Dear Mentari
Dear Mentari

Inilah coretanku saat membaca dan memandang alam.  Ketika aku menyaksikan sesekali ke atas sana. Di awan ada senyuman, pun tidak jarang ke-m-u-r-u-n-g-an. Namun saat gemawan ber-s-e-d-i-h, maka mentari segera mendekat. Dan ia mengalihkan perhatian gemawan terhadapnya. Hingga mereka berdekatan, seraya merayakan kebahagiaan.

Awan yang ku lihat seakan diriku, sedangkan mentari itu adalah engkau, teman.  Dan aku suka bersamamu. Namun, apakah aku masih berarti bagimu?

***

Alhamdulillah… sungguh lega rasanya saat mendapati kenyataan bahwa kita akan sampai pada tujuan yang sedang kita usahakan.  Tersenyumlah jiwa saat menjalani detik-detik yang segera menjelang dengan tujuan tersebut. Sedangkan mata, ia sedang menatap lurus ke hadapan, dengan sesekali mengedarkannya ke sekeliling. Di bawah sinar surya yang semakin terik, kaki-kakinya terus melangkah. Ada kegembiraan yang ia bawa, menyelip syair di setiap desah nafas yang mengalir, menghembus, dan ia tarik.

Alhamdulillah… kesabaran yang senantiasa ia jaga, turut tersenyum padanya yang sedang berbahagia. Sedangkan guru-guru yang menjadi jalan sampaikan ia pada tujuan pembelajarannya, tidak kalah bahagia. Beliau tersenyum dari kejauhan, untuk menyampaikan semua rasa yang semakin meluap. Hati sang guru bahagia. Kebahagiaan yang tidak lagi dapat diungkapkan dengan susunan kata yang terangkai. Sungguh. Sungguh ekspresi penuh senyuman yang beliau bawa selalu.

Alhamdulillah… Penantian pun tidak tersia. Segala kronologi yang ia alami selama penantian berlangsung, terekam indah di dalam sebuah pigura yang ia pasang di dinding hati. Penantian terhadapmu. Seorang yang seiring terbitnya sinar mentari, pun berusaha untuk menerbitkan senyuman terbaikmu dalam hari-hari.

Sehingga adakah lagi rahasia yang Rabb-mu tidak mengetahuinya? Rahasia tentang lembutnya hatimu dan anggunnya pribadimu yang selama ini tidak pernah dapat mata memandang. Termasuk mentari sore hari yang akan segera berlalu. Seharian ia pun tidak dapat menyaksikan keelokanmu. Namun demikian, mentari terus tersenyum. Ia membawa senyumannya untuk ia tebarkan lagi pada belahan bumi yang lain, di sana. Setelah ia bersinar di lokasi keberadaanmu. Ia tetap tersenyum.

Artinya?

Alam pun tersenyum. Setelah sekian lama ia tidak tersenyum.

Ia yang membuat hari-hariku terasa indah. Ia yang memberiku keberanian tidak bertepi. Adakah ia pun hadir dalam kehidupanmu untuk memberikan warna-warni seindah pelangi? Berdoalah. Bersabarlah. Bila ia belum menemuimu. Dan hayatilah kebersamaanmu dengannya, ketika ia berada di dekatmu. Karena ia sungguh berarti.

Awalnya ia akan tersenyum padamu. Lalu mengalirkan cerita indah tentang kehidupannya, terhadapmu. Simaklah dengan saksama. Dengarkanlah dengan indera pendengaranmu pun mata. Perhatikanlah bagaimana cara ia berbicara terhadapmu. Dan ia akan menjelma sekuntum mawar putih di hadapanmu. Bersama penampilannya yang menarik, akan membuatmu damai berlama-lama di hadapannya. Ialah bumi yang sedang engkau tempati. Padahal, ia sungguh telah tua, teman.

Saat engkau sedang menyambut pagi di sana, bersyukurlah. Karena dunia tercipta untuk kita menciptakan dunia kita sendiri. Karena di dunia kita ada untuk menemukan sahabat yang baik dan bersyukurlah saat engkau telah menemukan duniamu. Berbahagialah ketika sahabat baik yang engkau temukan itu masih ada dekat di sisimu.

Dan ia berbisik di telingamu,  “Aku yang dulu pernah mengenalmu, aku yang dulu pernah berteman denganmu,  aku yang dulu pernah akrab denganku, aku yang dulu pernah menjadi sahabatmu, aku yang dulu pernah menjadi teman curahan hatimu, aku yang dulu pernah kau anggap layaknya saudaramu sendiri, kini masih ada bersamamu.”

Kemudian, pada pagi hari yang berseri, ia tersenyum padamu secerah sinar mentari. Untuk menjadi jalan tersenyumnya engkau esok hari, ketika ingatanmu padanya hadir. Dan inilah makna senyuman. Ia ada untuk menyatukan teman selamanya. Lalu pagi harimu yang walaupun tanpa bersamanya, akan penuh dengan senyuman. Begitu pula halnya ia.

Setiap orang bertemuan. Ada yang meminta perlindungan, pun asyik melanjutkan perjalanan. Sedangkan engkau?

Sering aku melihatmu asyik dengan ingatanmu. Tanpa pernah lagi mempedulikan keadaan. Aha? Mengingat keberadaanmu saat itu, membuatku ingin segera menyentuh pundakmu. Namun apa daya, engkau sedang berada jauh dariku. Maka beberapa baris kalimat yang ku coba susun, kiranya dapat menjadi semacam sarana yang kusediakan untuk meluberkan konsentrasimu. Ya.

Walau bermacam usaha ku coba daya. Namun engkau tidak beralih juga. Dan tetaplah engkau menjadi pribadi yang anggun. Hingga cinta bermekaran di antara kita. Tentu saja dengan tidak pernah lelah memohon kepada-Nya, اللّهِ untuk terus menjadikanmu mentari di hatiku. Agar engkau dapat bersinar di sana, selamanya.  Inilah doa sebuah hati. Yang yakin dapat menjalani semua dengan baik. Sedangkan engkau dapat memberinya semangat baru, setiap waktu engkau mengunjunginya, membasahi jiwa dan menyentuh relung hati dengan telapak kasih dan sayangmu.

Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya hidayah-Mu sebagaimana telah Engkau terangi bumi dengan mataharimu terus menerus dengan rahmat-Mu… Aamiin.”

Ia adalah seorang sahabat yang tidak mengusik perasaan sahabatnya. Dan ia bahagia sungguh saat melihat ekspresi wajahmu penuh dengan kebahagiaan. Karena baginya, bahagiamu adalah miliknya juga. Dan hatinya menjadi lengkap utuh dengan adanya engkau. Seraya melangkah, ia menjaganya.

Lalu aku? Bagaimana denganku?

Melangkah tanpa bersama jiwa yang terjaga, rasanya hampa. Begitu pula dengan perjalanan yang sedang kita tempuh. Tanpa adanya arah dan tujuan maka akan tersia saja. Iya, karena kita akan mudah berbalik arah sebelum sampai pada tujuan. Heeiii, lalu bagaimana dengan waktu yang engkau habiskan? Serta bagaimana pula dengan biaya perjalanan yang engkau keluarkan? Apakah sebaiknya engkau pertimbangkan, wahai pejalan?

Aku? Aku sering bepergian. Namun tidak selalu sampai pada tujuan. Karena aku begitu mudah berubah pemikiran. Dan tiba-tiba saja sudah kembali lagi ke asal yang aku tinggalkan. Namun berbeda halnya kalau aku sudah sampai pada tujuan. Maka sungguh akan sulit dan tidak mudah bagiku untuk cepat bosan. Yah, karena aku orangnya betahan. Jadi jangan heran kalau saat ini aku sedang berada di perantauan, dan jauh dari kampung halaman, maka rinduku hadir tanpa alasan. Karena aku tidak mempunyai alasan yang dapat aku uraikan tentang mengapa ia memenuhi ruang perasaan? Sedangkan ingatan tidak akan pernah berkesudahan. Ia bersama kerinduan sedang berteman. Untuk mengingatkanku lagi bahwa ketika kita siap bertemu maka kita pun perlu lebih siap lagi untuk perpisahan. Maka, inilah salah satu jalan yang kembali hadirkan kekuatan hati. Agar ia senantiasa berpegang  teguh pada janji yang pernah ia ikrarkan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s