Segalanya Bermula Disini
Segalanya Bermula Disini (Photo credit: Ariff Tajuddin)

“Aku mengenal hatimu terlebih dahulu daripada fisikmu”. (By: Searcher). Ini terjadi kalau kita tidak langsung bertatap mata saat berjumpa, yaa. Namun berbeda halnya saat kita langsung bersua, dan kita bersapa walau untuk pertama dan perdana. Maka, dapat ku lihat rupa wajahmu, meskipun hatimu aku tidak pernah tahu. But,  I enjoy with you.

***

Sudah dua catatan terangkai, yang kalimat-kalimatnya pada umumnya dan hampir seluruhnya berasal dari  kata-kata para pencari yang ku pandangi di dashboard. Lalu aku mempertemukannya dengan perantara beberapa titik dan kata hubung serta koma dan tanda petik. Lalu, catatan ini merupakan angka yang berikutnya.

Bermula dari sebuah kalimat pembuka di atas. Aku membacanya dari hasil pencarian para pencari pada hari ini dan aku suka. Lalu, aku menitipkannya di sini. Tanpa permisi tentunya, karena aku tidak menemukan beberapa baris kalimat ataupun kata yang menjelaskan tentang data diri pencari. But, I still write ‘Searcher’ after the sentence above. It is mean that I am not a writer of that sentence one, but it was inspiring me. Thank a lot for the searcher. 

Hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman pertama, tentu senantiasa berkesan. Dan ia akan membawa kita pada satu kenangan yang sungguh menenangkan. Ini ada hubungannya dengan satu kalimat di atas. Bahwa terkadang, kita mengenal seseorang, bukan dari rupanya terlebih dahulu. Namun dari hatinya pertama kali, kita dapat membaca siapakah seorang yang kita telah kenali. Untuk selanjutnya, baru kita memandangi rupanya.

Hmm… Apakah engkau mempunyai pengalaman tentang hal ini, teman?

Ya, tentang perkenalan dengan sekeping hati terlebih dahulu. Dan engkau berhasil menyelam hingga ke dasarnya yang paling dalam. Setelah itu, engkau pun mengenal rupa dan fisik si penjaga hati tersebut.

Di saat aku berkenalan dengan seorang atau beberapa orang, terkadang tidak dapat langsung bertemu dengan rupanya. Oleh karena perkenalan tanpa rupa ini, dapat ku jadikan sebagai salah satu kesempatan untuk mengenal hatinya lebih dahulu. Dan berbeda halnya apabila perkenalan dengan seorang insan secara langsung. Ini berarti bahwa perkenalan tersebut memberi kesempatan bagiku untuk memandangi rupa dan sorot mata dari insan yang sedang berdiri ataupun duduk di hadapanku.

Aku dapat tersenyum, saat fisik yang pertama kali aku temui dan aku kenali tersenyum penuh kecerahan wajah. Walaupun sebelumnya, kondisiku tidak seperti demikian. Namun aku sangat mudah terbawa suasana. Dan begitulah aku adanya.

Nah! Bagaimana ini?

Pernah aku berjumpa dengan seorang asing yang sebelumnya tidak pernah aku jumpai sama sekali. Kecuali kami bertukar suara hanya melalui perantara seluler saja. Bahkan pernah pula kami berjumpa dalam pertautan kata saja. Ya, demikian. Namun lebih berkesan adanya ketika pertemuan dan perjumpaanku dengan orang asing, untuk pertama kalinya, dan kami pun bertemu raga. Aku tersenyum padanya, begitupun dengan beliau padaku. Kami bersenyuman, untuk selanjutnya meneruskan perbincangan yang berikutnya. Karena ternyata, pertemuan kami adalah untuk sebuah keperluan. Penting? Ya.

Namun, bagaimana kalau pertemuan dengan orang asing adalah atas ketidaksengajaan?

Tiba-tiba kita terlibat percakapan dan perbincangan yang super serius, hingga berlanjut pada waktu yang lain. Pun aku pernah mengalaminya, walau tidak sering. But that is an incredible moment and best experience one, for me. When I talked to foreign person and made conversation with him/her directly without make an agreement for our meet, first.

***

Adapun salah satu pengalaman pertamaku yang saat ini ingin ku titip di dalam catatan hari ini adalah tentang hal di atas. Yaitu berhubungan dengan pertemuanku dengan orang-orang baru dalam kehidupanku. Dan memang kami belum pernah berjumpa.

Bermula kisah, ketika masa berlaku KTP (Kartu Tanda Penduduk)- ku akan segera berakhir. Ya, karena aku masih berstatus WNI (Warga Negara Indonesia), maka aku ingin senantiasa menjadi warga negara yang baik. Oleh karena itu, aku pun bersegera melakukan pengurusan, dan kalau bisa perpanjangan kartu identitas penduduk tersebut.

Ketika Maret 2013 akan menjelang, dan beberapa bulan sebelumnya, hatiku sudah tidak tenteram. Aku tidak bisa tidur nyenyak pada malam hari, apalagi pada siang hari.  Namun dalam berbagai kesempatan terbaik, ku coba pejamkan juga mata ini, agar kesehatanku senantiasa dalam kondisi terbaiknya. Karena aku sedang berada jauh dari keluarga. Apalagi orang tua, beliau jauh di sana. Di pulau Sumatera. Wahai.

Terpesona aku menatap hitungan angka yang terdapat pada kalender dari detik-detik terakhir tahun 2012. Begitu terharunya aku saat mendapati bahwa tahun 2012 akan berlalu. Dan ini berarti tahun 2013 akan segera datang. Berarti pula, Maret 2013 pada tanggal 5, masa berlaku kartu tanda pendudukku pun akan usai.

Pada awal tahun 2013, aku mulai r-i-s-a-u. Hup! Sungguh g-a-l-a-u.

Tak hendak aku meny-u-l-i-t-kan keluarga di rumah. Namun apa hendak dikata. Tetap kuberanikan diri untuk mengkonsultasikan tentang keg-a-l-a-uanku dengan beliau. Karena aku yakin bahwa keluarga sungguh cinta dan penuh dengan kasih sayang.

Bahasa Indonesia: KTP untuk Warga Negara Indonesia
Bahasa Indonesia: KTP untuk Warga Negara Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

Aku terharu mendapati berita, bahwa Onna, salah seorang kakak perempuanku, berbesar hati memfasilitasi segala keperluanku pada saat itu. Beliau beserta Amak yang ku sayang, bersatu hati menautkan jemari, untuk membuatku tetap teguh dan tidak g-a-l-a-u lagi. Karena beliau menasihatkan, sebuah jalan membentang, saat kita berusaha untuk melangkah. Dan jalan lain masih ada di hadapan, ketika kita berjumpa dengan persimpangan. Begini satu nasihat keluargaku yang ingin selalu ada di dalam ingatanku. Ya, karena asa dan harapanku masih ada. Dan saat ini aku sedang melanjutkan perjalanan dalam kehidupan.

Satu episode ku jalani. Dua episode pun berlalu. Episode berikutnya pun berakhir. Hingga tibalah masanya, perjuangan selanjutnya hadir. Ketika kita berniat, mempunyai usaha dan berdoa, serta percaya pada takdir, maka kita dapat menjalani segala dengan hasil akhir terbaik.

Dan tralalaaa… “Tepat Hari Ini, tiga bulan sudah, setelah ke-g-a-l-a-u-an hadir, aku dapat tersenyum bahagia. Ku kabarkan pada keluarga, bahwa dokumen tersebut telah jadi. Dan kini, ditambah pula dengan satu dokumen berikutnya, kartu keluarga. Aha, jabatanku sebagai kepala keluarga, kini. Walaupun belum menikah. Ahahahaa… Alhamdulillah. Semua akan indah dan terindah pada saat kita percaya dan yakin, Allah sungguh Maha Pemurah. Lalu, teruslah bersyukur dan bersabar, wahai hamba-hamba yang sesungguhnya lemah… tanpa pertolongan dari-NYA.

Onna, beliau menguatkan aku. Beserta sang suami tercinta, beliau berangkat ke pusat kabupaten, untuk memperoleh beberapa dokumen yang aku perlukan. Sedangkan Amak, Ayah, dan keluargaku di rumah, dalam yakinku senantiasa mendoakan. Baik yang jauh maupun yang dekat. Sedangkan hati-hati kami senantiasa melekat. Kami erat, walau tidak selalu berjabat tangan.

Amak, adalah perempuan pertama yang tersenyum, beliau berucap Alhamdulillah, semoga senantiasa dimudahkan, ya Nak. Yakin dan percayalah. Beserta kesungguhan, ada keluangan yang membentang di dalam kesempatan dan kesempitan. Petiklah hikmah dan bahan pelajaran dalam berbagai situasi dan keadaan. Lalu, tersenyumlah. Karena setelah matahari bersinar, hujan kan turun membasahi bumi. Begitu pula sebaliknya. Demikian pula adanya dengan pohon yang bertumbuh di atas bumi ini. Ia ada yang rindang berdaun lebat, pun ada yang sedikit. Selanjutnya akan berjatuhan ke bumi. Lalu pada bagian lain dari pohon tersebut akan bersemi lagi, menggantikan dedaunannya yang meluruh ke bumi. Begini perumpamaan kehidupan kita di bumi.

“Intinya adalah bersyukur dan bersabar,” begini pesan Ibundaku.

Untuk mengurus dokumen perpanjangan kartu tanda penduduk di kampung halaman tercinta dengan kondisiku yang sedang beraktivitas di kota ini, sungguh membutuhkan pertimbangan. Sedangkan kita menjalani kehidupan senantiasa dihadapkan pada pilihan-pilihan, bukan? Dan segala pilihan dapat kita tentukan, sesuai dengan kesepakatan dan persetujuan. Dapat kita memutuskan sendiri, atau meminta persetujuan dari orang-orang terdekat dengan diri kita. Dan keluarga adalah orang-orang terdekat denganku. Aku berkisah pada beliau, tentang pilihanku. Beliaupun memberikan beberapa masukan. Berikut pilihan berikutnya yang beliau sarankan. Setelah kami pertimbangkan dengan musyawarah, akhirnya berujung mufakat. Keluarga pun memperkenankanku untuk mengurus data kependudukan di kota ini, tempat aku sedang beraktivitas sementara.

Alhasil, Onna mempersiapkan berbagai dan sebagainya tentang surat menyurat pun tidak lupa meminta dokumen asli yang akan segera berakhir, yang masih ada padaku. Kemudian dengan segera aku pun mengirimkannya via pos. Tidak lama kemudian, dokumen pengganti pun hadir padaku. Tidak perlu menunggu lama, ternyata ada revisi dan perlu perbaikan pada beberapa sisi. Dan aku kembalikan lagi dokumen tersebut pada Onna. Namanya, “Surat Pindah Antar Provinsi”. Xixixi… memang karena kekeliruan dari aku, siee, jadinya diganti. Mestinya aku lebih teliti. Dan ini adalah satu pelajaran lagi.

Setelah masa revisi berlangsung, hanya beberapa hari, surat pindah pun sampai di kota ini lagi, dengan senyumannya yang meriah. Ini berlangsung pada bulan Februari, pertengahan. Lalu aku bergegas menemui beberapa orang penting di kota ini. Yang lebih dekat dengan lokasi keberadaanku, tentunya, terlebih dahulu. Mulai dari menghubungi Bapak RT, kemudian Bapak RW, setelah itu ke Kelurahan. Aha!!!!!!!…. Semua beliau yang aku temui adalah orang-orang baru dalam hariku. Dan awalnya, aku tidak mengenal beliau semua. Namun, setelah kami bersapa, keramahan dan keteduhan ku temukan dari pribadi-pribadi beliau.

Ibu RT yang layaknya orangtuaku sendiri, menyambutku dengan ramah dan penuh senyuman. Begitu pula dengan Bapak RT. Beliau adalah perpaduan dua insan yang saling melengkapi. Dan kini, terngiang indah di dalam ruang indera penderangaranku, suara-suara beliau saat saling berkomunikasi. Akur penuh dengan kesantunan. Dan aku mengenali, bahwa beliau sedang melanjutkan komunikasi yang sebelumnya tentu telah terlalu sering beliau lakukan. Sedangkan ingatanku pun mampir pada senyuman indah yang mengembang dari wajah-wajah beliau berdua. Sungguh, sosok orangtua yang selamanya akan ku kenang dengan baik.

Setelah dari rumah Bapak RT yang hampir setiap hari aku kunjungi, xixixixiixii.. ini terjadi karena perjuangan sedang berlangsung. Maka berlanjut ke kediaman Bapak RW yang berada tidak jauh dari lokasi tempat tinggal RT setempat. Beliau pun menyambutku dengan ringan. Setelah mengabarkan pada beliau bahwa ada beberapa dokumen yang perlu beliau tandatangani, dan aku membawanya dari RT. Mudah, lancar, mulus dan aku tersenyum-senyum di sepanjang perjalanan, sekembali dari kediaman beliau. Sungguh aliran proses yang aku jalani, seperti aliran sungai di sisi kiri jalan yang sedang aku lewati ketika itu. Sore, menjelang Maghrib. Dan pagi, seketika mentari mula tersenyum pada bumi. Ada beberapa hari dan beberapa kali aku bolak-balik ke kediaman Bapak RW. Dan akhirnya, berlalu juga proses itu. Hupss!!

Berlari-lari kecil, aku menuju kantor kelurahan. Karena masih pagi kiranya, dan setelahnya aku akan segera melanjutnya aktivitas. Pada Maret awal, dan aku masih ingat. Sedangkan pada saat itu adalah pergantian usiaku. Dan aku tidak ingat sama sekali dengannya. Ahaa, hingga ada yang mengingatkanku. Barulah aku benar-benar tersadar. Bahwa tepat pada tanggal 5 Maret tahun 2013, sore harinya masa berlaku kartu tanda pendudukku sudah meninggal. Ia tidak berfungsi lagi sebagaimana biasa. Karena nyawanya telah pergi. Ia telah mendahuluiku. Hikzzz. S-e-d-i-h juga sich, saat ditinggalkan olehnya.  Karena penggantinya belum jadi. Padahal aku perlu akan ia.

Ku coba tersenyum tanpa ia dan dirinya. Ku usaha untuk menjalani aktivitas walaupun ia tiada. Dan tibalah pada suatu kesempatan, aku benar-benar memerlukannya. Sedangkan ia memang tidak ada. Sama sekali aku tidak dapat berjalan. Aku tertunduk dan terduduk. Aku shok! Oh, inikah yang namanya cobaan? Ataukah peringatan? Atau hanya sebuah cubitan dari kehidupan? Bahwa aku tidak perlu larut dalam ke-s-e-d-i-h-an. Selama kita masih mau melangkah, ada jalan membentang di hadapan. Begitu pula dengan jalan-jalan itu, saat  kita bertemu persimpangan, maka setelahnya ada jalan baru. Yakinlah.

Ku temui beliau yang berada di kantor kelurahan dengan sepenuhnya harapan. Ku usaha untuk berjalan dan teruskan perjuangan. Dan di dalam perjalananku, ada beberapa insan yang membukakan tangan. Beliau bentangkan lagi harapanku yang sempat mengatup. Beliau memberikan beberapa nasihat. Bahwa, proses yang sedang aku jalani, tidak selama yang aku bayangkan. Karena ada jalan pintas yang dapat aku tempuh untuk dapat sampai pada tujuan dengan cepat. Ah..! Lagi-lagi aku tidak ingin k-e-c-e-w-a. Karena walaupun namanya jalan pintas, tidak selalu bebas hambatan. Terkadang kita tersandung di dinding gang yang sempit, piuuh, perih kaki tersandungkan ia. Ada waktunya kita berjalan di atas bebatuan berkerikil yang tajam. Hiiikss, perih lagi terluka. Ternyata, benar adanya. Jalan kebenaran tidak selalu lurus membentang. Ada halangan di sepanjangnya. Dan semua itu mengajarkan kita untuk teguh pada pendirian. Istiqamah.

Setelah tiga bulan perjuangan, penantian, pertanyaan, menerima jawaban, bersabar, bersyukur, bertanya lagi, menemukan jawaban lagi akupun berstatus “Kepala Keluarga” di kota ini, tempatku melanjutkan perjuangan. Sedangkan di sana, nun jauh di ujung arah tatapku. Tentu ada yang sedang tersenyum, beliau sang calon kepala keluarga dalam rumah tangga kami. Seraya membisikkan di telingaku, “Akan kualihkan fungsimu, beberapa waktu lagi. Bersabarlah… Masa itu kan hadir. Selagi kita melangkah, ada jalan yang membentang. Saat kita bertemu persimpangan, lanjutkanlah perjalanan. Jalan baru sedang membentang di hadapan.”

Sedangkan aku, menatap jalan kehidupan yang padanya aku sedang melangkah. Masih berapa langkah lagikah untuk sampai pada tujuan, tidak ada yang tahu. Selain Yang Maha Tahu Segala-galanya, tentang diri kita. So, keep on His Way.  Then we will meet on the Best Destination.

Selagi kita mempunyai tujuan, akan tercapai juga. Ketika kita berusaha untuk memperjuangkan apa yang pantas kita perjuangkan, maka kita bisa. InsyaAllah. Dan tentu saja tidak akan lama. Hanya saja, terkadang kita tergesa. Hingga merasa bahwa waktu bergulir sungguh lama. Padahal kita yang tidak mengerti, sesungguhnya ada makna dalam setiap langkah yang sedang kita ayunkan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s