Ci Siti pasti lagee Kangen, and Me too
Tidak mesti bersua

Terkenang akan senja pada suatu masa. Saat kita melangkah bersama untuk menelusuri perjalanan. Aha? Suatu masa yang penuh dengan nostalgia. Baiklah, sekarang kita mengenangkan semua, hanya sebagai bagian dari kehidupan kita. For; Mammi, sang fotografer kita. Terima kasih yaa.🙂

Haruskah aku menjumpai wujudmu di ujung senja seperti saat ini? Dalam kondisi langit mendung ditambah dengan sahutan gemuruh dari kejauhan? Untuk ku sampaikan padamu tentang berbagai hal yang perlu engkau tahu, segera? Tentang tuntunan berpakaian dan berhijab? Tentang bagaimana cara menulis cerpen yang menggambarkan suasana hati seorang insan yang sedang jatuh cinta? Dan ia perlu mengeluarkan rasanya, agar tidak menumpuk di dalam pikiran saja. Hingga beberapa bagian adanya. Sampai bersambung-sambung pula ia merangkainya? Sedangkan cara penyampaiannya sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh-Nya. Agar menjadi jalan yang mencairkan suasana. Diantara beraneka suasana yang menyelingi waktu demi waktu yang ia alami dalam hari-harinya. Atau, boleh juga tentang bagaimana cara yang ditempuh oleh seorang pelukis untuk menitipkan gambar sebuah menara Eifel di atas kanvas yang sedang berada di hadapannya? Yang dalam suasana hati penuh dengan kesenduan, sesungguhnya ia sedang menangis. Namun, tidak ia titikkan melalui permata kehidupan di pipinya. Karena ia sedang bersabar. Dan kesabaran itu akhirnya membuat ia berbahagia pun tersenyum pula. Ia tersenyum pada dirinya, pun padamu juga.  Ataukah, harus ku menunggu hingga keesokan hari saja, ketika cerah mentari mulai melebarkan senyumannya ke seluruh persada? Haruskah?

 Kedua mata kita yang saat ini berada di bagian depan, selayaknya dapatlah kita pergunakan untuk menyaksikan apa saja yang sedang berada di hadapan. Mari kita melihat jauh hingga ke ujung sana. Sampai kita tidak dapat lagi menyaksikan apa-apa di depan sana. Karena memang terbatasnya arah pandang kita. Oleh karena itu, bagi seorang Ibu yang sedang berada di dunia, sedangkan seorang buah hatinya telah terlebih dahulu menemui Rabbnya, berela hatilah beliau hendaknya. Agar, sang anak yang sedang menempuh perjalanan yang berikutnya, dapat tenang dan dalam kedamaian. Cukupkan menitik airmata pada hari ini saja, setelah itu, iringi kepergiannya dengan sejumput doa yang terus mengalir di bibir beliau. Doa terindah dan terbaik buat permata hati yang sangat ia kasihi pun sayangi. Dan ketika suatu ketika beliau ternyata merindu sang buah hati, bolehlah beliau menyaksikan beraneka cinta yang ananda tinggalkan teruntuk Ibunda. Sebagai pengobat lara, untuk menemani beliau nan sahaja. Agar tidak pernah terbayangkan oleh beliau meski sekali saja setelah kepergian ananda tercinta, kalau ananda telah berpulang. Ya, karena tanda mata yang ananda cipta, sungguh berasal dari kedalaman jiwa. Sebagai bagian dari kehidupan ananda. Agar Ibunda pun mengerti, sesungguhnya semua adalah  teruntuk Ibunda jua.

Ketika hari itu tiba, saat mulut ini tidak lagi dapat bersuara. Cukuplah kiranya beberapa untaian kata yang ada menjadi wakil segala yang ingin ananda ungkapkan. Dan sebagai jalan untuk bicara beberapa tangkai suara dari dasar jiwa. Bahwa sesungguhnya, ia dapat menjadi jalan hadirkan motivasi bagi sesiapa saja. Termasuk Ibunda yang utama. Untuk menjadi penguat ibunda, untuk terus melangkahkan kaki-kaki doa selamanya. Sebagai prasarana dan sarana yang menjadikan kita berjumpa kapan saja. Aha? Sungguh, dalam pertemuan rasa yang tidak pernah dapat kita lihat, ada pertautan bahasa yang sungguh erat. Dan masing-masing kita mengerti artinya. Walaupun bahasa yang sedang kita saling pertukarkan tidak benar-benar sama.

Wahai Ibunda, ketika suara azan kembali berkumandang bersahutan dari ujung ke ujung dunia. Dapatlah kiranya ia menjadi jalan yang kembali ingatkan ananda pada suatu hari yang akan datang. Hari ketika kita tidak lagi di dunia, seperti saat ini. Ya, hari itu, saat kita telah bersatu dengan tumpukan tanah berwarna merah. Dan ia sengaja menjadi tempat kita bersinggah sementara, sebelum akhirnya kita berganti dengan belulang yang tidak lagi berupa. Ya, raga ini sesungguhnya akan kembali berada di sana. Semoga, berbagai keadaan dan peristiwa kematian pun kelahiran, segera menyadarkan kita bahwa segalanya akan berubah. Dari bayi ke balita, belia hingga remaja, dewasa dan menua. Ah, tak selalu sampai tua semuanya sebelum akhirnya meninggal, yang masih berusia beberapa hari saja juga banyak yang meninggal.

Semoga, kejadian dan keadaan, segera menjadi mutiara pesan buat kita, lalu mewujud rupa dalam ingatan. Bahwa pesan itu untuk setiap orang yang pernah mampir di dunia. Pesan dan saling berpesan, bahwa ia perlu kita sampaikan. Lalu, menjadi bermanfaatlah ia saat ia sampai pada sesiapa saja yang sangat membutuhkan.

Sebagaimana halnya kematian, kelahiran, perjodohan pun begitu. Ada masanya ia datang, pun ada waktunya ia memberi kita jeda untuk menarik nafas sejenak. Agar kita menggunakan masa tersebut untuk berbenah tentang segala hal. Tidak ada yang perlu dipaksakan, tidak pula diundur serta ditunda. Karena semua mempunyai masa.  Tentang pertemuan Ibunda dengan ayah pada zaman dahulu, Ibunda pun sempat bercerita, bahwa sungguh tidak terduga. Dan itulah kehidupan. Ia penuh dengan kerahasiaan. Walaupun beberapa bagiannya telah kita ketahui, sesungguhnya ada banyak bagian yang tidak kita ketahui sama sekali. Dan itulah rahasia. Dengan adanya variasi dari waktu ke waktu yang akan kita jalani dengan yang telah kita jalani, menjadikan kita semakin bersemangat untuk melangkah lagi. Karena di setiap hari yang kita temui, tentu ada corak dan warnanya tersendiri. Oh, “Suatu hari nanti, pastikan bercahaya”, begini lirik lagu mengingatkan kita.  Ia tercipta bukan tidak sengaja. Tentu ada makna untuk kita.

Ya, Rabbku, saat engkau pertemukan aku dengan seorang yang akan menjadi calon suamiku, apakah betul ia cerminan dari diriku?

Ah, indahnya bertanya…

Leganya menyampaikan suara…

Hingga sore yang sedari tadi telah menepi, tidak terasa, telah benar-benar pergi…

Dan kini…

Kelam malam menjadi saksi, bahwa aku sedang merangkai suara hati.

Xixixiii…

Cinta itu bulat, bagai anggur. Untuk melukiskan kejujuran yang melantun dari dasar jiwa seorang insan. Seiring dengan merdunya suara azan yang bersahutan di pedesaan, sesungguhnya di perkotaan pun demikian. Karena Alhamdulillah, hari Jum’at ini merupakan salah satu sarana bagi kita untuk berlomba dalam bersedekah. Apakah dengan menyampaikan dakwah, menunaikan sebuah amanah, atau merangkai sebuah kalimat yang penuh dengan berkah? Sungguh, segala yang sedang kita lakukan akan menjadi bahan pertanggungjawaban di hadapan Allah, kelak. Saat kita telah tidak ada lagi di dunia. Dan ia menjadi saksi atas segala upaya yang kita perbuat. Semoga berbagai cara seringkali kita ulurkan, untuk bermudah-mudah dalam menuai keridhaan-Nya semata. Walaupun pada masa-masa yang telah berlalu, kita pernah khilaf. Semoga, tidak berkepanjangan. Karena selagi kita mau untuk mengakui bahwa kita pernah jauh dari Allah, maka semoga saat ini tidak lagi demikian, yaa. Dan kita siap untuk berubah. Kita gemar kembali bangkit dan berjuang dengan berpeluh meski lelah. Karena kita tahu, tidak selamanya yang kita lakukan saat ini berbalas dengan segera. Namun yakinlah, bahwa ada masa ia berbuah. Pun tiba waktunya kita menjadikannya sebagai salah satu jalan untuk kembali bersyukur kepada Allah, seraya berucap, Alhamdulillah… terima kasih ya Allah, Engkau pernah sampaikan aku pada masa-masa yang penuh dengan masalah. Dengan demikian aku mengerti dan memahami, bahwa tidak selamanya ia menjadi bagian dari kehidupanku. Akan tiba masanya luang, penuh dengan kecemerlangan. Dan senyuman pun mengembang. Allah sungguh Maha Penyayang, pada hamba-hamba-Nya.

Kalau kita pernah cinta, katakan saja. Kalau kita ingin berurai senyuman, usahalah untuk menatanya semenjak dini. Coba dan berlatihlah lagi. Belajarlah untuk menyapa, berucap ramah dan penuh kerendahan hati. Semoga pintunya dapat membuka lebih sering, dengan demikian kita lebih mudah menjangkaunya. Agar hati tidak meninggi.

Aku rindu saat-saat yang penuh dengan kesyahduan. Aku pun rindu pada beliau-beliau yang berlumur kelembutan. Tidak mesti dari nada suara yang mengalir, namun sesungguhnya dari hati beliau dapat terbaca selembut-lembutnya perasaan. Walaupun tidak terlihat, sungguh damai dalam kondisi demikian. Pun berdekat-dekatan dengan pribadi yang sama, alangkah indahnya. Aku rindu.

Berbagai amalan yang tidak kelihatan, sering kali menjadi bagian dari kehidupan beliau. Sehingga amalan tersebut menjadi jalan yang mensegarkan wajah penuh seri. Seindah sinar pelangi yang menawan hati, sungguh ia terlihat walaupun mendung pernah menjadi teman sang wajah, sesekali.

Pernah, aku takut melepaskan kepergian beliau-beliau yang pernah singgah di hati. Apalagi yang sempat menjadi bagian dari keseharian. Namun dengan adanya masa untuk berpisah dengan beliau-beliau semua, akhirnya aku menyadari. Bahwa semenjak saat itulah, kesabaran sedang menguji diri. Sehingga catatan demi catatan seringkali menjadi teman diri untuk melepaskan beraneka suara dari hati. Nah! Ujung-ujungnya, pun berseri lagi wajah ini. Hmmm… aku tersenyum-senyum sendiri, mengingati dan menyadari, sesungguhnya ditinggalkan oleh sahabat hati, tidak selamanya menyisakan pilu dan kesedihan. Ya, kemudian ada senyuman. Walaupun lama dan tidak sekejap datangnya. Namun ia abadi sampai kini. Senyuman yang mensenyumkan.

Ada dzikir yang melantun dengan sempurna, pun menjadi pengobat hati. Ia merupakan bagian dari syariat. Untuk senantiasa kita perdalam. Sebagaimana susunan tata surya yang berada di antara semesta, begitulan ia berperan dalam waktu-waktu yang ada. Dzikir mempunyai bagian yang tidak akan pernah terpisahkan demi kedamaian hati seorang hamba. Wallaahu a’lam bish shawab.

Sebagaimana pengorbanan dan perjuangan yang terulur, maka hasil yang memuaskan pun menari-nari di ujung semua itu. Ya, keisenganku untuk mengunjungi dunia maya pada beberapa hari yang lalu, telah menjadi salah satu jalan untuk beraikan segala yang ada. Wahai sahabat maya, terima kasih ya, karena sudah menemaniku. Walau dalam beberapa detik waktumu yang luang, engkau pernah menyapaku. Engkau pernah tersapa olehku. Dan bahkan banyak dari engkau yang belum pernah aku bertemu. Semoga, kita tetap bersahabat, yaa. Seperti persahabatan Rasulullah dan sahabat beliau.

Di sini, di dunia maya, aku bertemuu dengan guru-guru yang empati dan peduli. Aku berjumpa dengan sesama yang sungguh empati dalam berteman. Walaupun menjauh sesaat dari beliau, aku mendekat lagi. Karena kami seakan sudah melekat, sehati.

Banyak kegiatan yang aku perhatikan dari beliau-beliau yang beraktivitas, pun yang melanjutkan perjalanan. Termasuk hari ini. Menuju ke manakah engkau, teman? Semoga langkah-langkahmu dengan sepenuh hati. Sedang melakukan apakah engkau, teman, berbuatlah dengan hati. Ah, sungguh pesan ini ku sampaikan pada diriku terlebih dahulu. Untuk ia yang sedang rindu akan hadirnya … <<ß- hihiii… suatu kalimat yang tidak terucap dan masih tertunda. Walaupun Cuma sebaris kata, namun ia berisi dan penuh makna, apabila ku usaha untuk melanjutkannya. Namun tunggu dulu, semua akan ada masanya.

Petiklah makna dari apa yang ada, setiap saat. Berdzikirlah dengan segenap kehadiran jiwa, pada pagi hari. Karena apapun yang sedang kita jalani, sesungguhnya berasal dari-Nya, Rabb Yang Maha Melihat. Allah sungguh Pengasih. Dan Allah tidak menguji hambanya, melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba. Oleh karena itu, usahlah berkeluh wahai hati, tetaplah tersenyum.

Muliakan hari ini dengan sejuntai doa yang engkau alirkan melalui bibirmu. Sapalah sesama dari dalam hatimu yang terjaga. Niscaya akan mudah bagimu untuk saling mendoakan demi keselamatan. Dengan demikian, semerbak cinta akan menjadi pengharum mata dan hati.

Bersekolahlah, bersahabatlah, bepergianlah, dan menjadilah bermanfaat. Bersama indah pribadimu yang terlihat mata, pun semoga indah saat matamu tertutup ketika suatu masa. Bersahabatlah dengan sesiapa saja tanpa membeda-bedakan. Dan semoga sahabat kita sebanyak bintang, yaa. Bintang yang berkelipan walaupun jauh di sana, namun kelipnya kelihatan senantiasa. Amiin ya Rabbal’alamiin.

Berpesanlah sesama saudara, dengan santun dan penuh tatakrama. Rentangkanlah banyak nasihat terhadap beliau-beliau yang kita ingin kebaikan ada padanya. Walaupun di bawah sinar mentari, bila ada kesempatan, luangkanlah suara, tunjukkanlah sikap, dan sampaikanlah semua. Sehingga tidak ada lagi perbedaan yang nyata. Meskipun awan kelabu dan mengandung hujan, lalu menitik ke bumi dan di sana kita sedang berada, rasakanlah kesejukan sesungguhnya.

Dengan berteman, kita belajar mengerti arti kehidupan. Dengan bersenyuman sesungguhnya kita sedang membagikan kebahagiaan. Dengan menebarkan suara, kita sedang membuktikan bahwa ada nada yang ada. Dengan berpuisi, kita belajar untuk menyampaikan suara hati. Dengan menggambar sebuah lukisan, kita memetik motivasi. Dengan menyusun rencana, kita sedang mencharger energi. Wahai indahnya di pondok kehidupan. Berpesan dan menyampaikan kesan sungguh memberikan kita banyak pengawal dalam perjalanan. Al Quran menjadi pedoman bagi kita tentang bagaimana menempuh jalan kehidupan. Ialah peta dalam perjalanan. Ialah jawaban saat kita bertanya, “Ke mana?” Di dalamnya ada penjelasan saat kita bertanya, “Siapa?.” Di dalam al Quran ada penerangan, saat kita berjumpa kegelapan. Ada pencerahan. Ada penenang. Ada harapan. Ada lentera. Dan di dalamnya penuh petunjuk bagi orang yang bertakwa.

“Kini aku akan benar-benar datang menyinari hatimu selayaknya matahari. Karena cahayaku mampu menyinari dunia jiwamu yang dalam dan gelap tanpa pernah tersentuh kalam yang Maha Mulia. Suatu saat nanti engkau akan berucap dan terus meneteskan air mata kesucian. Wahai kau yang mendamba cahaya tengadahkan hatimu untuk menyambut cintaku yang penuh gemilang cahaya yang tak pernah engkau lihat sebelumnya. Jadikan aku kebenaran untuk menerangi jalanmu di dunia ini menuju hidup dalam keabadian. Izinkan aku mati tersenyum karena telah memilihmu menjadi permaisuri di istana kemuliaan.” (By: Searcher… Who are you, sungguh indah untaian kata yang tersusun dalam kalimat-kalimat ini. Dan aku suka. Terima kasih, yaa)

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s