Engkau, aku, kita pernah remaja. Begitu pula halnya dengan para orang tua yang telah mempunyai putra dan putri yang saat ini telah menempuh usia remaja pula. Beliau, para orang tua, tentu mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang pergaulan remaja. Karena beliau telah pernah mengalaminya. Pengalaman menjadi remaja. 

Engkau, aku, kita yang saat ini masih remaja. Tentu saja kita belum mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang pergaulan remaja. Kecuali setelah beberapa tahun yang akan datang. Maka kita akan mempunyai pengalaman pula, bukan?

Remaja dan pergaulannya, sangat erat hubungannya dalam mendukung proses perkembangan dan pertumbuhan remaja. Termasuk cara pandang remaja terhadap masa depannya, pun menjadi bagian penting yang diperoleh remaja dalam pergaulannya. 

Remaja yang masih labil, tentu seringkali mau dan mampu memperoleh warna dari lingkungannya. Dan akhirnya, ia pun terlarut dalam pergaulan, baik positif ataukah negatif? 

Remaja yang selektif, tidak akan sembarangan dalam menentukan lingkungan pergaulannya. Intinya, walaupun masih remaja namun ia dapat memberikan perhatian berlebih terhadap harapan akan masa depannya yang lebih baik. Sehingga ia kelilingi dirinya dengan lingkungan yang terbaik. Dalam hal ini, ia menempatkan lingkungan sebagai aspek utama dan pertama dalam pergaulannya. 

Remaja yang memperoleh referensi dari orang tuanya tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh ia lakukan tentu mempunyai gambaran tentang bagaimana cara bergaul. Walaupun ia belum mempunyai pengalaman sama sekali, sebelumnya. Namun ia akan ingat dan mengingat bahwa dalam pergaulan, ia mempunyai batasan-batasan. Dan batasan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung bagi remaja tadi untuk benar-benar memperhatikan lingkungan pergaulannya.

Remaja yang berada di lingkungan baik-baik, akan bertumbuh menjadi remaja yang baik. Remaja yang mempunyai teman-teman yang baik, maka seiring dengan beranjaknya usia menjadi dewasa, ia akan terpengaruh pula dengan teman-temannya yang baik. Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting kiranya, untuk kita pahami. Bahwa lingkungan menjadi faktor utama dan pertama dalam pergaulan remaja.

Remaja dan fenomenanya tentu beragam. Ada yang dapat membuat kita terpesona, ketika kita mengetahui bahwa banyak prestasi yang diukir oleh remaja. Pun membuat kita kasihan padanya, apabila dalam pergaulannya, remaja malah tidak mempedulikan masa depannya. Seperti terjerumus dalam pergaulan bebas, misalnya.  

Ai. Masa remajamu, seperti apa adanya, teman? Apakah sesuai dengan keadaan yang pertama atau yang kedua? Engkau dapat menilainya dari apa yang saat ini sedang engkau alami. Termasuk apapun yang engkau jalani saat ini. Sehingga ketika engkau flashback, maka  engkau dapat memberikan jawabannya. 

Tidak banyak waktu yang kita punya, untuk menyesal atas kebelumberhasilan yang kita lihat pada masa lalu. Pun, tidak perlu tenggelam dalam buliran kebahagiaan yang menenggelamkan diri. Hanya saja, kita perlu terus melakukan perbaikan dan introspeksi apabila ternyata kita belum berhasil pada masa remaja. Dan terus bergiat saat ini, ketika cermin dari masa remaja memantulkan diri kita yang penuh dengan prestasi. Karena sesungguhnya kehidupan kita yang sejati adalah saat ini dan sekarang. Lalu bergegaslah mendukungnya agar tetap bergiat dalam menuju hari esok bernama masa depan. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa apa yang sedang kita lakukan hari ini, merupakan bagian dari diri kita pada masa depan. Sedangkan apa yang kita raih pada masa lalu, merupakan prasasti diri.

Nah! Bagaimana prasasti diri yang kita saksikan? Apakah ia membuat kita tersenyum menawan sungguh rupawan? Karena kita bahagia dengan apa yang ada. Atau, terdapat beberapa bagian darinya yang membuat kita segera tertawakan ia, seraya menatapnya lamaaaaa banget. Kita merenungkan kisah perjalanan. Eits, jangan kelamaan. Karena waktu tidak menunggu kita, teman. Siapkah engkau untuk meneruskan perjalanan lagi? 

Hari ini telah hadir, seiring dengan  terbitnya mentari pagi. Hari esok, belum tentu ia masih bersinar seperti saat ini. Selanjutnya, terserah padamu. Mau menyiakan hari ini yang akan menjadi prasasti dirimu, atau bagaimana? Dan bagaimana engkau menjalaninya wahai teman remaja? 

Remaja, terkadang ingat bahwa ia berada pada masa-masa produktif, lalu berkarya. Namun pada kesempatan lain, ia terlupa, bahwa ia berada pada waktu-waktu yang sangat berharga dan mahal nilainya.   

Remaja yang menyadari diri, segera bangkit saat ia ingat, siapakah dirinya. Ia yang mengerti makna kehadirannya. Ia yang ingin menitipkan lembaran kisah terhadapnya kelak apabila menjadi orang tua. Orang tua yang selanjutnya mempunyai keturunan yang juga bertumbuh menjadi remaja. Remaja yang peduli, tidak akan membuang-buang waktu untuk pergaulan yang tidak berguna.

Wahai remaja, ingin menjadi apakah engkau setelah lima tahun yang akan datang? Maka engkau dapat memulainya pada hari ini. Dan dapat terjadi, apabila engkau terus menjaga ingatanmu pada harapan yang telah engkau ukir dan memelihara lingkungan pergaulanmu, sesuai dengan apa yang engkau inginkan. 

Apabila engkau ingin menjadi pengusaha, maka berdekat-dekatlah dengan pengusaha yang sukses. Apabila engkau ingin menjadi pendidik, maka didiklah dirimu dengan jeli terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Temukanlah guru-guru yang mendidik. Dan pendidikanmu gratis, selama engkau mau belajar dari siapa saja.



Alam, adalah guru yang mulia, apabila engkau tidak dapat melanjutkan pendidikanmu karena keterbatasan biaya. Bergaullah dengan alam yang penuh dengan kesabaran dan ketenangan. Maka engkau pun belajar untuk menjadi pribadi yang penyabar. Belajarlah dari alam yang penuh semangat dan antusias, maka engkau pun tergerakkan untuk menjadi lebih semangat lagi. 

Hari ini, engkau belajar tentang apa, teman? Dan bersama siapakah engkau menjalaninya? Berhati-hatilah! Karena sesiapa saja yang berada dekat denganmu, merupakan cermin dirimu.   
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s