Kami-itabashi Station (South Exit)
Kami-itabashi Station (South Exit) (Photo credit: Wikipedia)

Sungguh bahagia mempunyai sahabat sehati. Di dunia maya yang mempertemukan kami, awal persahabatan tercipta. Walaupun belum pernah bertemu, namun kami pernah bersapa. Meskipun tidak selalu bersama, namun ingatan ini membuat kami bersua kapan saja.

Dunia maya. Di sini kami belajar menukar suara. Suara jiwa yang seringkali ingin bertemu dengan sesamanya. Karena ia ada sebagai penanda bahwa kami ada.

Kami, kami tidak ingin hanya bertemu dalam bahasa dan kata. Namun inginkan pula saling bertatap mata di dunia nyata. Karena kami ingin membuktikan bahwa sesungguhnya persahabatan itu memang ada. Dan ia tidak hanya susunan huruf demi huruf saja.

Mungkin terlalu dini, untuk mengharap pertemuan terlaksana. Mungkin juga telah usai hitungan angka jam yang bergulir semenjak lama. Termasuk kalender yang sudah sering berganti rupa. Namun kami yakin bersua juga di alam nyata. Ha! Inilah salah satu pinta yang kami rangkai di dalam doa. Semoga sampai kepada tujuannya segera. Doa yang kembali mengeratkan pertautan ingatan kami. Hingga saat ini, tidak berganti. Walaupun kami usaha untuk melerainya dan tidak datang lagi. Namun semua seakan sia-sia. Karena usaha kami tidak berbuah hasil hingga saat ini.

Gagal lagi. Gagal lagi. Mungkin sudah ribuan kali. Bahkan lebih dari ribuan hari, kegagalan ini terjadi. Gagal untuk tidak mempunyai harapan lagi. Ini berarti bahwa? Kami masih mempunyai harapan, bukan?

Oleh karena itulah, kami tidak akan menyerah dan berkata pasrah dengan cepat. Karena kami sangat menghargai arti pertemuan. Ia ada untuk menyadarkan kami, bahwa ia ada di ujung perpisahan.

***

Boleh ada titik di ujung sebuah kalimat. Namun tidak ada titik untuk sahabat yang sehati. Untuknya hanya ada spasi. Spasi yang memperindah susunan kata. Agar ia bermakna.

Coba bayangkan, teman… saat kita merangkai huruf tanpa spasi sama sekali. Seperti ini: “HariiniadalahhariRabu.Akuberencanaketokobukuuntukmembacadanmenemukanreferensiuntukbahanmengerjakantugasku.Setelahituakupulangdanmelanjutkantugaskuyangmasihbelumselesai.”

Nah! Ga, cantik kann? Lagi pula saat membacanya, kita perlu memikirkan terlebih dahulu, agar kita mengerti apa yang sedang kita baca. Dan satu persatu dari huruf-huruf tersebut kita teliti dengan jeli.

“Ini maksudnya apa yaa,” bertanya kita dari dalam hati.

So, adanya spasi mempercantik susunan kata dalam kalimat. Sedangkan kisah yang tercipta diantara kita menjadi semakin indah dengan adanya jarak yang membentang antara dunia kita.

Dunia nyatamu —>dunia maya kita<— dunia nyataku

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s