Inexpensive electric rice cooker containing co...
Inexpensive electric rice cooker containing cooked rice (Photo credit: Wikipedia)

Yah, sudah lama kiranya aku tidak memasak nasi sendiri. Semenjak beras habis dan aku belum membelinya lagi. Sudah lebih dari sebulan, seingatku. Bahkan sampai berbulan-bulankah? Mungkin saja, pikirku. Dan hari ini, aku masak lagi.

Dalam jeda waktu semenjak memasukkan beras ke dalam rice cooker, hingga nasi benar-benar jadi, maka aku akan berada di sini. Aku ingin waktuku tidak habis untuk melamunkan teman yang akan menjadi partnerku saat bersantap nanti. Karena memang untuk saat ini, aku sedang sendiri. Oh….

Sunyi, sepi, dan syahdu adalah suasana tempat aku berada kini. Berhubung memang tidak ada seorangpun tetangga sebelah kamarku saat ini. Satunya sudah pindah ke kost-kostan lain, untuk mencari suasana baru. Sedangkan yang satunya sedang balik ke rumah, untuk keperluan keluarga. Kecuali tetangga depan yang semuanya lengkap, ternyata sedang tidak di tempat pula.  Apalagi tetangga kamar di bawah, semuanya sedang berada di kamar masing-masing. Seperti  halnya teman-teman, begitu pula denganku. Aku pun asyik di sini.

Tadinya, aku ingin makan malam. Namun berhubung belum ada nasinya, maka aku pun masak dulu. Sedangkan lauknya sudah ada. Tadi beli, hihiii. Tidak masak, sengaja. Karena sepulang tadi dari beraktivitas, waktu telah senja. Lagi pula, untuk menu seorang diri, apa adanya saja. Haha.

Tidak begini aku sebelumnya. Namun kini, berbeda. Inilah dunia, perputarannya cepat dan tidak pernah kita duga. “Seperti roda yang bergulir, beginilah keberadaan kita di dunia,” pesan Bunda. Dan hingga saat ini, aku teringatkan pada beliau nun yang saat ini ada di sana. Jauh di mata, namun dekat di hati. Seperti halnya engkau teman. Tidak tampak nyata, namun engkau ada.

Tentang perputaran roda kehidupan, terkadang kita sendiri, ada waktunya kita bersama. Pada suatu waktu kita bersama, dan bersiaplah setelahnya kita akan terpisahkan oleh jarak. Baik lama ataupun sebentar, namun yakinlah bahwa semua itu akan kita lalui. Oleh karena itu, teman. Hayatilah benar-benar kebersamaan. Dengan demikian kita mengerti bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Karena kita tidak dapat memastikan, dapat melihat lagi rupa wajah penuh senyuman dari beliau, pada waktu yang akan datang.  Lagi pula kita tidak pernah tahu, tentang masa usia kita di dunia. Dunia yang penuh dengan warna ini.

Dalam berbagai kesempatan, aku berjumpa dengan teman-teman. Seringkali kami terlibat canda, tawa, senyuman dan pengertian. Namun tidak jarang pula yang seakan teracuhkan dan tidak terperhatikan. Mohon maafkan aku teman, bila semua ini dengan kesengajaan. Namun sesungguhnya, aku tidak menyengaja yang serupa untuk ku lakukan kepadamu. Melainkan semua itu hanyalah bawaan kepribadian saja. Mungkin pada saat yang sama, aku sedang sensi, sehingga tidak dapat menyapa atau bicara berlebihan. Sedangkan kalau keadaan sebagaimana biasanya, kita dapat bersenyuman, bukan?

Ah! Dengan semua ini, aku teringatkan kepada teman-teman yang baik secara langsung ataupun tidak langsung, berperan serta dalam perjalanan kehidupanku. Beliau yang menemani, walau tanpa raga di sini. Beliau yang menjadi teman pengingatku, saat ku lupa. Beliau yang mengembalikanku pada hari-hari penuh kebahagiaan saat aku terlarut dalam duka. Dan beliau semua, dapat ku urai satu persatu namanya di dalam lembaran prasasti kehidupanku. Untuk ku data keberadaan beliau kini, lalu ku sapa saat ku akan menikmati menu nanti. Agar, aku tidak merasakan sedang sendiri. Dan aku merasa sedang ada yang menemani. Dengan demikian, aku dapat menghabiskan menu dengan baik. Tak hanya memandangnya dengan tatapan sayu, sebagaimana sebelumnya. Ah, bersantap sendiri, memang tak enak. Namun atas dasar syukurku pada-Nya dengan rezeki yang ada, aku ingin menikmatinya. Walau terkadang aku temani suapan demi suapan dengan titik-titik bening permata kehidupan yang mengalir dengan lancarnya, di pipi. Ih, ini tidak akan berlangsung, kalau saja aku yakin, bahwa ada yang sedang menatapku. Allah, tak pernah membiarkan kita sendiri, selamanya. Selagi kita yakin bahwa IA ada bersama kita.

Dari kejauhan, aku dapat mendengarkan suara air mendidih yang semakin nyaring saja. Karena memang tidak ada suara apa-apa di sekitarku. Kecuali jarum jam yang berdetak dan terdengar dengan jelas. Ohiya, ada lagi. Ini, para tuts-tuts pun sedang bergiliran meninggalkan bunyi dari setiap ketukan jemari yang aku pijakkan di atasnya.

Sungguh, pengalaman hari ini membuatku ingin mengenangkannya lagi, pada suatu hari. Hari yang pada saat itu, aku sedang tidak sendiri seperti ini. Namun bersama dengan para sahabat, keluarga, dan kerabat di sekitarku. Dan dalam yakinku, pengalaman ini menjadi salah satu bahan bagiku untuk mensyukuri keberadaanku bersama beliau. Walaupun pada saat itu, aku tidak sedang merangkai catatan dalam sunyi, seperti saat ini.

Kelak… akan tiba masanya, kita benar-benar sendiri dan tidak ada yang menemani. Kecuali amal dan perbuatan yang kita pernah lakukan di dunia ini. Adakah kebaikan yang kita rutinkan? Ia berwujud wajah-wajah penuh senyuman yang membahagiakan kita saat menatap padanya. Ataukah yang sebaliknya? Dan pada saat ini, aku tidak dapat membayangkan. Ya Allah… jangan biarkan kami dalam perasaan sendiri, saat kami benar-benar sendiri. Karena Engkau Ada Bersama Kami dalam berbagai situasi dan kondisi. Engkau benar-benar ADA, saat kami sungguh yakin dan percaya akan Adanya Engkau.

***

Tidak terasa, sudah hampir sepuluh menit, aku di sini. Walaupun saat memulai catatan tadi, aku tidak melihat jam terlebih dahulu. Namun perasaanku sudah lama. Hal ini terbukti dari beberapa paragraf yang mulai terlihat berbaris dari atas ke bawah. Wah! Ternyata aku bisa memanfaatkan waktu yang ada, untuk merangkai beberapa titik jejak dalam penantian. Dan saat ini, aku mulai merasakan lapar. Hal ini ditandai dengan meliriknya aku pada yang sudah mulai berasap. Dan tralaaaalaaa.a.a.a.a… Nasinya sudah matang. Yes! 😀

Alhamdulillah…

But, perlu nunggu beberapa menit dulu. Sekitar hampir sepuluh menit ke depan. Agar nasi lebih matang dan maknyus. Lalu, bersiap-siap untuk dinner. Hehee.

Yukss?

  • ___ Banyak aktivitas yang kita lakukan setiap hari. Dari aktivitas tersebut, kita dapat merangkai beberapa baris catatan. Seperti, ketika kita sedang mencuci piring, maka ingatlah bahwa kita sedang berhadapan dengan harapan akan hadirnya kebersihan, setelah kita selesai mengerjakan cucian hingga bersih. Lalu, petiklah pesan dari aktivitas tersebut dan tuliskan segera. Selain itu, kita juga dapat menemukan pesan dari aktivitas lain seperti saat menyapu dan mengepel lantai. Oh, indahnya menghayati setiap peran yang kita jalankan. Dengan demikian, kita sedang berjuang untuk menjadi seorang perempuan yang dapat memetik pesan dari berbagai keadaan.
  • ___ Pesankan berbagai kesan yang kita ingin ia menjadi kenangan dalam perjalanan kehidupan dalam bentuk tulisan. Maka pada saat yang sama, kita sedang berjuang untuk merangkai catatan. Baik catatan itu mensenyumkan, mentertawakan atau kita tertawakan setelah ia terangkai. Biarkan saja. Karena dengan adanya ia, maka kita menjadi tahu apa yang pernah kita lakukan, kita alami dan kita bagikan. So, untuk berbagi itu begitu mudah, bukan….?
  • ___ Berbagilah sebelum kenyang !_!

🙂🙂🙂

One thought on “Laa Tahzan, Nikmati Lezatnya Menu Kehidupan

  1. sini mbak tak temanin…. biar kagak kesepian…
    sepi dan rindu itu emang kagak enak ya mbak

    Mauuuu... Nah, begini kan lebih baik rasanya. :D
    Sungguh-sungguh terharu dengan semua ini. Hikz.

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s