Baiklah, materi catatan kita kali ini adalah tentang Qana’ah. Qana’ah merupakan salah satu akhlak yang mulia. Sebagai hamba Allah yang beriman, tentu saja kita sangat ingin mempunyai sifat qana’ah, bukan? 
Qana’ah. Untuk menjadi seorang yang qana’ah, tentu tidak mudah, teman. Karena kita membutuhkan kerelaan untuk menerima apa saja yang sampai kepada kita, dan kita yakin itu berasal dari Allah. Ketika kita berpikir bahwa Allah yang menyediakan rizki untuk kita, maka kita pun qana’ah atas rizki yang kita terima, berapapun banyaknya. 
Seorang yang qana’ah adalah seorang yang penuh syukur, maka ia menerima dengan senang hati apa yang sampai padanya. Bukan mempedulikan berapa jumlah harta yang ia punya, namun ia peduli pada perasaan yang ia alami saat mempunyai harta. Dan harta yang ia peroleh sangat ia yakini berasal dari Allah, bukan atas usaha yang telah ia lakukan. 
Karena Allah Maha Penyayang dan Pengasih padanya, maka rizki berupa harta tersebut sampai padanya. Dan ia semakin menyadari, bahwa semua itu adalah titipan saja. 
Memikirkan rizki? Tentu tidak akan ia lakukan, kalau dengan cara demikian ia akan menjauh dari sifat qana’ah yang membuatnya lupa bersyukur. Namun seorang yang qana’ah senantiasa berusaha untuk menjadikan harta yang ada untuk lebih mendekatkannya dengan Allah. Dengan demikian, syukur senantiasa menjadi bagian dari dirinya. Diri yang qana’ah.
Seorang yang qana’ah bukan berarti bahwa ia tidak pernah berusaha. Namun atas hasil dari usaha yang ia lakukan, maka ia bersifat qana’ah. 
Qana’ah sebagai salah satu bagian dari akhlak yang mulia, tentu sangat ingin kita miliki. Qana’ah yang berarti pula merasa cukup dengan apa yang ada, tentu menjadikan kita sebagai seorang yang berkecukupan, apabila kita mempunyai sifat qana’ah ini. Cukup atas apa yang kita miliki, bukan berarti kita tidak dapat memberi. Malahan perasaan cukup memberi kita kesempatan belajar untuk memberi semenjak dini. Karena persoalan qana’ah sangat erat hubungannya dengan rasa syukur. 
Orang yang qana’ah merupakan para penggenggam syukur. Dengan mempunyai rasa syukur, maka segala nikmat yang Allah berikan menjadi jalan baginya untuk berbahagia. Mengapa bahagia? Lalu apa pula kaitannya antara qana’ah, syukur dan bahagia? 
Orang yang qana’ah adalah penuh dengan rasa syukur. Sedangkan orang yang bersyukur, karena ia berbahagia. Nah! Sudah jelas bukan? Bahwa qana’ah adalah awal dari hadirnya kebahagiaan. 
Dalam kehidupan ini, dapat kita saksikan bahwa seorang berbahagia karena ia penuh dengan rasa syukur. Dan orang yang bersyukur, akan Allah lapangkan hatinya dalam menerima segala ketentuannya. Lalu, bahasa apa lagi yang pantas kita selipkan pada satu sifat yang mulia ini, selain qana’ah? 
Qana’ah dapat membawa kita pada perasaan kaya yang sesungguhnya. Kaya yang berasal dari dalam hati. Dan hanya hati orang-orang yang kaya rasa syukur sajalah yang mampu membawa sifat qana’ah dalam kesehariannya. 
Tidak ada umpatan, omelan, cercaan ataukah lagi pengisyaratan bahasa yang mencerminkan bahwa ia tidak bersyukur. Namun sikap dan perilaku yang melekat padanya, sudah sangat jelas menerangkan bahwa ia adalah pribadi yang qana’ah. 

Wahai… ke manakah lagi kita akan mencari sifat qana’ah, kalau kita belum tahu di manakah ia berada?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s