Ge'ule Teman haMeyasdim st 01
Ge’ule Teman haMeyasdim st 01 (Photo credit: Wikipedia)

Malam ini, hujan turun dengan derasnya, bergemuruh. Dan suara tetesannya yang ramai, membuatku terjaga dari lelapku semula. Ku menyimak dengan saksama, setiap suara yang ia cipta. Suara di tengah sunyinya alam. Suara hujan, teman. Sungguh syahdu mendengarkannya.

Aku membuka dua mataku, mengusapnya sejenak, mengedipkan lebih lama. Kemudian duduk dan belum berdiri. Kini, aku menghadapmu, menyertakan wajah yang mulai tersenyum lagi. Ai! Senyuman yang mengalir sebab aku bahagia dan mempunyai harapan lagi. Bahwa musim memang berganti. Ada masanya siang, pun malam menyelingi. Dan ketika kini mentari sedang tiada bersinar di sini, semoga esok ia kembali tersenyum pada bagian bumi tempat keberadaan kita, yaa.

Harapan ini, terus ku jagai, agar ia senantiasa ada dan menemani. Sehingga aku tidak lagi merasakan sunyi walaupun sesungguhnya sunyi itu memang ada. Aku tidak lagi merasa berada di tengah kelamnya alam, meskipun sebenarnya kelam itu ada. Karena membekas ingatan pada pikir ini, ingatan yang mengingatkanku untuk terus menyalakan harapan. Bahwa mentari ada, dan ia akan bersinar setelah kelam menyelimuti alam.

Pada malam begini, satu kondisi yang sedang ku nantikan adalah hadirnya pagi bersama sinar mentari. Pagi yang membuatku bangkit dan segera berdiri. Untuk meneruskan perjalanan lagi. Sedangkan kini, biarlah begini. Aku akan duduk-duduk di sini untuk beberapa waktu ke depan. Untuk membersamaimu, teman… Agar engkau pun mempunyai teman. Karena dalam yakinku, hadirmu di sini saat ini pun karena engkau sedang berjalan-jalan, bukan? Dan terhentinya engkau di sini walaupun sejenak, tentu engkau sedang memetik pesan,  bukan? Atau engkau telah menyusun beberapa pesan untuk engkau sampaikan padaku, aku yang sedang duduk di dalam sunyinya alam. Bersama kelam malam.

Di tengah deras hujan yang masih menetes ke alam seperti ini, aku teringat dan kembali mengingat seorang teman. Teman yang hadir hanya di saat mentari bersinar saja. Teman yang sebelumnya ku kenal dari kejauhan. Dan wajahnya yang entah rupawan atau menawan, tidak dapat ku lihat dengan jelas. Hanya saja, aku dapat melihat bahwa ia begitu menarik perhatian. Sehingga walaupun tanpa bertatapan, ia telah membuatku tertarik padanya. Teman seperjalanan.

Saat ini, ingatanku kembali meningkat. Lalu, ku bagi ia dalam potongan kertas-kertas kecil yang ku usaha untuk menyatukannya lagi. Agar aku dapat menangkap makna tersembunyi dari ingatan ini. Dan aku tidak menjadi terpusingkan karenanya. Apa sebab? Karena aku meyakini dan menyadari dengan sepenuhnya. Bahwa tiada satu keadaan, kondisi dan kejadian walau sebentar saja, yang tidak ada hikmah dan makna di dalamnya. So, kemauan kita dalam mendata hikmah tersebut akan sangat menentukan bagaimana kita dalam menyikapinya. Seperti saat ini. Terbangunnya aku dari lelap, karena denting suara hujan yang semakin menderas, tentu ada makna. Untuk mengingatkanku lagi, setelah hujan kan hadir sinar mentari. Walaupun tidak kini. Karena ini masih dini hari, teman, dan belum dapat disebut pagi.

Di sini, ku menyambung lagi mimpi yang tadi terputus… Dan ia menjadi sarana bagiku untuk melanjutkan perjalanan. Ketika belum lagi ku dapat melangkahkan kaki-kaki ini di alam. Karena masih terlalu dini hari. Malam dan Kelam. Hiiy. Dan esok, ketika pagi benar-benar kembali, aku ingin melanjutkan langkah-langkah lagi di bawah sinar mentari pagi.  Aku janji. Sekalipun mentari tidak dapat menampakkan senyumannya, maka aku akan tetap tersenyum. Karena dalam yakinku, mentari pun tersenyum, walau belum dapat ku lihat jelas senyuman itu. Hanya dalam ingatan, kami bertemu.

Cuaca kan berganti, musim kan berubah. Teruslah melangkah.

Masa bertukar dan jarum jam berputar. Teruskan perjuangan.

Hari ini, bukanlah hari esok. Sedangkan hari esok itu belum pasti. Keep our best effort today only and now.

Wahai bentangan alam yang benderang, see you… ***

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s