Bahasa Indonesia: Setu Cikaret pada jam 6 Pagi.
Bahasa Indonesia: Setu Cikaret pada jam 6 Pagi. (Photo credit: Wikipedia)

Backsound: Tersenyumlah-Lyla

Mentari tidak pernah terlambat bersinar. Karena ia adalah salah satu ciptaan Allah yang disiplin. Lihatlah dan buktikanlah, teman, pagi-pagi sekali, esok hari. Ketika engkau bersedia untuk menengadahkan wajahmu ke arah langit di bagian timur, maka engkau dapat menyaksikan kemilau sinarnya, bukan? Ya, buktikanlah.

Meskipun esok pagi hujan akan turun dengan derasnya. Sesungguhnya mentari itu ada bersama alam yang benderang di sekitar kita. Dan lukislah perasaan syukur kita pada pagi hari dengan segera mensenyumi mentari. Karena mentari pun sedang tersenyum pada sesiapa saja yang berada di langit, bumi pun di angkasa, sana.

Lalu, hayatilah kebersamaanmu dengannya, benar-benar. Karena pada sore harinya, mentari akan berlalu lagi. Kemudian berganti dengan malam. Malam merupakan saat-saat yang mampu menderukan gemuruh kuat di dalam jiwa. Ketika dalam detik-detik bersamanya, kita berusaha untuk hadirkan sebuah catatan kehidupan yang paling mengharukan di dunia. Ada yang berisi muhasabah, ada yang berisi rencana tentang hari esok yang akan kita jalani.

Aku suka mentari dan membuatku bergembira saat melihat sinarnya. Karena terlalu lama aku berada di dasar lautan kehidupan.

Di dalamnya ada lamunan yang mengajak pikir untuk turut serta dengannya. Lamunan yang kita perlu berhati-hati saat melakukannya, karena terkadang melamun dapat berakibat fatal. Yah. Lamunan yang membuat kita seakan sedang membersamai mentari untuk ikut berevolusi dengannya. Padahal sebenarnya kita sedang berada di alam yang sesungguhnya, di bumi. Oleh karena itu, teman, tolong berhati-hati dengan aktivitas yang satu ini. —Dreaming.

Hari akan berganti. Begitu pula dengan diri-diri kita. Semaksimalnya kita pun perlu berganti, berubah. Untuk menjadi lebih baik lagi hari ini. Tidak seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, aamiin. Agar kita tergolong ke dalam bagian dari orang-orang yang beruntung.

Ketika kemarin kita te-l-a-t bangun pagi, mungkin karena pada malam harinya kita tidak memasang niat untuk bangun lebih awal. Saat pagi hari kita mampu tersenyum pada mentari yang bersinar, mungkin karena kita memang benar-benar berkomitmen dengan diri kita sendiri, bahwa kita ingin lebih baik esok hari. Tidak lagi dengan kondisi wajah yang pada hari ini sempat kita pakai dalam menjalani aktivitas. Ia tanpa senyuman. Aaaa… sungguh dunia singkat sekali, teman. Tidak lama kita bersamanya. Lalu waktu yang hanya beberapa kejap mata bersamanya, mestinya kita  berjuang untuk senantiasa dalam perubahan.

Kalau kita yakin dan mempunyai keteguhan dalam meyakini apa yang sedang kita upaya, tentu ada jalan-jalan terindah yang membentang di hadapan. Kita akan dipertemukan-Nya dengan pribadi-pribadi yang penuh dengan keceriaan, hingga membuat kita pun terlarut dalam ekspresi sama dengan yang beliau tampilkan. Kita akan dikumpulkan dengan hamba-hamba-Nya yang bertaburan syukur dan kesabaran di dalam hati, senada dengan apa yang kita impikan.

Dan yakinlah, Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya: “Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)”.  —<>—

🙂🙂🙂

2 thoughts on “Iya, Aku Menyadari. Siapa Aku ini?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s