Semalam…
Aku melihat bulan tersenyum pada bintang,
seperti aku melihat mentari tersenyum padaku,
sebelum ia berpisah dengan langit siang,

Dari tatapannya,
ku tahu ia sangat ingin menitipkan pesan,
namun pesan itu tidak dapat dieja,
meski oleh angin yang membaca alam,
hanya semilirnya yang menandakan bahwa angin masih belajar,
belajar menafsirkan arti dari senyuman,
senyuman bulan terhadap bintang semalam,

Semalam,
aku melihat rumah-rumah tanpa atap,
namun banyak orang berdatangan mengunjunginya,
mereka bilang itu rumah impian,
aku juga ada di sana kebetulan,
ah! tak ada yang tanpa makna, bukan?

Semalam,
ku lihat anak-anak kecil berlarian,
seraya melambai-lambaikan tangannya kegirangan,
hey, mereka mempunyai permainan,
di antara gundukan tanah kemerahan,
oh, pemandangan nan indah nian,
aku turut serta tanpa mau ketinggalan,

Semalam,
aku mencari-cari teman-teman kecilku,
aku memanggil-manggil dalam igauan,
hingga aku terbangun sebelum usai permainan,
terbangun dan tersadarkan,
“Ternyata hanya mimpi,” gumamku pelan.
C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s