“Hei! Teman… ada satu lagi alasanku masih mampir di sini,” sapaku padamu.

“Hah? Untuk apa? Aku tak mau alasanmu. Karena aku sudah tahu, pasti mau curhat yaaa…,” ledekmu, lalu beringsut mendekatiku.

“Oh… tunggu, tunggu, tunggu dulu, memang biasanya begitu. Namun kini lain, fren,” tambahku seraya mendekatimu lebih dekat lagi. Hingga akhirnya, tiada lagi jarak yang menjadi penghalang kedekatan kita. 

Di sampingmu teman, kini aku sedang duduk dengan manis. Seraya ku sampaikan beberapa baris pesan yang dalam yakinku, berarti.  Walaupun hanya beberapa di antaranya, semaksimal daya ku coba merangkainya. Karena ia dapat menjadi oleh-oleh tambahan dariku, bagi seorang sahabat terbaik yang saat ini tidak ikut denganku dalam perjalanan ini. Padahal, beliau sempat berpesan padaku, bahwa ke manapun aku pergi, aku perlu membawa oleh-oleh buatnya. Nah! Saat ini, kesempatan itu datang lagi. 
Buat temanku yang sedang tidak berada di sisiku saat ini, ku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sedangkan bagi temanku yang sedang memperhatikan proses terangkainya beberapa baris kalimat di sini, saat ini, ingin seringkali ku senyumi engkau. Agar, engkau tidak begitu seriusnya memandangku. Toh, aku pun sama seperti dirimu. Tidak akan tenang kalau ada yang memperhatikan ketika sedang merangkai suara hati.  

Betul, bukan?

Alangkah indahnya waktu-waktu yang sunyi dan dalam keheningan. Karena bersamanya kita dapat menemukan satu, dua titik pesan untuk kita tebarkan dalam sebuah catatan. Dan waktu-waktu yang berhiaskan keheningan itu, bukanlah  menjadi penghambat kita untuk tidak mau lagi berjalan. Karena kita berada di dalamnya, untuk menjadikannya sebagai salah satu bahan pelajaran. Yha, agar kita kembali merenungkan. Pada saatnya nanti, kita pun akan bersunyi-ria dalam sebuah ruang yang gelap tanpa cahaya. 

Kuburan.

Ya, Allah… jadikanlah rangkaian pesan yang kami rangkai dari detik ke detik waktu yang kami abadikan, menjadi cahaya penerang penghias kubur kami, kelak. Hingga kami tidak sendiri dan sunyi di dalamnya, namun bersama kerlipan benderang yang membuat kami segera menyadari. Bahwa benar, pesan ini berarti. 
Adalah salah satu alasan mengapa aku mampir di sini, untuk mengumpulkan bekal bagi perjalanan yang selanjutnya. Karena aku yakin dan percaya bahwa perjalananku tidak hanya saat ini. Pun begitu pula halnya dengan engkau, wahai teman… Kita sama-sama akan meneruskan perjuangan pada alam yang berbeda dari saat ini. Alam yang kita belum pernah sama sekali berada di sana. Alam yang apabila kita mengingatnya, semoga menjadi peneguh  gerak kita selama berada di dunia ini. Agar kita tidak berpatah semangat lalu menyerah begitu saja, kalau kita terlelah dan bersimbah keringat saat berjalan. Ya, karena perjalanan di dunia ini, masih tiada bandingannya dengan perjalanan berikutnya. Dunia hanya sementara, dan kita tidak selamanya bersama. 
So, for dunia, ada pesan yang kami petik darimu. Bahwa engkau hanyalah sebagai jalan bagi kami dalam meneruskan laju perjuangan. Bukanlah tujuan, apalagi untuk kami jadikan sebagai sahabat hati. Karena tersering kami terkejut oleh banyak tipu yang engkau sampaikan pada kami. Ai! Sungguh dan sungguh, kami ingin menyesal lebih awal saja. Karena penyesalan pada awal hari, menjadi penggiat diri untuk kembali bangkit dari lalainya. Sedangkan kami, musafir yang masih dalam perjalanan bersamamu, sangat ingin selamat hingga ke tujuan kami yang abadi, aamiin ya Rabbal’alamiin.

Tidak banyak lagi waktu yang kami miliki, hanya detik ini. Tidak pula banyak kesempatan yang kami miliki, selain di sini. Ya, bersamamu wahai duniaku, terselip isyarat dari matahari sore tadi, bahwa aku perlu terjaga lebih sering. Untuk membersamainya yang terus berevolusi, tiada henti. Berkelilingnya ia untuk mengemban tugas suci, dalam rangka berbakti pada Ilahi Rabbi. 

Sedangkan aku? Sudah sampai di mana pengabdianku pada Rabb-ku? Padahal aku sama-sama mempunyai Pencipta yang sama.

Tidak lagi aku menjalani hari-hari yang tanpa arti. Sedangkan telah sampai padaku sebuah pesan berarti hari ini. Pesan yang membuatku segera bangkit dari duduk. Kemudian ku raih selembar catatan, untuk ku sampaikan lagi pada sesiapa saja yang menginginkannya. Pesan matahari.
“Matahari, tidak selalu terlihat oleh tatapan mata ini, namun ia senantiasa bergulir mengikuti waktu. Dan kehadirannya pun sebagai penanda perubahan waktu. Nah! Sebelum mentari pagi menyapa alam tempat ku berada kini, aku ingin terus merangkai kalimat demi kalimat yang sangat menentukan bagaimana hari esokku, hari nan abadi. Melalui ingatan yang terus menyala ini, ia menjadi jalan hangatkan pikirku. Pikirku yang seringkali terkenang ia, mentari di hatiku.”
Bukan rupa dan tampilan raganya yang perkasa, yang aku kagumi. Bukan pula perawakannya gemulai dan penuh dengan kelembutan. Bukan, bukan karena itu aku menyukai mentari. Namun, karena ada pesan yang ia sampaikan padaku, setiap kali aku memandang sorot matanya. Mata hati. 
Sebuah kata saja yang aku tangkap dari tatapan itu, niscaya menjadikanku berpikir lebih dalam lagi. Serayaku berjuang untuk meneruskan catatan demi catatan yang ku rangkai hampir setiap hari. 
Pribadi yang bersinar selayaknya mentari, tentu tidak akan mudah untuk kita lupai. Karena ia seringkali muncul setiap hari. Dan kehadirannya bukan hanya setiap hari, namun pada setiap hati yang telah mengenal, siapakah ia yang sesungguhnya? 
Meski tanpa nama yang melekat pada diri, namun dari arti yang tersampaikan pada diri-diri yang mengenalimu maka engkau perlu tersenyum lebih indah lagi, teman. Bukan hanya hari ini, di sini. Namun hingga engkau benar-benar sampai pada hari yang abadi. Tersenyumlah secerah sinar mentari yang ku pandangi sore tadi.  Sore yang berkesan, bersama mentari jingga nan rupawan. 
Lalu, engkau? Ketika usiamu pun beranjak, senyumanmu akan tetap berkesan, kalau engkau berjuang untuk merangkainya semenjak dini. Berlatih dan terus berlatih, itulah engkau. Karena tiada yang tercipta dengan tiba-tiba, semua tentu ada proses. Begitu pula dengan indahnya senyumanmu hari ini. Ia ada, karena engkau rajin berlatih. 

“Eitss… engkau suka ngaca, yaa….?,” tanyaku pun mengalir padamu, engkau yang masih duduk di sisiku.

“Enga..engga… engga’ ah,” jawabmu seraya tersenyum. Engkau tersipu. Engkau malu. Hohooo….

Kalau bukan karena aku ingin melihat senyumanmu itu, tidak mungkin aku menyapamu sedemikian. Namun aku sangat tahu siapakah dirimu yang sebenarnya. Makanya, aku rela-rela melayangkan pandang ke arahmu yang terlihat asyik memperhatikanku. Karena aku tahu semenjak mula. 

“Engkau suka, yaa, pesan-pesan ini?,” tambahku pula. 

Tiba-tiba engkau bangkit dari dudukmu, lalu meninggalkanku tanpa bicara satu patah katapun. Karena memang begitu adanya engkau. Engkau yang tanpa rupa, pun suara. Namun aku menyadari bahwa engkau ada. Siapakah engkau? 

“Owh, hati-hati di jalan, yaa… see you kapan lagi, yaa?,” aku pun menyusulmu yang terus melangkah.

 

Aku melangkah terus di sisimu. Aku ingin bersamamu. Engkau yang aku belum kenali dengan baik. Namun sudah ku jadikan sebagai seorang sahabat baik. Sungguh, aku tidak mengerti dengan semua yang aku alami hingga saat ini. Namun aku yakin, bahwa di sebalik yang terjadi dan aku mengalami, pasti ada hikmahnya. Adapun salah satu hikmahnya adalah, aku dapat merangkai sebuah catatan saat ini. Catatan yang dapat mengingatkanku padamu lagi, engkau yang melangkah lebih cepat, dan aku terus mensejajarimu. Adakah kita akan selalu bersama, teman? Engkau yang mungkin saja belum menyadari ada aku di sisimu. Aku yang menyediakan beberapa waktu dari hari-hariku, untuk menemukan jejak-jejakmu. Jejak yang aku yakin, berisi pesan untukku. Pesan yang ku yakin berarti.   

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s