Ketika kita berhak untuk bercita dan bermimpi, maka kita pun berhak untuk menjadi bagian terpenting saat merealisasikannya.  Karena kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang akan memperjuangkan proses tercapainya impian dan cita kita? 
Saat ini, ketika masih pagi, bergeraklah teman. Ya, mulailah hari ini dengan sekelumit harapan berikutnya yang sedang kita jaga. Harapan agar kita dapat menjejakkan selangkah dua langkah upaya untuk tercapainya impian. Walaupun untuk melangkah dengan gesit, engkau belum lagi mampu, namun teruslah mengayunkan kaki-kakimu. Karena tiada yang tersia dalam setiap gerak yang sedang engkau upayakan. 
Berani bercita, bermimpi dan berusaha untuk menjadikannya nyata, adalah salah satu proses mencipta senyuman. Tersenyumlah pada kebodohanmu yang membuat engkau seringkali berkata, “Mengapa aku masih begini dan begini saja, padahal aku sudah merencana untuk lakukan hal lain? Mengapa aku masih belum memulai apa yang seharusnya aku mulai, padahal sudah menjadi tugasku untuk memulainya saat ini? Mengapa aku masih terlarut dalam aktivitasku yang sama, sedangkan aku tahu bahwa kesempatan itu tidak akan pernah datang untuk ke dua kalinya? Lalu, bagaimana aku memanfaatkan kesempatan saat ini, di sini? Apakah yang sedang aku lakukan dalam rangka melebarkan sayap-sayap mimpiku? Apakah aku sudah benar-benar berjuang bahkan melebihi kemampuanku? Atau, perjuanganku baru sekilas angin lalu?”
Demikianlah rangkaian pertanyaan yang hadir di dalam ruang pikirku pagi ini, pikir yang seringkali bertanya. Adapun tanya yang ia sampaikan, membawaku melangkah lagi pada jalan ini. Jalan yang aku yakin, merupakan bagian dari kehidupanku. Walaupun semenjak pagi ini, belum sempat ku layangkan arah pandang pada mentari yang sedang tersenyum di luar sana. Padahal aku ingin mendekatnya. Dan aku ingin merasakan kehangatan yang ia sampaikan pada seluruh alam, padaku juga.
So, bagaimana halnya dengan pilihan? Tidak perlu menunggu lama dan berlama-lama dalam penantian, teman. Segeralah bangkit, bangun, lalu berjalanlah. Maka sinaran mentari yang sedang menebar di seluruh alam, pun dapat engkau rasakan hangatnya. Berjuanglah untuk merasakan kehadirannya di dekatmu. Walaupun aslinya, ia sedang berada nun jauh di sana, di angkasa. 
Sekali-kali, angkatlah wajahmu hingga menengadah. Lalu jadikanlah moment tersebut sebagai pendobrak hasratmu untuk kembali berjuang. Perjuangan yang perlu terus berlangsung. Karena engkau masih ada di bumi. Bumi yang menjadi jalan bagimu, dalam meneruskan perjuangan menuju cita. Lalu, cita seperti apakah yang hingga saat ini masih belum terealisasi, teman? Cita setinggi apakah yang pernah engkau selipkan di ruang ingatan, namun ia masih belum menjadi kenyataan? 
Padahal dengan keyakinan, hampir setiap hari engkau menjalankan proses untuk mencapainya. Dan engkau hampir saja berputus asa dan tanpa harapan lagi. Eits,,, tunggu dulu! Saat ini masih ada. Bergeraklah, berjuanglah, dan temukanlah senyumanmu sedang mengembang dalam menjalaninya. Karena impian ada karena kita sanggup dalam mencapainya, asalkan kita berjuang untuk merengkuhnya. Begitu pula dengan impian yang saat ini belum menjadi kenyataan, padahal engkau masih terus berjuang. Sadarilah bahwa ada yang sedang engkau bagikan dalam detik-detik waktu yang engkau tempuh bersamanya. Agar engkau dapat menyampaikan beberapa pesan, kesan dan atau catatan bagi sesiapa saja yang juga mempunyai impian. Bahwa untuk menggapainya memang tidak mudah. Apalagi kalau cita dan impian kita terlalu tinggi. Ai! Bukan tingginya impian yang menjadi penghalang, namun kembali lagi kepada diri kita sendiri. Diri yang menjadi penghalang terbesar dalam mencapai impian. 
Tidak ada seorang pun yang berhasil dalam merealisasikan impiannya, yang tanpa perjuangan. Karena untuk memperoleh, kita perlu memberikan, terlebih dahulu. Lalu, apakah usaha yang sedang kita berikan demi tercapainya impian? Pengorbanan. Ya, ia bernama pengorbanan. 
Berkorban waktu istirahat, agar dapat merangkai beberapa baris kalimat sebelum kita terlelap. Berkorban waktu bermain, agar kita dapat meneruskan langkah dalam menyusun kalimat demi kalimat. Berkorban pertemuan dengan para sahabat, agar kita dapat berkonsentrasi dan fokus dalam menjalankan proses. Pun berkorban untuk tidak lagi berkunjung ke sini, karena ada tugas penting yang perlu kita selesaikan dengan segera. 
Waktu yang tersisa tidaklah lebih dari seratus hari, sanggupkah kita menyelesaikannya? Padahal sebelumnya kita pernah bertekad dan mengimpikan, bahwa “Kita Bisa!” Nah! Bagaimana, bagaimana, bagaimana tanggapan kita dalam menjalaninya? Ketika apa yang sebelumnya pernah kita ucapkan, perlu kita jalankan? Bagaimana teman? 
Hmm… mencapai impian, memang tidak semudah mengikrarkan impian. Namun kalau kita pernah mengikrarkannya, tentu dengan satu konsekuensi, bahwa kita mempunyai kemampuan untuk menaklukkannya. Karena di balik selembar catatan, terselip pengalaman. Inilah pengalamanku dalam meneruskan perjuangan dalam mencapai impian, teman. Dan aku ingin membuktikan, bahwa impian itu dapat tercapai, dengan keyakinan dan perjuangan yang aku lanjutkan. 
Ya, Rabb… bimbingan-Mu adalah sumber kekuatan. Innallaaha ma’ana. Laahaula walaa quwwata illaabillaahil’aliyyul’adziim.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s