Jalan hidup kadang berliku, ada turunan dan pendakian. Namun tidak sedikit pula kita bertemu dengan jalan yang lurus dan datar. Jalan yang membuat kita memiliki ketenteraman saat melaluinya. 
Ketika kita bertemu dengan jalan yang menukik dan menurun, tentu kita membutuhkan strategi sebelum menempuhnya. Agar, kita tidak meluncur begitu saja, tergegas tanpa rem dan kendali. Akibatnya, kita juga yang capai bukan?  Karena berjalan di penurunan, membuat kita melangkahkan kaki dengan lebih cepat dari sebelumnya. Semoga kita tidak tergesa, karena kita kan sampai jua. Hanya saja, perkuat kendali langkah. Agar ia tidak salah arah.  Ingatlah, sisi-sisi kiri dan kanan jalan, masih ada. Dan di sanalah kita perlu kembali merehat raga sejenak. Ketika kita belum yakin dapat melanjutkan. Agar tak sakit ketika jatuh. 
Ketika bersua dengan pendakian, yang mulai terlihat di depan mata. Maka satu hal yang dapat kita lakukan adalah memperkuat keyakinan. Keyakinan yang memberi kita kemauan untuk kembali bangkit dan lanjutkan perjalanan, setelah raga terlelah saat berjalan.  Karena adanya jalan yang mendaki, merupakan pertanda bahwa kita sedang berproses untuk menuju pada tempat-tempat tertinggi. Ingatlah, bahwa memandang alam dari ketinggian, tentu mempunyai nuansa yang berbeda, teman. So, berapapun derajat ketinggian jalan yang akan engkau tempuh selanjutnya, jalani ia dengan sungguh-sungguh. Dengan senyuman penuh harapan. Bahwa engkau mampu bersama Allah Yang senantiasa Dekat. 
Lalu, saat jalan hidup yang engkau temui selanjutnya datar, segeralah edarkan arah pandang pada sekeliling. Dengan mempedulikan keadaan sekitar. Seraya memberikan sapaan hangat pada sesiapa saja yang sedang beriringan denganmu.  Sedikit berbagi kisah yang kalian jalani sebelumnya, tentu membuat langkah-langkah yang sedang menapak semakin lekas. Karena kalian telah lewati beraneka jenis jalan dan penuh dengan ragamnya. 
Engkau dapat berkisah tentang kesan yang engkau alami saat berada pada pendakian yang membuatmu terlelah saat menempuhnya. Engkau dapat menyampaikan beberapa pesan atas pengalamanmu dalam menempuh jalan yang menurun dan menukik. Pun, sampaikanlah pula bagaimana kenanganmu saat berada di jalan-jalan yang penuh liku. Ketika engkau bersua dengan persimpangan yang satu, kemudian di depan sana ada persimpangan yang berbeda. Ceritakan pula, bagaimana engkau terkagetkan saat telapak kakimu berdarah. Karena ia terinjak deduri yang menusuknya. Tentang peerrriiihnya yang menyisakan luka. Tentang proses yang engkau tempuh saat mengobatinya. Tentang obat-obatan yang engkau bubuhkan pada permukaannya. Pun sesiapa saja yang membantumu dalam merawat luka itu. Kisahkan saja dengan untaian kalimat sederhana yang mengalir dari nada suaramu. Dan engkau akan menemukan ekspresi yang tidak sama, dari wajah yang engkau ceritai. Ketika engkau berkisah dari satu episode hidupmu yang satu dengan yang lainnya. 
Engkau pun pernah bersua dengan pasangan insan yang akhirnya menjadi jalan bagimu untuk sampai ke sini, di sini, hingga saat ini engkau dapat melanjutkan langkah-langkah dengan indah, bukan? Ingatlah, ingat beliau semua dengan ingatan terbaikmu. Lalu, ejalah nama beliau di antara rangkaian doa yang engkau pintakan selepas shalatmu. Ukir pula wajah-wajah beliau, bagaimanapun ekspresi yang dapat engkau bayangkan, pada saat yang sama. Dan semoga, beliau tersenyum pada saat itu juga. Karena engkau pun tersenyum, akhirnya. Saat menyadari, bahwa beliau begitu berharga bagi kehidupanmu. Beliau adalah bagian dari jalan hidupmu. 
Beliau, orang-orang baik yang engkau temui di perjalanan, tentu telah membangun kemah-kemah. Sedangkan engkau, ketika menjumpa beliau,  ikut berrehat pula ketika malam, di dalam kemah-kemah tersebut. Lalu, di siang harinya, engkau pun menjadi bagian dari aktivitas pekemah. Sebelum akhirnya, esok hari engkau pun berpamitan dari beliau. Karena engkau akan melanjutkan lagi perjalananmu. Engkau belum sampai pada tujuanmu. 
Dari satu kemah ke kemah lainnya, engkau pernah mampir. Berlindung dari teriknya sinar mentari yang menyengat. Lalu berteduh dari terpaan rintik hujan yang akhirnya mengguyur persada. Engkau temukan kesejukan di dalam kemah-kemah tersebut dan engkau pernah pula merangkai cita saat berada di dalamnya. Cita yang engkau tuliskan dengan bahasamu nan lugu dan belia. Engkau begitu polos ketika merangkainya. Karena engkau memang demikian adanya. 
Untuk merangkai cita, kita memang perlu apa adanya. Karena kita tidak dapat berpura-pura. Apalagi untuk mereka-reka suara hati. Ia yang sedang berbicara, sungguh sampaikan apa yang sepenuhnya ia rasa dan alami. Lalu, dengan sedikit polesan airmata, terkadang lembaran catatan itu pun basah jua. Hahaa, indahnya saat mengenang semua. Bahkan tidak jarang pula airmata pertanda bahagia mengalir dengan seenaknya. Tak dapat engkau membendungnya lagi. 
Ketika kita bertemuan dengan orang-orang baik, kita dapat saja menangis seketika. Karena kita terharu. Saat kita bersua dengan beliau-beliau yang menjadi jalan hidup kita selanjutnya, tentu bahagia tiada terkira di dalam jiwa. Karena kita dapat menyambung harapan lagi. Harapan yang kita ulas dan kumpulkan kembali saat ia mulai berserakan. Lalu, mengemaskan dalam satu wadah saja. Kemudian kita titipkan di tempat terbaiknya. 
Jalan hidup memang penuh dengan kesan. Ia memesankan, ia menjadi kenangan setelah kita melaluinya. Dan kalau kita inginkan jalan hidup kita itu penuh dengan jejak-jejak kita yang abadi, maka merangkai beberapa pesan dan kesan setelah menjalaninya, tentu menjadi pilihan yang tepat, baik dan bijak. Iyhaaaaaa, kaannnn. 
Aku seringkali menitipkan pesan pada catatan. Atas apa yang baru saja aku alami dan aku jalani. Agar aku menjadi teringatkan lagi pada suatu hari berikutnya. Bahwa aku ternyata pernah menemui hal yang serupa. 
Jalan hidup. Ada banyak jalan hidup kita. Dan jalan hidup itu adalah sesiapa dan apa saja yang kita temui dalam perjalanan kehidupan ini. Lalu, sudahkah engkau mendata kembali jalan hidupmu, teman? 
Catatan ini ku rangkai pagi ini, seiring dengan mulai meningginya sang mentari. Mentari yang mengingatkanku pada sesosok insan yang sangat ku hargai dan sayangi sepenuh hati. Insan yang menjadi bagian dari jalan hidupku. Insan yang saat ini sangat ku rindui. Karena hingga detik ini, kami belum dapat bersua dalam tatap mata yang berkedipan. Kami belum dapat bergenggaman jemari untuk saling mengalirkan kehangatan. Kami sedang berada sangat jauh. Dan jarak yang membentang di antara kami, tidaklah selangkah dua langkah. Sehingga kami tidak dapat menjumpa satu dengan yang lainnya kapanpun kami inginkan. Oleh karena itu, semua catatan ini ku persembahkan pada beliau. Beliau yang menjadi jalan hadirnya semangatku lagi, ketika aku terduduk lemah atas perjalanan hidup ini. 
Beliau adalah jalan hidupku. Beliau dan senyuman itu, akan seringkali ku ingat dalam nuansa pagi berikutnya. Lalu esok lagi. Kemudian lusa dan selanjutnya. InsyaAllah. Karena kami baru dapat bersua dalam ingatan. Dan ingatan ini seringkali menghangatkan ruang hatiku. Ai! Mentari di hatiku.
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s