Catatan saat ini, aku awali dengan salah satu pesan dari Aa Gym hari ini: “Apapun yang kita lihat/dengar/rasakan adalah ilmu dari Allah agar kita bisa evaluasi dan perbaiki diri, agar lebih dekat dengan-Nya.
Dan aku pikir, ada hubungan antara paragraf di atas dengan apa yang hadir di dalam catatanku saat ini. Ya, perasaan, penglihatan, pendengaran dan sebagainya, merupakan salah satu jalan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah, apabila kita mampu menjadikannya sebagai bahan introspeksi dan perenungan. So, mari kita petik hikmah dari seorang insan yang sedang  memikirkan tentang harapan dalam bahasa tulisan. 
http://nouhiz.blogspot.com/2012/01/blog-post.html

Lalu ku  sampaikan…, beberapa yaa

Di pertengahan do’a, kusisipkan namamu. Lalu ku pintalkan rangkaian pinta kepada-Nya, untukmu. Walaupun sepenuhnya aku belum dan tidak akan pernah mengenal siapakah engkau? Namun aku yakin, ingatanku sampai padamu. 
Dengan kesadaran penuh aku berjuang untuk melerai harapan yang terlanjur pernah melekat padamu. Harapan yang dalam harapku, agar engkau kembalikan dengan utuh dan penuh. Hingga tidak tersisa lagi harapanku yang hanya satu, padamu. Walaupun hanya sesirip ikan, adanya. Karena aku takut, harapanku akan tersia, apabila ia masih tertinggal pada dirimu.  /dalam hal ini, ia pernah berharap kepada insan.
Dalam berbagai kesempatan terbaik, ku belajar untuk menegakkan lagi kepalaku saat melangkah. Ketika ia tertunduk lemah dan tanpa kekuatan. Karena ia menanggung beban ingatan berkepanjangan, terhadapmu. Dan aku sanksi, akan kemampuannya, apabila aku lengah sedetik saja terhadapnya. Aku takut tidak mampu menjaganya dengan baik. 
Dalam kondisi terjagaku yang terakhir, aku ingin segala harapanku utuh kembali. Dengan demikian dapat ku titipkan ia sepenuhnya kepada Pemiliknya. Karena aku tidak ingin ia tergeletak begitu saja pada tempat-tempat yang tidak layak baginya. Karena harapanku sungguh berharga.  Sehingga aku perlu memperhatikan keberadaannya seringkali. Di manakah ia berada saat ini? 
Tidak ada harapan yang boleh tertinggal pada tempat-tempat terendah. Apalagi untuk memberikannya pada sesiapa saja yang tidak berhak atasnya. Termasuk juga pada alam, dan segala yang ada di dunia. Karena apabila ku temui ia berada pada makhluk, maka aku pasti akan merasakan kecewa, kemudian. Terlebih lagi kalau harapan itu aku sisipkan pada benda-benda mati yang tidak bernyawa sama sekali. Tidak sekali-kali. 
Lalu, bertanya aku untuk menemukan jawaban. Di manakah harapanku pantas berada? Agar aku bahagia saat ia masih bernama harapan. Lalu ku usaha untuk menemukannya dalam kenyataan. Dengan terus menjaga harapanku pada tempat terbaiknya. Dan tidak akan pernah lagi ku pindah geserkan ia walaupun sedepa atau sehasta. Karena ia telah melekat erat. 
Harapan, aku sedang bertumbuh bersamanya. 
Harapan, aku terus berjalan di sisinya.
Harapan, aku ingin menjaganya senantiasa.
Harapan, aku tidak sedang bercanda.

Harapan, meski masih jauh jarak di antara kita,

Namun aku yakin bahwa engkau akan terus memberikan pertanda padaku. Untuk memberitahu padaku, di mana engkau berada. Agar aku terus berjuang untuk mendekatimu. Lalu kita bersenyuman seindah senja yang langitnya berwarna warni seperti sore tadi. Jingga, bening, putih, pink, biru, hijau toska dan keemasan. Sungguh penuh warna dan aku suka.

C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s