Janji Mentari
Janji Mentari (Photo credit: M Reza Faisal)
Hai Pagii… Mentari bersinar lagi, lho.  Inginkah engkau ikut bersinar bersama kami? Mentari pagi ini. Ketika kami sudah datang padamu, dan kami mensenyumimu. Alangkah  indah dan baik rasanya, kalau engkau turut serta. Karena kehadiran kami di sini bersamamu adalah untuk menjadikan hari-harimu lebih baik lagi. Dan walaupun untuk beberapa waktu ke depan saja kita dapat bersama, itu sudah dapat membuat mentari menjadi lebih baik. Karena engkau telah memperkenankannya untuk menjadi bagian darimu, wahai pagi.Pagi, kami ingat, sudah sekian kali kita bersama, bukan? Dan pada pagi ini, kami ingin menjadikanmu lebih bermakna bersama kami. Dengan demikian, kami dapat memulai hari ini dengan semaksimalnya.Wahai pagi, kami di sini, bukan untuk menyapamu saja. Namun kehadiran kami adalah untuk menitipkan beberapa baris kalimat berisi kata. Kami ingin agar ia abadi di sini, di lembaran pagimu yang sempurna. Dan kelak bila kami inginkan melihatnya lagi, tentang pagi yang hari ini, maka kami dapat menyapanya kembali. Ya, sama seperti pagi ini, ketika kami menyapamu, wahai pagi.

Walaupun kita tidak akan bersama hingga siang dan sore nanti, namun mengunjungimu saat ini sudah membuat kami berseri-seri. Turut menserikanmu, adalah salah satu kebahagiaan terdalam yang ingin kami gali lagi. Dan saat ini, kami yang sedang berada di atas langit pagi, sedang bercengkerama dengan awan gemawan yang masih lembab. Begitu pula dengan embun yang belum lagi memuai menjadi awan, ia akan kami sudahi dengan sinar yang kami pancarkan lebih kuat lagi. Oleh karena itu wahai pagi, mari kita bersama menjalani kebersamaan ini. Agar, semakin berkesan ia dengan bekas-bekas yang dapat kita namakan prasasti.

Pagi adalah suasana yang sangat mendamaikan. Terlebih lagi ketika mentari perlahan muncul. Raga yang semulanya sedang mendekap jemari dan mempermainkannya, dapat pula mengubah posisi dengan menggerakkannya, bukan? Sehingga ia yang awalnya kaku dan tidak bertenaga, kini menjadi semakin lemas dan cepat gerakkannya. Ia melentur dan berlarian dengan lebih leluasa. Wahai inilah salah satu jalan bagi kita untuk dapat menghadirkan beberapa baris kalimat. Dan kini, mentari yang menjadi saksi pergerakan jemari, sedang senyum-senyum sendiri sembari terus melayangkan tatapnya pada seluruh alam.

Bersama jemari, kita dapat merengkuh asa. Bersama jemari pula kita dapat menyampaikan tanya pada sesiapa. Walaupun mulut tidak dapat membuka dan suara tidak mengalir sebagaimana mestinya. Maka cukup dengan menguntai tanya melalui suara hati yang mengalir melalui pergerakan jemari, maka kita dapat menemukan jawaban dari apa yang kita tanya.

Bertanya, bertanyalah kapan saja, teman. Baik ketika pagi mulai menyapa, pada siang maupun sore ini. Dan setiap kali engkau hendak menyampaikan sapa, ingatlah pada mentari. Ia yang sedang menyapamu saat ini, ketika pagi. Maka engkau akan menampilkan wajah berseri-seri penuh dengan tanda tanya, pada sesiapa saja yang ingin engkau tanya. Karena mentari meneladankan hal yang sama, padamu.
Mentari, ia sedang menjalankan baktinya. Ia sedang melanjutkan revolusinya. Ia yang kita lihat sedang diam saja, itu hanya akibat dari pandangan mata karena kita jauh darinya. Namun kalau kita perhatikan dengan saksama, adalah setiap waktu dan detik yang ia bersamai, penuh dengan pergerakkannya. Karena mentari tidak akan pernah henti menyampaikan sinarnya, kecuali pada akhir waktunya.Alangkah gelap dan bekunya dunia ini, tanpa mentari yang bersinar. Dan semua itu dapat kita saksikan setiap waktu, bukan? Coba engkau bayangkan dan engkau dapat pula langsung membuktikannya. Berangkatlah ke kutub utara dan atau kutub selatan. Di lokasi yang mentarinya sangat tidak terlihat sama sekali. Beku sungguh dingin, bukan? Ah… tentang hal ini, aku memang belum pernah membuktikan. Namun dari hasil membaca dan menyimak pelajaran, aku menjadi tahu informasi yang mencengangkan ini. Lalu kita, di manakah kita berada saat ini? Di bagian bumi yang manakah kita berada wahai pagi? Pagi yang sedang menyediakan dirinya untuk menyambut kicau beburung dan membersamainya. Pagi yang sedang memberikan kesempatan pada mentari untuk bersinar lagi. Pagi yang ada bersama hari ini, menjadi salah satu lembaran kehidupan. Semoga dalam berbagai kesempatan terbaik, jadual pagi dapat kita selipkan di sini. Baik saat aktif dan bersemangat, maupun ketika kantuk masih menyerang dua mata ini. Namun kita akan usaha untuk mengalirkan berbagai kondisi dalam rangkaian kalimat, yess?

Mentari pagi, aku suka. Dan pagi ini, kami bersama.

Sapaku dan Mentari pada Pagi, “Hai, Pagiii… ??!”

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s