Hari ini, seorang teman mengingatkanku pada hari kami bersama. Timoet, begini aku memanggil beliau.

Senja ketika itu. Menjelang malam merangkak hingga ke ujungnya. Sebelum dinginnya semakin berkuasa.

Malam itu, ada rembulan yang mulai benderang di luar sana. Sedangkan kami sedang berada di perpustakaan Sangga Buana. Berdua saja. Yah, karena kami mempunyai jadual untuk membaca beberapa literatur, pada waktu yang sama. Hingga akhirnya, Timoet pun sempat mengabadikan beberapa ekspresiku ketika itu. Oh, aku terkenang pada masa-masa yang mengesankan. Saat ini, aku tersenyum kembali, sama seperti saat itu.

Day by day, I am enjoy my day.

When I am cry, I cry by tears,

When I am smile, I show it on my face,

When I laugh, I use my voice,

Then, When I am silent, look at my expressions. There is difference between all of that expression.  You will look my face is so serious.

Hari ini Timoet titipkan kembali ekspresi yang sama, di dinding hariku. Sehingga seakan dejavu. Ketika aku menyaksikannya lagi. Ya, karena pada saat beliau mengingatkanku lagi hari ini, tepat pada waktu yang sama, aku kembali berada di perpustakaan Sangga Buana. Namun tidak bersama Timoet, tentunya.

Oh, beliau mengingatku pada waktu itu. Lalu bagaimana denganku?

 Hmm…
Gimana yaa…?
Berpikir ku sejenak, mencoba mengingat-ingat. Dan ternyata, ahaa…! 😀 Pada waktu beliau ingat padaku, aku pun sedang mengingat Timoet, tentu saja. Bersamaan dengan hadirnya ingatan pada seorang teman seperjuangan kami yang lainnya, Teh-Mey.

Karena, saat ingatan tersebut mengalir, aku sedang bersapa dengan teman kami yang lainnya pula. Teh Neny. Beliau hadir pula di perpustakaan Sangga Buana, dengan sendiri pada senja hari ini. Sedangkan aku, ketika menyaksikan kehadiran beliau, sempat terpesona. Seakan ada dan tiada, aku percaya namun masih belum sepenuhnya. Aku menyaksikan sesosok perempuan muda sedang melintas tepat di depan meja di mana aku berada.

Aku yang mengangkat wajah untuk beberapa lama, untuk memperhatikan sekitar. Karena ada yang baru datang. Lalu, aku seakan mengenal sosok tersebut. Wajah ayu nan jelita, kini masih dalam ekspresi yang dulu. Beliau gemar tersenyum. Dan walaupun sedang tidak tersenyum, dapat ku saksikan sebaris senyuman yang sedang mengukir indah pada permukaan wajah beliau. Lalu, ku beranikan bertanya, walau beliau sedang tidak di hadapan. Beliau lagi berdiri di balik tiang, ketika aku  mengeluarkan suara.

 “Teh Neny, bukan yaa?,” aku menerka.

 Lalu apa yang terjadi??

 Sosok yang ku maksudkan, segera mencari-cari sumber suara. Beliau berpaling ke arahku pula. Dan aku pun tersenyum. Karena benar, beliau adalah Teh Neny, temanku.

Kami pun bereuni untuk beberapa saat saja. Karena setelahnya, kami perlu melanjutkan tugas yang sedang kami kerjakan. Setelah menanyakan tentang keperluan kami masing-masing berada di perpustakaan Sangga Buana, ternyata Teh Neny pun sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir. Aaasssyyiiiilkkk, ada temen lagiii,…  😀

Kebahagiaan mengalir dari wajah Teh Neny. Begitu pula aku. Kami bersenyuman. Kami berpandangan. Ai! Indahnya pertemuan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s