Bahasa Melayu: Air bubble trapped in a water d...
Bahasa Melayu: Air bubble trapped in a water droplet in a clothes line. (Photo credit: Wikipedia)

Haru itu ada di dalam kalbu. Ia hadir saat kita ingat pada sesiapa saja yang kita rindu.

Oh, sungguh…!

Memendam rindu mampu membuncahkan haru di dalam kalbu. Sedangkan pada saat yang sama, ruangnya menjadi lebih luas, mengembang dan ketika kita menyaksikan ruang tersebut, suasananya sedang kosong. Sehingga kita melihat diri kita sedang berada di sana. Ia menatap ruang yang sedang hampa dan tiada sesiapa. Ia memandang setiap sudutnya yang tidak berpenghuni. Dan haru itu hadir di sana, ketika rindu telah memenuhinya. Rindu yang tidak terlihat, namun sesungguhnya ia ada.

Haru hadir di dalam kalbu. Kalbu yang sedang tidak berisi. Sehingga memungkinkan baginya untuk menghadirkan apa saja yang sedang ia rindukan ke dalamnya.

Semalam… aku terharu, karena rindu. Hingga ku dapati pinggiran mata ini membengkak, this morning. Hah! It was happened.  Dan aku akan seringkali mengurai kerinduan ini, walaupun ujung-ujungnya mata ini mengatup dan tak membuka lagi. Karena dari haru yang menyelimuti kalbu, aku menjadi tahu. Siapakah aku? Siapakah yang aku rindu?

Tidak lama waktu berlalu, aku kembali merindu. Aku rindu suasana itu. Suasana yang penuh dengan keharuan. Ketika aku mengunjungi sebuah ruang yang sedang tidak ada penghuninya. Ketika kalbuku sedang kosong. Saat tiada sesiapa di sana. Maka dapatlah ku menghadirkan sesiapa di sana. Ai! Menghapal nama-nama-Nya, semakin membuncahkan haru.  Hingga tenggelam ku di dasar lautan rindu. Di sekitarnya banyak mutiara-mutiara nan bening wujudnya. Airmata keharuan pun menetes. Sungguh kenikmatan terindah.

Di dunia ini, ada masa kita menangis, pun ada waktunya kita tersenyum. Menangislah karena harumu sedang membuncah, dan tersenyumlah saat engkau mampu memendam rindu. Karena keduanya ada, untuk menghiasi kisah dalam perjalanan kehidupanmu.

Betapa indahnya memendam rindu, hingga ia membuncah haru. Karena pada saat ia hadir, meneteslah permata kehidupan di sekitar matamu, dengan derasnya.

Wahai, mengapa engkau merindu, ada apa dengan haru? Cukupkah dengan menangis engkau dapat melepaskan rindumu? Dan sanggupkah engkau tenggelam dalam lautan haru yang akhirnya menenggelamkanmu?

“Aku ingin terus memendam rindu. Rindu yang hanya ku sampaikan dalam buncah penuh haru,” bisikmu di telingaku.

Ketika suara memang dapat mengalir, namun ia tidak dapat tersuarakan. Maka pada saat itulah mulut mengatup. Saat suara itu sesungguhnya ada, namun ia tidak dapat terdengar, maka pada saat itulah engkau perlu mengeluarkannya.

“Keluarkanlah rindumu, hingga engkau benar-benar tahu, bahwa engkau sanggup menghadapinya. Karena ujung-ujungnya, kerinduan itu akan mensenyumkanmu. Dari pada engkau memendamnya, yang berujung haru. So, pilih yang mana?,” aku menantangmu. Agar engkau merubah pemikiranmu.

Sedangkan engkau menggelengkan kepalamu. Engkau masih belum setuju dengan permintaanku.

“Karena dengan begini, aku kenal siapa aku,” tambahmu.

Lalu aku mendekatimu dan memeluk erat. Karena aku pun sangat kenal, mengerti dan memahami siapa engkau. Engkau yang beberapa saat kemudian, menempelkan kedua telapak tanganmu di sekitar punggungku seraya menepuk-nepuknya. Sungguh keakraban ini ingin terus ku jaga. Karena dengan begini, kita kembali dapat bersenyuman. Nah! ketika kita berjauhan kelak dan tidak lagi bersama seperti ini, maka aku akan merindukanmu. Rindu yang ku pendam hingga membuncah haruku. Hingga kita kembali bersua. Dan pada saat yang sama, aku akan tersenyum lagi, bersamamu. Seperti saat ini.

Kalau rindu dan engkau terharu, sendiri aja. And enjoy it.  But kalau engkau bahagia dan tersenyum, bersama-sama tentu lebih indah, bukan? Karena kesannya tentu berbeda.

🙂🙂🙂

C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s