“Jangan pernah menghancurkan mimpimu hanya karena ga ada uang. Kamu hanya perlu terus belajar… belajar… dan belajar,…,” begini kalimat motivasi yang beliau sampaikan kepada adik tersayang ‘Shindy’ untuk memotivasi dalam melanjutkan pendidikan. Beliau adalah saudari kita Oki Setiana Dewi.

Ada banyak orang yang sukses dengan penuh perjuangan dan beliau adalah salah satu bukti nyata. Ah, dalam linangan airmata yang masih membanjir, aku menyimak kisah yang beliau sampaikan, di sini. Hikss… pagi nan syahdu bagiku. Karena aku baru bisa nonton tayangan ini, via youtube. Karena aku sangat jarang bisa nonton TV langsung setiap harinya. Karena aku memang demikian adanya. Dan, inilah aku.
***
Ada airmata yang mengalir. Ada senyuman yang menebar dengan ringan. Pun ada canda dan tawa yang menyelingi dalam episode kehidupan yang kita jalani dalam kehidupan ini. Semua datang silih berganti, saling melengkapi. Hingga akhirnya, kita pun mengerti, bahwa ia adalah hiasan dalam perjalanan. Perjalanan kehidupan yang singkat dan tidak selamanya. 
Tersenyum lagi, lalu tersenyum. Tersenyumlah dari dalam hati, bersama hatimu yang tersenyum. Karena tiada lagi yang dapat kita lakukan selain mensenyumi keadaan yang sesungguhnya tidak kita ingini dan kita mengalami. Karena mungkin ada hikmah terbaik yang terselip di dalamnya, untuk kita jadikan sebagai bagian dari kisah hidup kita. Hanya saja, maukah kita mensenyumi?
Ketika kita menjadi begitu mudah untuk tersenyum dalam kebahagiaan yang menaungi. Sedangkan untuk keadaan yang sebaliknya, maka kita perlu memperjuangkan senyuman tetap menyelingi. Belajarlah dari teladan yang tidak pernah henti mengingatkan kita, mentari. 
Mentari? Yupz! Mentari. 
Oleh karena itulah aku sangat suka dengan mentari yang bersinar. Karena dengan mengingatnya saja, aku menjadi teringatkan lagi. Mengingat bukti yang ia baktikan pada pemiliknya. Bahwa ia terus berevolusi dalam keadaan yang bagaimanapun. Hanya menyinari, inilah salah satu bukti cinta mentari kepada Allah. Lalu, kita? 
Belajar dari sesuatu yang kita sukai, tentu membuat kita segera mengembalikan ingatan dengan mudah untuk mengingat-ingat lagi bahan pelajaran. Ketika bahan pelajaran tersebut kita butuhkan saat menjalani ujian. Ketika kita tersenyum melihat mentari yang bersinar pagi ini, maka dengan mudah pun kita kembali tersenyum saat tetesan air membasahi bumi. Karena kita mengambil teladan dari senyuman mentari ketika teriknya mencerahkan hari-hari kita.
Indahnya belajar dari alam. Membuat kita segera memetik pelajaran hari ini menjadi sebuah pengetahuan. Dan mengabadikan pelajaran hari kemarin dalam lembaran pengalaman. Ia yang tidak akan pernah kita hapus setelah kita menuliskan. 
Cukup, cukup, apabila coretan lalu kita ada kejanggalan, kita jadikan ia sebagai pengingat diri, bahwa insan penuh dengan kekhilafan. Namun kalau benar adanya, semoga menjadikan kita insan-insan yang penuh dengan tawadu’, lalu mengembalikan semua kepada Tuhan.

C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s