Dalam Hitam dan Putihnya
Dalam Hitam dan Putihnya (Photo credit: abi hasan)

Yeee, aku semangat lagi untuk menitip rangkaian kalimat di sini. Xixii.😀

Terkadang, kita menyampaikan alasan bahwa kita tidak mempunyai banyak waktu untuk melanjutkan hobi yang kita punyai. Karena kita mencari-carinya. Lalu, kita menjadikannya sebagai penghalang. Sehingga kita tak dapat lagi berjumpa dan bersama dengan sang hobi. Padahal, buat apa kita mempunyai hobi, kalau kita tidak pernah melakukannya? Dan bagaimana pula hobi itu dapat melekat pada kita, kalau saja kita tidak berusaha untuk melekat padanya?

Sebagaimana telah aku sampaikan pada beberapa detik waktu yang sudah berlalu, bahwa aku mempunyai hobi membaca dan menulis. Sungguh standar yak! :D  Nah! akhir-akhir ini, ia seakan terabaikan. Karena aku menemukan satu alasan untuk tidak membersamainya. Padahal, saat tidak bersama dengannya, aku rasakan rindu sungguh-sungguh sangat! Hah!

Bagaimana bisa, aku dapat menemukan alasan itu? Bagaimana pula tarikan kuat dari dalam diriku seakan mengajakku untuk kembali mendekati hobiku? Karena ia bilang bahwa tak dapat untuk tidak bersama hobi dalam menjalani hari-hari.

Tanpanya, aku hampa,” begini curahan yang hati sampaikan.

Dari kejadian sehari-hari yang kita temui,  maka kita dapat merangkai beberapa baris kalimat. Dengan demikian, kita telah dan sedang meneruskan hobi menulis yang kita punya. Begitu pula dengan hobi membaca yang tidak kita ingin saat ia tidak terlaksana. Membacalah sebaris ekspresi yang sedang kita pandangi pada wajah yang berada di hadapan. Membacalah aktivitas yang kucing-kucing sedang lakukan saat ia berkumpul di halaman. Membacalah sekuntum bunga di taman. Membacalah lalu lalang kendaraan yang kita pandangi di sepanjang perjalanan. Membacalah gerakan awan yang berpindah sungguh perlahan. Dan membacalah pada langit yang menaungi alam raya. Hey! di sana ada mentariiii…

Pagi ini, aku sedang membaca. Membaca suasana pagi yang damai sungguh sejuk. Menatapnya mataku pada gumpalan awan yang memutih di atas sana, pertanda bahwa ia sedang membaca. Ia membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya di angkasa. Sedangkan saat mata ini kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia pun sedang membaca. Ia membaca hijau dedaunan yang menjuntai. Ia pun sedang membaca pepohonan yang berdiri kokoh sebagai penopangnya. Dan dari balik atap di depan, aku sedang membaca beberapa orang tukang yang sedang beraktivitas. Beliau-beliau sedang melanjutkan pembangunan gedung baru milik tetangga kami.

Ai! Membaca tentu tidak hanya buku-buku, bukan?

Setelah itu, tergeraklah kita untuk segera merangkai beberapa bahan temuan yang kita peroleh dari aktivitas membaca melalui tulisan.

Aku senang membaca alam. Aku suka berjumpa dengan tampilannya yang sering berubah. Dan aku sangat terkesan dengan pergantian musim yang berlangsung dengan cepat. Pagi ini, kita dapat tersenyum karena mentari sedang meneladankan kita untuk memulai hari dengan senyuman. Begitu pula dengan siang hari. Kita masih dapat tersenyum bersamanya. Namun, tidak dapat kita prediksi, bahwa ia akan tersenyum hingga sore nanti, bukan?

Musim dapat berubah, begitu pula dengan cuaca. Namun kembalilah ingat sebuah pesan yang beliau sampaikan ini, “Cuaca boleh buruk, tapi pikiran, hati, sikap dan lisan harus selalu bagus. (Aa Gym)

Dari sini, aku belajar bahwa aku perlu berlatih untuk tidak menyesuaikan pikiran, hati, sikap dan lisan dengan cuaca. Karena cuaca bukanlah aku dan aku adalah makhluk hidup. Makhluk yang Allah cipta dengan akal pikiran, hati dan perasaan. Aku dapat memikirkan terlebih dahulu, sebelum menghujani pipi dengan tetesan permata kehidupan yang siap mengalir kapan saja. Pun, aku dapat menyeleksi terlebih dahulu, kapan saatnya bahagia berbunga-bunga, dan kapan waktunya menimbang dengan logika. Sungguh, sungguh dan sungguh! Berbagai keadaan, kejadian dan hal-hal yang kita temui dalam kehidupan ini terdapat banyak hikmah dan bahan pelajaran. Bacalah, lalu tuliskanlah. Agar kita dapat sama-sama belajar. Aku belajar dari pengalamanmu yang engkau tuliskan, teman… karena aku membacanya. Aku  membaca dari ekspresi yang engkau tampilkan, teman… saat menceritakannya. Lalu ku tulis ia sebagai pengingatku. Karena ia berharga.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s