Masa Critica - Noviembre 2010
Masa Critica – Noviembre 2010 (Photo credit: Eduardo Meneghel)

Semenjak saat muda, ia asyik menyusun kata. Merangkainya semenjak malam hingga senja. Tidak kenal waktu. Sampai akhirnya ia terlupa, usianya telah senja. Dan kini matanya mulai rabun pula tidak dapat melihat dengan jelas. Ia belum buta, namun memang tidak dapat lagi menentukan mana huruf yang perlu ia rangkai terlebih dahulu. Tidak seperti dulu, ketika ia masih muda.

Masa mudanya yang penuh dengan cerita, memang sempat ia abadikan dalam rangkaian kata-kata. Begitu pula dengan banyak saudara, sanak dan handai taulan yang pernah ia jumpa. Saat ini, ia hanya dapat menyapa mereka semua di dalam doa-doa saja. Karena ia tidak dapat lagi melakukan hal yang sebelumnya pernah ia laksana. Bahkan, untuk menuliskan sebaris kalimat saja, ia tidak kuasa.

Rindu memang ia alami pada saat ini. Begitu pula dengan rasa selanjutnya. Ia hanya dapat meredamnya di dalam dada. Karena untuk mengungkapkan dalam nada suara, pun ia tidak berdaya. Ia telah begitu lemah dengan raganya yang tergeletak tidak bertenaga. Raganya hanya tersisa lembaran tipis yang membalut tulang belulang saja. Sungguh kurus adanya. Ia telah terlanjur tua.

Usianya yang tidak lagi seperempat abad, kini telah benar-benar mendekati ajal. Kalau tidak segera menjelang akhir usia, tentu ia akan semakin lama menderita di dunia. Penderitaan yang ia rasakan karena tidak lagi dapat menguraikan berbagai rasa yang masih melekat di dalam jiwanya. Pun karena tidak dapat lagi menyapa sesiapa saja yang kini sangat ia damba. Sedangkan ingatannya? Sungguh kini telah benar-benar tiada.

Sebaris dua baris kalimat masih ia coba lantunkan dari dalam hatinya, melalui bibir yang bergerak pelan. Namun masih saja tidak ada sepatah katapun yang dapat didengar oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya. Begitu lama penantian, hanya ada desah nafas saja yang akhirnya tertahan. Ia benar-benar tidak lagi mempunyai kekuatan. Raganya telah rapuh.

Melihat kondisinya yang sedemikian, timbullah keprihatinan dari orang-orang yang sedang menemaninya. Mereka sangat kasihan, sekaligus prihatin dan ingin memberikan pertolongan. Mereka bertanya, menanyakan dengan bahasa isyarat yang sekiranya dapat ia mengerti. Dan ternyata, ada jawaban yang mereka peroleh, melalui tetesan airmata yang mulai muncul dari ujung matanya. Ia menangis, ia menitikkan airmata.

“Adakah gerangan yang dapat kami lakukan terhadapmu, wahai fulan?,” tanya seorang yang berada sangat dekat dengannya.

Dalam kondisi yang semakin memprihatinkan, kembali terlihat bulir bening permata kehidupan mengalir dengan mudahnya dari dua mata yang sedang terpejam.

***

Saat raga kita tidak mampu lagi bergerak sebagaimana mestinya, maka yang mampu bicara hanyalah hasil cipta dan karya yang pernah kita beraikan. Saat tidak ada lagi yang dapat memberikan jawaban atas tanya yang sampai pada kita, maka segala yang pernah kita ucapkan dalam bahasa tulisan dapat memberikan perwakilan. Ia dapat menjadi juru bicara saat lidah kita telah kelu tidak lagi dapat berbahasa lisan. Ia dapat memberikan kita senyuman, saat wajah kita tidak dapat lagi mengembangkan meski sebaris senyuman. Dan saat akhir kehidupan menyapa kita, biarlah kedamaian yang sedang kita bariskan dalam bahasa tulisan yang memberikan bukti, bahwa kita pun pernah memperhatikan apa yang sedang kita lisankan. Termasuk segala hal yang kita tuliskan. Semoga, ia menjadi jalan yang memberikan penjagaan kepada kita kelak.

Kita tidak dapat memastikan bagaimana akhir kehidupan yang akan kita jalani. Pun kita tidak dapat menandai pada angka berapa kita akan terlelap dalam sunyi raga tanpa jiwa. Akankah kita tahu dan masih menyadari saat detik terakhir itu datang? Ataukah kita telah melupakan segalanya? Wallaahu a’lam bishshawab. Akan tetapi, harap husnul khatimah adalah ujung dari perjalanan kita di dunia ini. Aamin ya Rabbal’alamiin.

Dengan adanya berbagai amalan penting yang kita lakukan dengan rutin, semoga menjadi jalan bagi kita untuk mencapai cita yang kita damba. Tidak perlu terlalu banyak, namun konsisten.  Akan tetapi kalau sering dan banyak, alangkah bagusnya. Seperti berlatih tersenyum, misalnya. Karena tersenyum itu adalah bagian dari shadaqah. Atau menjaga kebersihan, contoh lainnya. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?

So, mulailah dari hal-hal yang ringan dan terdekat dengan kita terlebih dahulu. Sebelum kita merambah dunia yang lebih luas. Karena segala yang kita mula dari dekat akan mengarah pula ke wilayah yang lebih luas, kalau kita menjalankannya dengan benar.

Tidak perlu membandingkan apa yang sedang kita lakukan dengan orang lain. Pun tidak perlu menonton dan mengomentari keadaan orang lain. Sebelum kita mengembalikan semua kepada diri kita terlebih dahulu. Kecuali kalau kita melihat apa yang orang lain lakukan, sebagai sarana bagi kita untuk meniru dan meneladani  dan kita aplikasikan pula dalam keseharian. Kalau semua demi keadaan yang lebih baik,  why not? Bukankah kita dapat belajar dari alam? Dan bentangan alam yang lebar dan luas, merupakan sarana bagi kita untuk segera mengambil pelajaran.

Belajarlah dari seorang kakek yang sedang tertidur lemah karena tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri lagi. Berbenahlah semenjak saat ini. Selagi kita masih muda dan mempunyai energi yang berlebih. Berbuatlah yang terbaik bagi kebaikan di masa depan. Karena segalanya akan menua. Semua pun akan berakhir. Semoga kita selalu ingat, bahwa masa muda pun begitu. Ia akan berganti menjadi masa-masa yang sama dengan kakek tadi. Kakek yang kita saksikan hanya bisa terlelap di tempat peristirahatan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s