Aku termasuk seorang yang tidak mudah percaya dengan informasi yang aku terima. Kecuali kalau hatiku menerima. Maka aku pun mempercayai dengan sepenuhnya. Sedangkan tentang informasi sakitnya Bapak RT semenjak beberapa hari yang lalu, termasuk salah satu informasi yang tidak langsung ku percayai. Oleh karena itu, aku masih menyimpan tanya yang ingin segera ku temukan jawabannya. 
Hingga tadi siang, akhirnya aku kembali dapat menemui Bapak RT di kediaman beliau, tidak jauh dari tempat ku tinggal. Ya, hanya beberapa rumah saja dan melangkah tidak sampai sepuluh menit, aku pun sampai di kediaman Bapak RT. 
Di sela-sela waktu istirahat siang dari beraktivitas, ku sempatkan berkunjung. Karena dalam yakinku, tentu tidak mudah menemukan jadual yang pas dan tepat. Dan ketika kesempatan datang, maka memanfaatkannya dengan optimal adalah pilihan yang terbaik, kiranya. 
Sebelum berkunjung, aku tentu saja menghubungi via telepon terlebih dahulu. Walaupun semenjak kemarin siang aku sudah janjikan untuk datang, hari ini. Nah! Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika aku menelepon, ternyata yang menerima adalah suara Bapak-bapak tiga puluhan tahun. Dan aku yakin, bukan suara Bapak RT. Setelah memberitahukan maksudku, maka beliau awalnya tidak segera menerima, dengan alasan yang kemudian tidak langsung ku percaya. 
Ah, aku. 
Kemudian, aku pun berusaha meyakinkan Bapak penerima telepon bahwa kehadiranku karena sudah menyusun janji kemarin siang. Lagi pula, aku sudah berada dekat dengan kediaman Bapak RT.  Dan untuk kembali lagi, sebelum sampai ke tujuan, itu bukanlah aku. Karena aku akan terlibat tanya yang berikutnya dan berikutnya dan membuat aku tidak akan damai dalam waktu-waktu yang selanjutnya. 
Dengan tanpa memberi alasan lain, akhirnya Bapak penerima telepon pun mengiyakan, dan mempersilakanku untuk melanjutkan kunjungan. Padahal, tidak ada maksudku untuk memaksa. Namun, karena aku terlanjur berniat. 
Ketika baru saja sampai di lokasi, yang menyambutku adalah Bapak penerima telepon. Beliau mempersilakanku untuk menuju ruang tamu, yang ternyata Bapak RT sudah berada di sana. Aku meminta izin terlebih dahulu, mengucap salam, dan beliau persilakan aku duduk. Aku duduk di kursi yang berseberangan dengan Bapak RT. Sedangkan beliau, terlihat berbeda dari biasanya. 
Oihyaaa…? Sempat ku terkaget, seraya tidak percaya. Aku bertanya-tanya semenjak beberapa hari yang lalu, dan jawabannya pun ada di depan mata. Bapak RT betul-betul sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Namun beliau masih sanggup untuk berdiri dan bicara, hanya sakit ringan, pikirku. 
Aku sedikit menyesal, karena memaksakan diri untuk berkunjung ke kediaman beliau. Kalau saja aku sedikit bersabar, tentu aku tidak akan menyaksikan kondisi sebagaimana  yang beliau alami. Dan pasti saja aku tidak akan pernah tahu, bagaimana kondisi terakhir beliau semenjak dikabarkan sakit. Selain itu, tentu aku tidak dapat mengambil pelajaran hari ini. Dan bagaimana mungkin aku dapat merangkai catatan saat ini, kalau saja kunjungan tidak jadi berlangsung? Oleh karena itulah, aku jadikan aktivitas tersebut sebagai salah satu pengalaman hari ini yang perlu ku prasastikan.
Beberapa menit kemudian, setelah berjumpa dengan Bapak RT, beliaupun memberikanku beberapa patah sambutan. Lalu, aku pun menanyakan beberapa hal kepada beliau. Sedangkan Bapak RT menjelaskan dengan baik dan terperinci hingga aku mengerti. Intinya, masih banyak prosedur yang perlu aku lengkapi untuk dapat memperoleh informasi data terbaru sebagai penduduk di kota ini. Owh, semua terjadi di luar dugaanku. 
Aku pernah berpikir bahwa proses kepindahanku ke lain kota, dapat berjalan dengan lancar dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya dan cepat. Namun, aku perlu kembali menata ingatan dan harapan serta aliran pikir ini. Dengan terus mengingatkannya bahwa apa yang aku alami dan jalani, tidaklah seberat dan serumit yang aku pikirkan. Dan aku pun pernah mengalami pengalaman yang sama, sebelum ini. So, dengan tetap berpikiran positif dan optimis, aku yakin dapat memperoleh data terbaru, dalam waktu dekat.
Esok, perjuangan dan proses akan ku lanjutkan. Yaitu memperoleh lembaran dokumen pendukung dari lembaga tempatku meneruskan pendidikan. Karena memang, salah satu persyaratan yang tadi Bapak RT berikan adalah memperoleh surat referensi dari universitas. Nah! Setengah prosesnya sudah berlangsung tadi, berkat komunikasi yang ku tautkan dengan salah seorang pegawai yang berbaik hati dalam membantuku. Beliau menyampaikan, bahwa besok aku tinggal menemui bagian terkait, karena beliau telah berbincang tentang kebutuhan yang aku sampaikan melalui beliau. Lagi-lagi, aku ingat kebaikan seorang yang ingin segera ku balas dengan kebaikan yang lebih baik lagi. Bapak Ayub, sebagaimana nama beliau, ingin pula ku ukir dalam catatan perjalananku hari ini. Terima kasih Bapak, atas pertolongannya. Dan aku senang. 
Masih panjang perjalanan yang perlu ku tempuh. Ada beberapa persimpangan yang sedang ku lalui sekaligus. Antara mengurus dokumen kepindahan, meneruskan perjuangan dalam merangkai tugasku, kemudian menjalankan aktivitas dalam hari-hariku. Aku belum pernah membayangkan akan menjalani semua ini, sebelumnya. Namun kini aku hadapi dalam kenyataan. Betapa indahnya rencana Allah untukku. Allah telah persiapkan rangkaian kisah untuk ku jalani dengan baik, sebagai bagian dari kisah kehidupanku. So, saat ini, setelah semua Allah sampaikan padaku, bagaimana tanggapanku dalam menjalaninya? Apakah aku bersungguh-sungguh, atau bagaimana? Aku sedang membuktikan kesungguhanku dalam menjalani semua ini.
Adapun salah satu buktinya adalah catatan yang sedang ku rangkai ini. Catatan yang dapat mengingatkanku lagi, setelah semua aku alami. Sehingga dapatlah ia menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga, dariku, untukmu, bagi kita.
Kita tidak perlu menjalani semua hal yang orang lain jalani, agar kita dapat memperoleh pengalaman. Namun dari membaca, mengamati, dan memperhatikan bagaimana orang lain menjalani hari-harinya, dapat menjadi pengalaman pula bagi kita. Kita dapat belajar dari kesuksesan yang orang lain peroleh, agar kita memahami arti kesungguhan. Pun kita dapat belajar dari proses yang orang lain lalui, agar kita mau meneladani. Sehingga kita tidak segera menyerah saat lelah. Namun kembali bergerak walau selangkah, dengan penuh keyakinan.” 
Apapun yang kita saksikan, kita temui, kita perhatikan dan kita pahami, merupakan pengalaman yang sangat mahal harganya. Termasuk sesiapa saja yang menyampaikan pengalaman kepada kita, tanpa perlu kita alami pula. Maka, orang tersebut adalah pahlawan yang sangat berjasa bagi kita. 
Perhatikanlah sesiapa saja yang sedang berada di hadapan kita, lalu belajarlah darinya pada saat itu juga. Maka kita akan menjadi seorang yang gemar belajar. Jadikan beliau sebagai guru terbaik kita, lalu berterima kasihlah segera. Karena mungkin saja kita tidak akan bertemu lagi dengan beliau untuk kedua kalinya. So, keep your first meet with others as an incredible moment in your life. Dan menjadilah reporter dalam perjalanan kehidupanmu. Ia yang siap sedia kapan saja, untuk memberikan informasi kegiatan-kegiatan yang engkau jalani.
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s