Bahasa Melayu: Gambar kubur di perkuburan Isla...
Bahasa Melayu: Gambar kubur di perkuburan Islam. Batu nisan berbentuk bulat adalah kubur lelaki, manakala yang berbentuk leper adalah wanita. Namun, tidak semua batu nisan mengikut perlambangan ini. (Photo credit: Wikipedia)

Sering mengingat, teringat dan diingatkan dengan kematian, semoga menjadi jalan bagi kita untuk senantiasa ingat, bahwa kita juga akan mengalaminya. Sedih rasanya saat ditinggal, memang. Sendu adanya menerima kabar kehilangan, pasti. Namun semua itu adalah bahan pelajaran bagi kita, untuk menyadari, bahwa keberadaan kita di dunia ini memang hanya sementara. Tidak lama, dan tidak selamanya.

Beberapa hari yang lalu, kami ditinggalkan oleh Kuroko. Sedangkan hari ini, Ciripa menyusul saudaranya pula. Mereka telah kembali kepada-Nya dalam waktu yang dekat. Dua saudara itu, adalah kucing yang ada di kost-kostan kami. Mereka kakak beradik, saudaranya Borjin. Masih satu Ibu dengan Bonchu, namun mereka adalah generasi kedua.

Setelah meninggalnya Ciripa dan Kuroko, berarti tersisa dua lagi anak-anaknya Catchy, yaitu Bonchu dan Borjin.

Bonchu dekat denganku semenjak keberadaannya di dunia ini. Sedangkan tiga saudaranya yang lain (adik-adiknya; Ciripa, Kuroko, dan Borjin) tidak begitu dekat. Karena semenjak kelahiran mereka, ada yang mengurus dan memberi makan. Sedangkan aku hanya berperan sebagai penikmat pemandangan saja. Aku turut ceria dalam keceriaan mereka saat bermain-main di halaman. Dan aku turut tersenyum bersama senyuman teman-teman yang mempermainkan ketiga kucing-kucing lucu itu. Namun kini, setelah mereka tiada, akhirnya nama-nama mereka menjadi bagian dari catatanku. Wahai, walau kita tidak pernah bersama, Ciripa dan Kuroko, namun ketiadaan kalian membuatku sendu juga dan terkesan.

Untuk pertama kalinya, Senin yang lalu, aku berperan sebagai perempuan penggali kubur, bersama Rini salah seorang sahabat penghuni kostan juga. Dan sangat berkesan. Di setiap tanah yang kami gali, teringatlah kami  pada kematian. Teringat kami pada lempengan yang untuk masa berikutnya akan menjadi bagian dari diri kami juga. Teringat kami pada akhir keberadaan kami di dunia ini. Ai! Dalam haru, meneteslah airmata pelan-pelan. Muncul di sudut mata, kemudian berhenti sejenak di kelopaknya. Untuk selanjutnya, ia pun menderas di pipi. Dengan membaca Bismillah, kami meletakkan ‘jenazah‘ Kuroko di peristirahatannya yang terakhir.

Untuk kedua kalinya, hari ini, aku kembali melakoni peran sebagai perempuan penggali kubur. Kuburan yang aku gali sebisanya, dengan beberapa peralatan yang tersedia. Ya Allah… ini yang aku bisa upaya. Hah!

Setiap galian, ada makna. Setiap galian, ada ingatan. Setiap tarikan tanah yang ku angkat ada pesan. Begitu pula dengan kedalaman yang ku perkirakan. Cukup untuk seekor kucing kecil. Semoga Allah meridhai. Karena sebelumnya aku tidak tahu, bagaimana peraturan dalam penggalian kuburan. Hanya saja, ketika menjalankannya, masih terbersit tanya di dalam hati. Memang beginikah caranya?

***

Atas dua kejadian tentang kematian ini, mengakibatkan saudaranya yang lain terlihat bersedih. Apalagi ibunya yang sangat sendu dan berlinangan airmata. Catchy, ia menjadi tidak doyan makan. Tidak semangat bergerak, dan bawaannya tidur melulu. Tidur dari satu keset ke keset lain, kemudian berpindah pada lokasi yang berbeda. Terkadang di depan kamar mandi, tidak jarang pula di depan kamar-kamar yang biasa ia kunjungi.

Sebagaimana hari-hari yang lalu, hari ini Catchy masih terlihat sama. Ia tidak bersemangat dan layu tubuhnya. Kemudian ku coba menyapanya lagi untuk ke sekian kalinya. Memberikan beberapa potong menu yang ku kira dapat ia sukai. Namun hasilnya masih NiHiL. Catchy masih mogok makan. Ia tidak bergeming sama sekali, saat disuapipun. Wahai… kesedihannya masih tersisa.

***

Kematian mampu menyisakan luka di hati sesiapa saja yang mencintai dan menyayangi kita. Kematian akan sangat membuatnya berduka, ketika menerima kabar bahwa kita telah tiada. Kematian sungguh erat kaitannya dengan jiwa. Apabila kita mempunyai jiwa yang sama, maka seakan tertariklah jiwa yang lainnya, atas kepergian kita. Sehingga ia rasakan ada yang merenggut jiwanya juga. Ia pun ikut terluka.

Tetesan airmata yang masih membekas di kedua pipi dan ujung mata Cathy, ku coba usap. Ku coba membersihkannya lagi. Namun ia masih tidak berkutik sama sekali. Tanpa senyuman sama sekali, dan ini merupakan pertanda bahwa Catchy sedang dalam kesedihan mendalam. Wahai Catchy, ia adalah seekor kucing yang sedang dalam nuansa berkabung. Ia sedang menjalani masa-masa kehilangan dua anak yang sangat ia sayangi dan cintai. Dan kesedihannya masih berlanjut hingga saat ini.

Catchy, ia adalah makhluk yang punya hati, ia memiliki kasih dan sayang. Namun ada yang kurang darinya, tidak Allah karuniai dengan akal sebagaimana kita. Catchy bersedih dan tidak mau makan, karena ia tidak memikirkan. Bahwa dengan cara demikian akan berakibat pada kesehatan raganya. Ia tidak menimbang hingga sejauh itu. Oh… betapa kasihan. Benarkah Catchy tidak memikirkan hal ini, yaaa…??!

Fakta terkadang memang tidak kita inginkan. Namun saat ia berlangsung, maka sikap kita dalam menjalaninya merupakan penentu. Bagaimana reaksi yang dapat kita berikan terhadap fakta? Lalu menyelami lautan makna yang ada padanya. Untuk kita bawa menjadi bekal dalam menghadapi fakta-fakta yang berikutnya. Fakta yang belum pernah kita duga, dan tidak sempat kita rencana. Namun kita mempunyai kesempatan untuk bersua dengannya.

Meningkatkan ingatan kita pada peristiwa kematian semoga menjadikan kita insan-insan yang senantiasa terjaga setiap saat. Terjaga saat menitipkan harapan di dunia. Tidak menitipkan padanya, namun kepada-Nya.

“Harap husnul khatimah adalah ujung kehidupan kita di dunia… Aamiin ya Rabbal’alamiin. Harapan yang memberikan kita peluang untuk bergegas melatih diri setiap saat. Berjuang untuk mengingatkannya setiap waktu. Bahwa dunia hanyalah tempatnya bersinggah. Di dunia ia hanya merantau, dan akan kembali lagi pada kampung halaman yang abadi, akhirat. Kapankah… kita tidak pernah tahu waktunya.”

^^^_____________________________________^^^

2 thoughts on “Selamat Jalan Ciripa, Selamat Jalan Kuroko… T_T

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s