Adalah kebahagiaan ini seakan diperpanjang untuk kita. Ketika kita dapat belajar kapan saja, di mana saja, dan bersama siapa saja. Sehingga kita tidak lagi mempermasalahkan sedang berada di mana pada saat memperoleh bahan pelajaran. Apakah di balik sebuah pohon yang sedang berdiri dengan teguh bersama batangnya yang menjadi tempat kita bersandar. Saat duduk manis di atas angkot sepulang kita dari aktivitas. Ataukah bahan pelajaran itu dapat kita simak dari percakapan antara dua atau tiga orang bahkan lebih yang sedang bercengkerama dengan asyiknya. Tidak terasa, ternyata kita sedang belajar suatu ilmu yang sangat berharga pada waktu yang sama. Dan kita pun memahami apa yang kita peroleh dari beliau yang kita temui. Untuk kita jadikan pertemuan kita dengan siapapun sebagai jalan hadirnya ilmu dan pengalaman yang kita peroleh secara tidak langsung. Karena pengalaman dapat kita peroleh tidak hanya dengan mengalaminya terlebih dahulu, bukan? 
Adapun ilmu dan pengalaman itu, dapat pula kita abadikan dalam lembaran catatan hari ini. Agar, pada suatu waktu yang akan datang, kita dapat kembali membolak-baliknya. Nah! Pada saat yang sama, kita pun teringatkan pada beliau-beliau yang menjadi jalan sampaikan ilmu dan pengalaman tersebut kepada kita. Walaupun sesungguhnya, tidak dapat semua kita ukir namanya di dalam lembaran catatan tersebut, namun sesungguhnya beliau berharga. Beliau berarti dan penuh dengan dedikasi bagi kehidupan kita. 
Sering mungkin, kita mendengarkan orang sedang bercakap-cakap. Baik kita terlibat langsung dalam topik yang sedang dibahas, atau kita hanya menjadi pendengar yang baik. Bahkan, kita tidak mempunyai andil sama sekali dalam percakapan tersebut. Bukan bermaksud menguping pembicaraan, namun pada sore yang diguyur hujan sungguh lebat ini, saya pun membawa inti dari percakapan beberapa orang. Beliau-beliau yang saya temui di dalam perjalanan tadi, ketika menuju pulang. 
Duduk manis begitu saja di dalam angkot, seringkali aku lakukan. Terkadang memandang langit, memperhatikan pepohonan yang seakan berlarian di luar sana. Atau malah mengamati orang-orang yang sedang beraktivitas beraneka rupa. Itu yang aku lakukan pada waktu-waktu yang lalu. Namun tadi, berbeda, teman. Aku yang sedang duduk manis, akhirnya menjadi pendengar yang baik. 
Ada beberapa orang laki-laki di dalam angkot yang sedang aku tumpangi. Bersama kami duduk dengan jarak yang teratur sungguh renggang. Setelah ku hitung dengan jemari, belum habis ke sepuluhnya, ternyata jumlah orang sudah habis. Ada delapan semuanya. Termasuk seorang supir yang sedang mengemudikan kendaraannya. 
Adapun seorang yang duduk di bagian depan di samping supir, pun merupakan bagian dari delapan orang tadi. Setelah aku menyadari, ternyata aku sendiri yang perempuan. Ops! Hehee. Jadi yang paling cantik di antara semua, dan ini sudah biasa. Ya, aku terbiasa berada di antara kumpulan laki-laki di sekitar.
Ada lima orang laki-laki lainnya yang duduk di kursi bagian belakang. Setelah ku amati, ternyata empat diantara beliau adalah para teman-teman alias grup atau sekelompok musisi. Karena dari peralatan yang beliau bawa, masing-masing memegang alat musik. Dua orang yang lebih dekat denganku, membawa satu gitar, masing-masing. Sedangkan dua orang lagi, tidak ku pandang dengan jelas. Karena aku memang tidak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sehingga aku berkesimpulan bahwa beliau adalah para musisi. Mau manggung di mana, yaa? Aku engga tau.
Sedangkan seorang laki-laki lainnya duduk tepat di sisiku. Dan beliau diam saja, tidak terlibat percakapan sama sekali. 
Nah! Setelah duduk manis lebih kurang lima menit lamanya dalam angkot yang sama, dan aku hampir sampai pada tujuan. Kira-kira empat menit lagi. Pada saat itulah, para laki-laki tadi membuka pembicaraan. Beliau berbincang tentang kehidupan seorang teman lainnya. Seorang yang ‘seakan hidup tanpa masa depan. Masa depannya suram tak cerah, kelam’. Begini pendapat laki-laki pertama. Sedangkan yang ke dua menimpali dengan persetujuan. Iya, karena dia terlihat tidak mempunyai visi misi dan terus saja begitu. Tidak bersemangat, tanpa ambisi. Padahal harusnya, dalam menjalani kehidupan, kita perlu mempunyai visi, misi dan harapan. Tambah beliau pula. 
Aku yang sedari tadi duduk dengan tenang, pun tersentak. Aku yang entah lagi melamun atau tertidur, seakan terbangunkan. Aku kaget, dan segera mengedipkan mataku berulangkali. Tanpa mengucek atau mengusapnya. Hanya saja, aku seakan tersadar. Bahwa secara tidak langsung, kalimat yang beliau sampaikan tadi dapat pula tertuju padaku. Mungkinkan? Ah! Aku memang perasa. Hahahaa. Rasa-rasanya beliau sedang mengingatkan aku bahwa punyailah visi dan jalanilah kehidupan ini dengan misi.  Agar kita dapat melihat masa depan dengan kepala tegak dan wajah berseri-seri. Sedangkan saat ini, kita dapat menjalani hari dengan sepenuh hati. 
Seiring dengan beberapa rangkai kalimat berikutnya yang beliau terus pertukarkan, aku segera mengumpulkan ingatanku pada beberapa misi dan visi yang -aku rasa, pernah ku rangkai pula sebelum ini. Dan aku bukanlah seorang yang hidup tanpa visi dan misi, man,” bisikku pada beliau tanpa bersuara.  Hanya saja, ku edarkan pandangan pada sekeliling, lalu berhenti tepat di pundak laki-laki yang tadi menyampaikan kalimat yang terdengar sangat indah di telingaku. 
Beliau mungkin saja tidak menyadari, bahwa ternyata satu kalimat yang beliau sampaikan sebagai sebuah pendapat, mencuri perhatianku. Dan aku pun bersyukur. Atas syukurku sore ini, maka akupun merangkai catatan lagi. Setelah beberapa hari berlalu, aku ingin tak berada di sini. Namun berhubung salah satu misi kehidupanku adalah –Mempelajari, menghayati, menikmati alam dan mengabadikan hasil yang diperoleh dalam bentuk catatan-catatan sebagai prasasti eksistensi, maka catatan ini pun hadir. Karena saat ini aku masih ada di dunia. Dan catatan ini adalah salah satu bahan pelajaran yang ku hayati ketika menikmati alam pada sore nan semakin sejuk ini. Agar nuansa ini menjadi prasasti hingga nanti. 
Teruntuk beliau yang ku temui di dalam angkot Caringin – Dago sore ini, terima kasih yaa. Aku akan mengingat satu kalimat penting dari beliau, bahwa ‘Hiduplah dengan visi dan misi’ lalu jalanilah kehidupan dengan sepenuh hati. 
Kita tidak dapat mengetahui, pada waktu yang mana kita menjadi berarti bagi orang lain. Oleh karena itu, teman. Tetaplah berjuang dan berusaha untuk menebarkan arti semaksimal diri. Dengan demikian, kita menjadi seorang hamba yang menyadari arti kehadirannya di dunia ini. 
Boleh saja hari ini kita dipuji. Atau malah kita dicaci. Bisa jadi saat ini kita diperhatikan, atau malah diabaikan. Bersabarlah atas apa yang sedang kita jalani namun sesungguhnya bukan yang demikian kita temui. Dan bersyukurlah saat kita menjalani hal-hal yang benar-benar kita inginkan sebelumnya. Semoga, kita senantiasa menjadi bagian dari orang-orang yang penuh dengan kesabaran dan berkelimpahan syukur, yaa.
Teringat aku dengan sebaris kalimat lainnya yang sempat ku dengarkan pada beberapa waktu yang lalu. Suara tersebut menyampaikan pesan yang intinya begini, “Hiduplah bukan dengan apa yang kita inginkan, namun dengan apa yang saat ini sedang kita jalani.” Lalu ada pula pesan lain yang aku simak dalam perjalanan berikutnya, “Yang menentukan bagaimana masa depan kita bukanlah orang lain, namun diri kita. Apabila kita ingin pandai, maka belajarlah dengan baik. Sedangkan orang lain, guru, teman-teman dan sahabat hanya sebagai pengingat saja. Mereka tidak dapat menentukan masa depan kita. Mereka tidak dapat menolong kita, kalau tidak bersedia menolong diri kita terlebih dahulu. Intinya, miliki visi dan jalankan misi. 

Orang lain hanya dapat menjadi perantara atas apa yang ingin kita capai. Sedangkan kita adalah pelaksana atas apa yang ingin kita capai. Orang lain adalah sarana kita dapat mewujudkan visi. Sedangkan kita yang menjalankan misi. Pegang teguhlah tujuan yang telah kita niatkan di dalam hati, maka ada jalan yang dapat menyampaikan kita pada tujuan tersebut. Walaupun kita tidak mempunyai kaki-kaki untuk melangkah. Namun kita mempunyai Allah Yang Selalu Membimbing kita. Walaupun kita tidak mempunyai mata untuk melihat, namun kita mempunyai Yang Maha Melihat. C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s