahkan sekali lagi. Dan mungkin ia sahabatku tidak akan lagi dapat menjadi bagian dari hari-hariku sebagaimana biasa. Namun demikian, aku berusaha untuk terus mengingatnya. Aku berjuang agar ia tidak benar-benar pergi dan meninggalkanku sebagaimana yang terjadi. Oleh karena itu, ku  usaha untuk merangkai beberapa kata dalam kalimat, tentang detik-detik yang kami jalani, beberapa saat yang lalu. Belum sampai sehari, apalagi sebulan. Hoaamm…, bagaimana kalau setahun, atau selama-lamanya yaa?

Sungguh tidak dapat aku membayangkan, saat kami benar-benar berpisah untuk selamanya. Dalam arti, aku tidak akan lagi berjumpa dengannya, pun ia terhadapku. Kami tidak akan lagi saling bertukar bahasa. Kami tidak dapat lagi barteran suara. Kami tidak lagi dapat saling mengalirkan energi. Pun tidak juga dengan semangat yang berapi-api. Tentu kami akan menjadi tidak mempunyai harapan lagi. Karena aku menyadari, bahwa ia adalah bagian dari diriku yang lain. Dan aku tidak ingin ia jauh dariku.

Sekepinghatiku yang lain, sedang ia bawa menuju cita cintanya. Sedangkan aku yang sedang berada di sini, tentu sedang meneruskan cita cintaku juga. Dan tidak mungkin bersamanya. Kalaupun kami memaksakan, tentu bisa. Namun ia mempunyai jalan hidupnya pula. Dan mungkin bahkan pasti saja jalan hidup kami tidak selamanya sama. Walaupun sempat berjumpa untuk beberapa masa, tentu masa-masa itu menjadi satu kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Semoga demikian pula dengannya.

Ia sahabatku.

***

Wahai sahabat,

Kini, tidak dapat lagi ku lihat kerlingan bola matamu nan berbinar. Tidak pula dapat ku perhatikan senyumanmu yang membuatku ingin tersenyum pula pada saat yang sama. Namun begitu, aku akan senantiasa ingat bahasa tubuh yang engkau ekspresikan saat berada sangat dekat denganku. Dan aku belajar darimu.

Wahai sahabat,

Engkau pergi jauh dariku, karena engkau telah mempunyai keyakinan bulat dan keteguhan, atas apa yang telah engkau putuskan. Sebagaimana telah engkau sampaikan pula, bahwa bukan berarti engkau tidak sayang aku. Tidak jua karena engkau tidak lagi mau berteman denganku. Namun karena engkau benar-benar percaya, bahwa kita akan kembali jumpa, dalam suatu masa yang berbeda. Dan saat itu adalah hari paling indah dalam kisah perjalanan kehidupan kita. Hari yang merupakan awal hadirnya kebahagiaan yang selanjutnya. Dan pada hari itu pula, kita dapat merangkai kisah bersama. Dengan mempertukarkan cerita lama. Lalu, memprasastikannya di dalam ingatan kita masing-masing. Untuk kita jadikan sebagai pedoman dan bahan pelajaran. Dan ia menjadi pengalaman yang terindah.

Kini, saat ini. Aku tidak ingin marah… atas keputusan yang telah engkau tetapkan. Dan aku menerima dengan penerimaanku yang terdalam. Bukan karena aku pasrah karena tidak dapat mencegahmu. Namun karena aku pun telah yakin, dengan alasan yang engkau sampaikan kepadaku. Engkau meyakinkanku terlebih dahulu, sebelum engkau berlalu. Termasuk dua kata yang bagiku sangat berarti, “Jangan marah…”

 Hai, teman… bukankah engkau tahu, bahwa aku tetaplah seorang insan biasa yang mempunyai kesempatan untuk berekspresi? Lalu, bagaimana halnya dengan salah satu ekspresi yang seakan engkau cut dari kehidupanku. Terlebih lagi saat engkau tidak bersamaku.

A, baru saja aku berpikir untuk marah, sesaat setelah engkau melangkah dariku. Namun, ternyata engkau ingat, lalu menitipkan itu pesan terhadapku, dari sana. Sehingga aku pun berpikir. Engkau sedang mengingatku. Dan engkau tahu, bagaimana kondisiku saat engkau berlalu.

Oke, aku memahamimu. Dan kini aku pun dalam kedamaian dan tenang, disini. Terima kasih atas sekilas pesan yang sempat engkau layangkan dan engkau layakkan untuk sampai padaku. Karena engkau menyampaikannya langsung padaku.”

Sehingga dapatlah terpetik sebuah bahan pelajaran saat ini. Tidak ada gunanya marah-marah, tidak jua ada manfaatnya kecewa. Karena setelah tidak suka ada suka. Seiring dengan kesukaan, berdatanganlah saudara-saudarinya yang lain. Seindah harapan yang kini mulai ku tebarkan lagi, aku ingin dan aku suka perjumpaan. Termasuk denganmu yang walau beberapa waktu yang lalu, meninggalkan aku. Dan aku tidak akan pernah hilangkan engkau dari ingatanku.

Ku abadi kebersamaan kita, sebagaimana engkau mengabadi di dalam kehidupanku. Engkau selamanya ada, walaupun kita hanya dapat bersua sekejap saja. Dan bagaimana halnya, saat kebersamaan kita tidak hanya satu dua jam saja? Aku sungguh suka dengan beraneka kisah yang engkau sampaikan padaku, dalam setiap waktu engkau bercerita. Aku suka. Bahkan melebihi sukaku pada lembaran senyum mentari setiap pagi.

Dan kini, esok untuk selanjutnya sampai engkau kembali lagi, aku dapat merangkai kenangan tentang engkau, di sini. Di lembaran hariku yang tidak akan pernah usang. Hari yang akan ku rasakan sebagai hari-hari yang senantiasa baru. Karena dalam detik demi detiknya, terdapat engkau yang membuatku kembali bangkit. Engkau yang menjadi jalan aku tidak dengan mudah mengekspresikan rasaku, dan salah satunya adalah marah.

“Aku janji. Dan tentu saja dengan bantuan engkau yang mendoakanku. Semoga aku tidak cepat mudah marah, ketika ada hal-hal yang berada di luar kesukaanku dan ternyata ia mampir dalam kehidupanku. Aku ingat satu pesan darimu, wahai sahabatku.”

Tidak mudah memang untuk tidak marah, saat kita ingin marah. Namun, ketika orang yang paling kuat adalah orang yang dengan mudah dan mampu menahan amarahnya, bagaimana bisa, kita tidak mencobanya? Cobalah, sekali atau dua kali, dan mulakanlah dengan kali pertama untuk tidak mudah marah. Karena orang tidak akan suka dengan marah-marah.

Aku tidak suka dengan marah, sebagaimana ketidaksukaanku dengan perpisahan.  Akan tetapi, apabila ia ternyata datang mendekati, maka dapat menjadikannya sebagai salah satu bahan pelajaran dalam kehidupan, adalah pilihan.

Belajarlah dari orang yang sedang marah.  Karena dengan mempelajari ekspresinya, kita akan mengerti, bahwa bahan pelajaran yang akan kita bawa sebagai prasasti kehidupan kita hanyalah yang berarti saja. Dan kalau seakan kurang berarti, lebih baik tinggalkan saja. Karena kita mempunyai peluang untuk memilih, kapan saja.

Pilihlah untuk berdekatan dengan orang yang sedang marah, atau meninggalkannya. Pilihlah untuk memberikan masukan dan atau nasihat padanya, atau mendiamkannya.  Karena setiap pilihan tentu ada bahan pelajaran yang sangat berharga. Dan dalam belajar, tidak akan yang dapat bisa sekali jalan saja. Tentu ada beraneka uji yang kita tempuh untuk dapat lulus dengan hasil yang sempurna dan sesuai dengan harapan, bukan?

Belajarlah untuk tidak mudah marah, maka kita dapat merasakan manfaatnya. Salah satunya adalah, kita akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah terpancing oleh emosi sesaat. Bukankah kita pernah memperoleh informasi dari seorang sahabat kita yang lain, bahwa seorang yang sedang marah, sesungguhnya ia sedang tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Dan pada saat yang sama, ia sedang menyampaikan pada sesiapa saja, bahwa ia sedang dalam kondisi demikian.

Kita dapat marah, kalau kita mau. Namun, apabila ternyata dengan marah kita sedang mengungkapkan ketidaknyamanan kita terhadap diri kita secara tidak langsung, maka kita dapat memilih.

Marah-marah pada benda-benda yang ada di sekitar kita, saat kita benar-benar sedang tidak nyaman dengan diri sendiri. That’s our decision. Dan yakinlah bahwa keputusan apapun yang sedang kita ambil adalah keputusan yang berguna bagi nusa dan bangsa, tetangga dan sesiapa saja yang berada di dekat kita. Karena tentu saja kita tidak ingin, bukan? Apabila di sekitar kita ada ketidakbermanfaatan?

Ada marah yang tidak dapat lagi diredam, walaupun apinya disiram dengan air satu ember. Ada pula marah yang tiba-tiba meredup, dengan segelas air yang dicipratkan pada seorang yang sedang marah. Pun, ada yang tidak hilang-hilang dan menyusut marahnya, saat beberapa kali diceburin ke dalam kolam. Karena seluruh dirinya, telah benar-benar berapi-api. Oh, tentu kita perlu memikirkan tentang hal ini.

Berkesan sangat aku, dengan beraneka ekspresi yang pernah hadir dalam perjalanan kehidupanku. Dan aku pernah menjadi bagian darinya. Aku pernah pula menjadi perhatian, pun memberikan perhatian, karena ekspresi tadi. Ekspresi yang membuat kita benar-benar menyadari, bahwa kita manusia adalah makhluk yang penuh dengan ekspresi. Nah! Salah satu ekspresi tersebut adalah, ya, marah tadi.

“Jangan marah… jangan marah… sabarkan hati, tenangkan jiwa. Perhatikan ekspresi terakhir kita saat dalam kondisi marah. Maka tentu kita tidak akan mau memperhatikan wajah ini, kalau saja kita tahu, bagaimana rupa ini. Lalu, bagaimana pula dengan orang lain? Tentu beliau pun demikian. Saat kita tidak suka dengan wajah yang tidak enak untuk dipandang, maka tentu orang lain pun demikian. Belajarlah memahami, menghargai dan memberikan celah kepada orang lain untuk menikmati ekspresi terbaik dari kita. Bukan marah. Ya.. yaa.. yaaa.??!

Hari terus berganti, masa pun berlalu. Bila saat ini kita benar-benar berpisah, teman. Aku meyakini bahwa kita akan berjumpa lagi. Xixiii. Baiklah. Kini,  aku mulai ikhlas. Aku belajar untuk mengenali makna dari perpisahan yang sedang kita alami.

Wahai sahabatku,

Selamat meneruskan perjalananmu, di sana. Di negeri yang baru, semoga engkau temukan ketenangan yang berkelanjutan. Dan semoga lebih banyak manfaat yang dapat engkau baktikan dari dirimu, ya.

Ketika dulu, aku sangat tidak suka dengan perpisahan, kini aku mulai menyukanya. Aku suka dengan ia, karena dengan kehadirannya, maka harapanku segera bertunas. Harapan untuk bertemuan.

Selami arti perpisahan, maka kita mengerti arti pertemuan. Maknai sebuah pertemuan, sampai kita memahami, untuk apakah ia ada?

Perjalanan masih panjang. Jalan hidup kita masih membentang. Engkau yang kini sedang melanjutkan perjalanan, terus telusurilah jalan kehidupanmu. Hingga engkau bersua dengan takdir terbaikmu. Takdir yang engkau suka. Dan percayalah, pada waktu itu engkau akan benar-benar bersyukur, telah bersua dengan takdir yang engkau tidak suka, sebelumnya. Kemudian engkau ingin kembali merasai masa-masa serupa. Namun, engkau tentu tidak dapat mengalaminya lagi. Karena ia telah berlalu.

Oleh karena itu, apapun yang sedang engkau alami, baik suka ataupun tidak suka, tetaplah menyukainya. Karena itulah takdirmu. Percayalah. Engkau tidak sendiri. Karena orang lainpun mengalami hal serupa, meskipun engkau tidak mengetahuinya.

Berbagilah tentang apa yang engkau tidak suka, sebagai jalan bagimu untuk mengingatkan dirimu sendiri. Bahwa orang lainpun demikian adanya. Karena engkau dia dan dirinya adalah sama. Sama-sama mempunyai rasa suka dan tidak suka. Dan sama-sama hamba-Nya.  Innallaaha ma’ana.

:)  ^_^ 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s