C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

Sebelum hari berganti nama menjadi esok. Menjelang kita bertemu dengan angka dua belas pada jam-jam yang terus berdetak, sebagai penanda berubahnya hari. Sebelum kita benar-benar berpindah, tidak lagi berada pada hari ini, usahakanlah untuk menulis, walaupun satu paragraf adanya. Karena satu ditambah satu sama dengan dua. Dan dua ditambah dua adalah empat. Lalu, bagaimana kalau kita tidak hanya menulis satu paragraf dalam sebuah kesempatan merangkai catatan? Misalnya mencapai empat paragraf sekaligus. Tentu saja, kita dapat merangkai paragraf sebanyak lebih kurang dua puluh empat setiap pekannya dan apabila kita kalikan dengan sebulan, jumlahnya menjadi berapa, yaa…?

Ai! Hitungan angka-angka itu tidak akan kita sadari lagi. Tiba-tiba ia sudah banyak. Betapa bahagianya, yaa. Karena dari beberapa kalimat yang kita rangkai, akhirnya kita dapat mengenali siapakah kita setelahnya. Lagi pula dengan merangkai tulisan yang kita alirkan dari pikiran, menjadi salah satu jalan bagi kita untuk belajar berkomunikasi. Karena tidak selalu seorang yang pandai menulis, pun fasih dalam berbicara. Begitu pula halnya dengan seorang yang orator ulung, terkadang tidak lancar dalam mengalirkan isi pikirannya dalam bentuk rangkaian tulisan. Nah! Intinya adalah, dengan menulis maka kita menemukan keseimbangan. 
Keseimbangan yang dapat kita pertimbangkan keberadaannya, setelah ia ada. Dan dari apa yang ada, maka kita dapat mempertimbangkan, sudah sejauh apa kemampuan kita dapat mengalirkan apa yang ingin kita sampaikan? Dan bagaimana kita dapat menjelaskan dengan lebih rinci segala yang ingin kita jelaskan kepada objek yang kita tuju? Hal ini tentu sangat erat kaitannya dengan kemauan. 
Kemauan yang kita latih dalam bentuk menulis, menjadikan kita lebih mudah dalam mengalirkan apa yang ingin kita sampaikan. Karena menulis merupakan salah satu bentuk kreativitas yang dapat kita pelajari. Dan dengan belajar lebih sering, maka kita menjadi paham dengan apa yang kita lakukan. 
Dalam merangkai tulisan, kita tidak dapat semaunya saja. Karena tentu ada aturan yang perlu kita patuhi dan kita penuhi. Tentu saja ini tergantung pada apa tema tulisan yang ingin kita rangkai. Seperti saat mengurai pembahasan berhubungan dengan jurnal ilmiah, misalnya. Maka kita tidak dapat menyusun huruf semaunya kita saja. Karena dari apa yang kita tulis di dalam jurnal ilmiah, tentu akan dapat dimengerti kalau kita menguraikan dengan sistematis. 
Berbeda halnya dengan ketika kita sedang merangkai catatan harian. Di sini, kita bebas menggunakan bahasa yang kita pengen. Boleh dalam bentuk susunan yang baku, atau dalam bentuk bahasa keseharian. Tidak ada yang mengikat, karena kita mempunyai kebebasan. 
Adapun catatan yang saat ini sedang saya rangkai adalah pilihan kedua dari jenis tulisan. Karena catatan ini bukanlah jurnal ilmiah, namun hanya berupa catatan saja. Catatan yang saya rangkai untuk menjadi jalan yang mengingatkan diri ini, lagi. Ketika ia terlupa untuk menulis meski satu paragraf catatan setiap harinya. Yes! I hope, this is a suplemen for my mind, and catch it when I need it. 
Ya, saya insya Allah, akan kembali mengingat rangkaian paragraf demi paragraf yang terdapat pada catatan ini. Bahwa, dari segala yang kita inginkan terkadang tidak menjadi nyata. Begitu pula dengan sebaris kalimat yang menjadi tittle. Bahwa untuk merangkai tulisan setiap harinya, tentu saya mau. Namun, terkadang ada beberapa kendala, halangan dan rintangan yang menghambat tercapainya cita. Dan inilah salah satu pengingat. Bahwa saya tidak dapat menjadikan apa yang menghalangi dan merintangi saat ingin merangkai sebuah catatan, sebagai alasan untuk tidak menulis satu paragraf setiap harinya. Karena setiap orang yang rajin merangkai kalimat, maka ia menjadi lebih terlatih dalam menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.  
Karena seringkali, kita tidak selalu dapat bertatap mata dan bersua dengan sesiapa saja yang ingin kita temui. Untuk kita sampaikan beberapa baris kalimat terhadap beliau. Namun, ketika kita sudah memperoleh kesempatan untuk merangkai kalimat dalam selembar layar yang bercahaya, tentu kita dapat memanfaatkannya sebagai sarana. Agar, tiada yang tersia dari apa yang kita punyai. Semua hanya berperan sebagai media bagi kita agar dapat menjadi seperti apa yang kita impikan. 
Impian seorang yang hebat, tidak mungkin setengah hati apatah lagi setengah tinggi. Namun ia akan mengantungkan impiannya nun sangat jauh di tempat tertinggi. Agar, tidak sembarangan orang boleh mengetahui apa yang sedang ia impikan. Namun hanya yang benar-benar ia percaya saja, yang dapat mengikuti segenap perkembangan yang sedang ia tempuh. Karena baginya, bukan seberapa lama ia sampai pada impian yang telah lama ia rangkai. Namun, baginya yang terlebih penting adalah, impian tersebut segera berdiri di depan mata, saat ini. Oleh karena itulah, maka ia pun berusaha untuk menuliskannya, agar ia ada. 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s