Atas berbagai hal yang aku alami, aku hanya perlu belajar sekali lagi saja. Dan begitu seterusnya.  Termasuk belajar tentang satu kata yang sedang memenuhi ruang hatiku. Rindu. Lalu, bagaimana denganmu?

Ketika engkau sedang tidak ada di sisiku wahai teman, maka beberapa dokumentasi tentangmu yang menemaniku. Dengan demikian aku  mengalami kebersamaan denganmu pada saat itu juga. So, jangan ragu. Engkau senantiasa ada bersamaku. Kan ku jaga ini dengan baik.

Berbagai tanda yang engkau selipkan di antara  jejak-jejakmu cukup membuatku tersenyum. Karena di sana pun ada jejak-jejakku. Walaupun beberapa saja diantaranya.  Ketika kita pernah menjalani waktu bersama.

Sebagaimana yang engkau pernah sampaikan padaku, bahwa aku tidak perlu menjadi orang lain untuk dapat menjadi diriku. Dan aku perlu berpositif thinking selalu, kapanpun dan dimanapun serta bersama siapapun aku. Termasuk saat aku bersamamu.

Engkau tidak memintaku untuk menjadi dirimu karena engkau menyadari dan memahami bahwa aku tetaplah aku yang dulu. Begitu pula dengan pemikiranku. Engkau tidak bermaksud untuk memperbarunya, karena ia adalah titipan untukku. Jadi, sebebasnya aku saja dalam mengelolanya. Ah, sungguh aku merindukan dirimu yang mengertiku.

Engkau dan aku memang bukan sahabat semenjak dulu, namun semenjak aku mengenalmu maka engkau adalah sahabat terbaikku. Dan begitu selalu. Tetap begitu.  Hingga detik ini pun sama. Engkau ada disisiku.

Kini, saat engkau sedang tidak bersamaku, mestikah aku menunggu kembalinya engkau? Sampai aku kaku? Karena peredaran darahku terganggu? Oh, tidak! Tidak. Aku tidak mau. Oleh karena itu, aku pergunakan waktuku yang ada sembari menunggu dengan berjalan-jalan di sini. Harap, engkau pun sedang melangkah di jalan yang sama denganku. Lalu, kita bertemu lagi atau pertemuan untuk pertama kali?

Engkau mungkin saja tahu lebih banyak tentang apa yang aku tidak lebih tahu. Atau bahkan engkau tidak pernah tahu sama sekali tentang apa yang aku tahu? Hmmm… bagaimana kalau kita saling bertukar pengetahuan? Ah, yang pastinya engkau tentu lebih berpengetahuan dariku.

Pada suatu waktu, aku pernah terdiam dan membisu bahkan kelu saat di depanmu.  Karena engkau bertanya padaku hal yang aku tidak tahu. Sehingga untuk bertanya balik kepadamu, aku menjadi tidak tahu apa yang hendak aku tanyakan. Oh, sungguh semua ini membuatku ingin berlalu. Namun bukan untuk itu segala yang ada menemuiku.

Supaya aku belajar untuk memahaminya ketika aku belum paham. Agar aku berusaha untuk menemukan jawabannya, ketika aku belum tahu. Dan agar aku semakin menyadari, bahwa tiada pengetahuanku tanpa pemberitahuan dari-NYA.  Wallaahu a’lam bish shawab. Semoga, engkau mengerti tentang makna diamku ketika itu. Walaupun tidak ku urai satu persatu dalam untaian kata melalui nada suaraku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s