bukan nyamuk
bukan nyamuk (Photo credit: azranx)

Baruuu, aja kemarin aku merangkai kalimat tentang ini. Tolong baca dengan teliti, simaklah dengan sepenuh hati, isi dari barisan kalimat yang terbit pagi kemarin itu. Kalimat-kalimat yang ku rangkai menjelang berangkat beraktivitas, beberapa menit sebelumnya. Ya, ini…

Temanya adalah ‘Update Lagi’. Dan saat ini, aku memang perlu update lagi inti dari pesan yang sedang bersenyuman di antara kata demi kata.  Di sini, apa yang perlu update? Ah… bukan maksudnya untuk ‘update note di sini’. Bukan pula memperbarui sumber informasi dari mana datangnya virus. Namun di sini, aku sedang belajar untuk update langkah-langkah hilangnya virus dari diri ini. Dan salah satunya adalah dengan berzikir.

Bukan kita inginkan sesuatu hal terjadi. Tidak kita harapkan ia menghampiri. Namun kalau ia datang kepada kita, maka mengelak darinya saat ia tidak kita kehendaki adalah pilihan. Seperti yang aku alami. Ingin rasanya bertanya pada malam yang saat ini masih menyelubungi alam. Ingin sangat ku bertanya, “Mengapa ia tercipta di antara kami?”

Aku tidak menyalahkan malam yang menggelapi hari. Aku pun tidak menyalahkan jendela yang sedang merapat dengan kusen. Pun pintu yang celahnya tidak sedang membuka saat ini. Tidak. Tak juga ingin ku salahkan mentari yang sedang berada di belahan bumi yang lain, di sana. Sehingga alam tempat ku berada kini, sungguh gelap adanya.

Gelapnya alam, tak akan membuat gelap mata ini. Ia akan terus membuka dan membukakan hati untuk tak merasakan gelap pula. Karena kalaulah hati telah gelap, tak akan terlihat lagi cahaya kebenaran. Apalagi kalau ia telah terlarut dengan kepentingannya sendiri, sehingga tidak mau lagi memikirkan tentang kepentingan orang lain. Sungguh… sungguh… dari dalam hati, ku ingin belajar untuk memahami keadaan.  Karena untuk selanjutnya, tidak dapat ku pungkiri ataupun ku prediksi, akan ada kejadian serupa dengan yang saat ini aku alami. Ketika kepentingan kita pun kepentingan orang lain. Maka dahulukanlah kepentingan orang lain, selagi itu memang perlu dan demi kebaikan. Dengan demikian, kita belajar untuk menjadi seorang insan yang penuh dengan pemahaman.

Aku yang semenjak awal telah memperingatkan diri ini, agar ia tidak mudah terbawa perasaan. Termasuk untuk larut dalam kegelapan pikiran dan kehilangan  perasaan. Aku pun masih mempunyai rasa di dalam hati, punya pikir yang merenungkan. Lalu, menjadikan segala hal yang aku alami sebagai salah satu bahan pelajaran.

Kalau apa yang aku temui tidak sesuai dengan yang aku inginkan, maka menjadikannya sebagai pengalaman adalah pilihan. Lalu, tidak melakukan hal yang serupa kepada orang lain. Jika saja hal itu tidak aku inginkan. Tentu orang lain pun tidak menginginkan hal serupa saat aku memperlakukan beliau sedemikian. Intinya adalah, cubit kulit sendiri terlebih dahulu, sebelum kita mencubit orang lain. Kalau sakit, begitu pula dengan orang lain.”

Belajar dari pengalaman orang lain, tentu membuat kita berpengalaman pula, dengan tidak langsung mengalaminya. Begitu pula dengan pengalaman yang kita bagikan kepada orang lain. Tentu orang lain tidak perlu mengalami hal serupa, sebagaimana yang kita alami. Namun cukup dengan membaca pengalaman kita, maka orang lain pun (semoga) (seakan) mengalami pengalaman yang sama. Dan menemukan berbagai solusi pula sebagaimana yang kita laksana.

Aku sering mengalami kecewa.  Ketika aku berharap kepada makhluk. Aku pun tidak jarang ingin mengungkapkannya, kalau aku tidak ingat hikmah yang ada di balik kekecewaan.  Sehingga seringkali kecewa tersebut ku anggap sebagai pewarna kehidupan saja, kemudian membiarkan ia berlalu setelah aku ambil hikmah darinya. Sehingga aku tidak mudah marah. Ah! Padahal aku pun manusia biasa yang mempunyai ekspresi untuk ku ungkapkan. Dan saat ini, sesungguhnya aku baru saja dalam kekecewaan.

Biasanya, saat kecewa, aku akan menangis. Aku akan uraikan ia dalam bulir permata kehidupan. Atau, aku akan diam seribu bahasa, tanpa berekspresi apa-apa. Lalu, aku tidak akan menemukan makna dari semua itu, setelahnya. Mataku akan sembab sebab menangis. Diamku akan berlalu, saat tak ku tulis suara hati yang hadir selama ku terdiam. Begitu pula dengan ketanpaekspresian yang aku pasang pada wajahku. Tentu semua akan hilang tak berbekas. Dan kini, aku merangkainya dalam barisan kalimat yang akan membekas.  Bekas kecewa, begini temanya. Aha!

Dari kecewa, kita belajar menyadari, tentang harapan yang kita sangkutkan, ada di manakah ia saat ini? Dari kecewa kita perlu mempelajari berbagai hikmah, sebelum memunculkan ekspresi yang sedang membuncah dari dalam dada. Dan terkadang akan berakibat penyesalan setelahnya. Setelah pikir kita kembali normal.

Ada yang suka marah-marah saat ia kecewa. Lalu berucap bahasa yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ucap yang tidak tertata dan terbit begitu saja dari bibir indahnya. Ucap yang hadir dari dalam hatinya yang sedang kecewa. Dan dalam kondisi yang sama, ada lain hati yang menerimanya. Hati yang sedang entah dalam kondisi bagaimana, tiba-tiba tertancap oleh panah ucapan yang berbisa. Sungguh, tajamnya lisan itu dapat menimbulkan luka di hati sesiapa saja apabila ia bicara tak terkendali. Oleh karena itu teman, apabila engkau ingin marah, tahanlah. Jangan marah. Walau dalam ekspresi, walau dalam untaian kalimat dari lisanmu.

Aku tidak sedang mengajarimu. Pun tidak sedang menceramahimu. Namun semua ini adalah sebagai pengingat bagi diriku terlebih dahulu. Agar ia ingat pada keadaan yang ia alami saat ini. Tentang pesan dan hikmah yang ia temui.

Kita tidak dapat melihat cahaya di dalam gelap. Baik gelapnya mata hati ataukah gelapnya kondisi alam. Namun kita dapat melihat benderangnya hikmah yang tersembunyi, ketika kita mau membuka mata hati. Hati-hati, virus ada di mana-mana. Ingat virus, ingat istighfar, okey.

Mungkin kita tidak menyadari bahwa kita sedang marah. Namun ditandai dengan ekspresi yang kita alirkan dalam nada suara. Mungkin saja kita menyadari bahwa kita sedang marah. Dan ketika kita benar-benar sadar, segeralah ingat kepada Allah.  Sapalah IA Yang Maha Lembut… Ya Allah, lembutkan hati ini lagi, atas segala yang ia alami saat ini. Hamba hanya ingin menjaganya.

“Redam hangatnya hati ini dengan sejuk air wudu

‘. Dan temukanlah kedamaian, segera.-“

“”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S [3]: 133-134)

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s