Bukan KDRT. Yach, begitu. Karena KDRT tentu sangat kita hindari bukan? Sedangkan KDPT, perlu sangat kita dekati. Dan kita berela hati dalam menjalaninya.  
Mengenali diri, artinya kita tahu dengan sebaik-baiknya tentang diri kita. Sedangkan memahami teman adalah kita berusaha untuk mengetahui teman dengan sebaik-baiknya pula. Karena setelah kita mengenali diri sendiri, maka kita perlu memahami teman. 
Teman, adalah sesiapa saja yang bisa jadi berusia lebih muda dari kita, seumuran atau bahkan lebih dewasa. Sedangkan pengertian teman itu sendiri, sangatlah luas. Kita dapat berteman dengan sesama manusia, kita pun dapat berteman dengan makhluk hidup lainnya. Bahkan tidak sedikit yang berteman dengan boneka-boneka lucu yang terbuat dari benang wol. Oleh karena itulah, teman mempunyai makna yang tidak sempit. 
Namun di sini, yang sedang kita pahami adalah teman dalam artian sesama insan. Teman yang mempunyai berbagai keperluan dan kepentingan, sama seperti diri kita. Teman yang mempunyai pikiran, usul, masukan, kritik dan saran serta masukan terhadap diri kita. Dan bersama teman, terkadang kita dapat mengenali diri kita. Kalau saja kita ternyata belum berkenalan dan mengenali sama sekali, siapakah kita?
Siapakah temanmu saat ini dan apa yang sedang engkau baca hari ini, merupakan cerminan dirimu di masa depan, begini bunyi kalimat yang pernah ku baca. Ya, lebih kurang demikian. Hingga saat ini, aku kembali teringatkan dengan kalimat tersebut. Kalimat yang seluruhnya tidak dapat kuingat dengan baik. Namun ada makna yang dapat ku pahami saat membacanya. Tentang teman, tentang buku. Dan kini, aku hanya ingin memahami tentang teman saja. 
Sehingga sadarlah kita, bahwa teman merupakan salah satu yang menentukan akan menjadi seperti apakah diri kita setelah saat ini? Apabila kita salah dalam menemukan teman, membersamai teman dan memilih teman, maka kita tentu sudah menyalahkan diri kita semenjak awal. Walaupun sesungguhnya tidak berarti teman merupakan poros yang menentukan diri kita pada masa yang akan datang. Namun dapat kita bercermin dari sesiapa saja yang pernah mengalami kesan dan pesan dalam pertemanannya. Sehingga muncullah kalimat sebagaimana yang saya kutip di atas, “Bahwa siapa kita pada masa yang akan datang, turut ditentukan oleh teman kita saat ini.” 
Teman yang baik, akan dengan senang hati membenarkan apabila kita salah.  Walaupun ternyata kita belum dapat menerima. Namun apabila kita usaha untuk merenungkan, mengingat, dan memahami apa yang teman sampaikan kepada kita, maka kita pun akhirnya tersadarkan. Bahwa ternyata ada maksud baik dari teman kepada kita. Ah! dan rupanya kita saja yang belum memahami dari awal, apa yang teman sampaikan. 
Kelapangan hati, keterbukaan, dan saling menghormati, menghargai, tepo seliro, dan kerukunan dalam berteman, perlu kita pupuk semenjak dini. Bermula dari lingkungan terdekat terlebih dahulu. Seperti halnya ketika kita menjadi warga di lingkungan kost-kostan misalnya. Lingkungan yang menjadi sarana bagi kita dalam meneruskan kehidupan, tanpa orang tua dan keluarga di sekitar. Sehingga teman-teman yang tinggal bersebelahan kamar dengan kita menjadi keluarga kita yang terdekat. Dalam hal ini, ia bukan lagi teman yang tidak kita kenal, bukan? Bahkan telah menjadi sahabat baik. 
Dalam lingkungan kecil kita, terkadang keadaan membuat kita perlu menata lagi jalinan pertemanan. Seperti ketika terjadi konflik pemikiran, banjir perasaan dan segala uneg-uneg antara satu dengan yang lainnya. Apabila hal ini memang kita alami, maka ada baiknya kalau kita segera merembukkannya. Kemudian menemukan solusi terbaik. Alhamdulillah… kiranya cara musyawarah menjadi salah satu jalan yang kembali dapat mengeratkan hati yang sempat berpecah dan berderai. Karena hati kita bukanlah kaca yang tidak dapat ditautkan lagi ketika ia sempat retak. 
Seperti yang malam ini terjadi. Berkat saran dari beberapa orang teman, akhirnya kami menyelenggarakan lagi musyawarah kilat yang berlangsung selama lebih kurang tiga puluh menit. Dan aku tidak mencatat jadwal yang pastinya, karena kami akhirnya sudah berkumpul saja di satu tempat.  Dalam satu ruangan yang longgar, kami saling menarik nafas lalu mengeluarkannya lagi dengan penuh kelegaan. Sesegar udara pagi hari, adalah nuansa yang kami temukan lagi setelah musyawarah usai. 

Mencari titik temu dari beberapa kejanggalan yang ditemui, adalah langkah awal pembuka musyawarah. Dan masing-masing peserta menyampaikan pemikiran dan harapan serta kesan beserta pesan yang membuat nuansa menjadi tidak biasa. Karena kalau ada yang berubah dan itu membuat tidak tenteram, tentu menjadi berefek pada aktivitas kita bersama, bukan? Ada yang kepikiran sampai ga bisa tidur. Ada yang kerasa-rasa, sampai ga enak makan. Ada pula yang ga mandi-mandi beberapa hari, karena ga kebagian air. Xixixiii… akhirnya tertemu juga ujung dari pokok ketidaknyamanan kami akhir-akhir ini.
Untuk berbagai hal yang kita alami dan menjadi tidak tenteram di hati, adalah baik kalau saling kita carikan solusinya. Dan sampaikanlah pada pihak yang semestinya menerima informasi yang ingin kita sampaikan. Karena kalau kita belum mencurahkannya, mana bisa orang lain mengerti bahasa hati kita? 
“Kita tidak pernah tahu, bagaimana dan di mana kita berada pada lima bahkan sepuluh tahun yang akan datang. Dan kita juga tidak dapat menerka jalan hidup setiap pribadi. Oleh karena itu, dengan belajar akur semenjak saat ini di sini, semoga ketika kelak kita jumpa lagi setelah terpisahkan oleh aktivitas berikutnya setelah tidak lagi di sini, kita masih dapat saling bersapa, bertukar suara, maupun berbagi cerita. Karena dunia ini lama-lama menjadi semakin sempit. Dan pertemuan kita adalah untuk melepas rindu antara saudara yang lama tak bersua.” Begini petuah bijak yang Kak Yuli sampaikan pada kami, diantara selingan canda dan tawa yang akhirnya kembali mencairkan suasana. Kamipun saling bersenyuman dan saling mendoakan. Semoga kami dapat menjadi sebagaimana yang kami cita.  Oia, ada satu yang aku ingat, Tihe bercita mempunyai sebuah rumah sakit, kelak. Amiiin ya rabbal’alamiin.
“Wahai indahnya,”  bisikku di telinga Bon Chu.
Kami tidak suka KDRT, namun kami suka KDPT. 
Haiii, info aja, kami semua adalah perempuan, lho. 
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7Akhir kalam, konferensi ditutup dengan hamdalah dan bersalaman selayak sedang berhari raya. Karena kami merayakan kelegaan kembali pikir, jiwa dan raga pun bersenyuman. Ada wajah-wajah yang berseri, tergeli, karena saling mengguyoni. Buat teman-teman yang bersama denganku di kost-kostan ini, aku ingin sampaikan rangkaian catatan ini. Semoga ketika kita bersua lagi walau tidak di dunia nyata, masih ada ingatan antara kita, yaa, teman. Tolong ingatkan kalau aku terlupa, dan aku belum menyadarinya. Dan maafkan aku. Dengan demikian, engkau sedang mengajariku bagaimana cara memahami teman. Sedangkan yang aku kenal, diriku tidak pernah luput dari salah dan khilaf sebagai hamba-Nya. Astaghfirullaahal’adziim.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s