Perjalanan yang sedang berlangsung kini, mengingatkanku pada sebaris kalimat tersebut. Ya, kalimat yang terdapat pada judul catatan kali ini, merupakan pertanda bahwa aku sedang rindukan kampung halaman. Home sick istilah bulenya. 
Home sick. Ada apa dengan home sick? Dan lumrahkah ia terjadi? Lalu berapa lamakah ia menggerogoti ruang hati? Apakah ia akan lama berada dalam ruang pikir? Inilah salah satu bahasan yang akan ku kupas di sini.  Kupasan yang membahas tentang seberapa cepatkah lompatan rasa ini bergerak? Apakah ia melambat lalu sempat menemui kita kemudian menginap untuk beberapa lama bersama kita? 
Aku rindukan kampung halaman, kini. Kampung halaman yang menjadi sarana bagiku untuk memulai kehidupan di dunia ini. Kampung halaman yang saat ini sedang menjadi lokasi keberadaan Ibunda, ayahanda, kakak adik dan keluarga. Dan di kampung halaman pula, aku sempat mengukir cita yang saat ini sedang berlangsung. Cita untuk dapat merangkai kisah tentang perjalanan di perantauan. 
Merantau aku pernah mengalami. Dan itu sedang berlangsung saat ini. Merantau yang belum terlalu jauh, namun hanya melewati satu selat saja. Dari pulau Sumatera ke pulau Jawa, lokasiku merantau. Oh, sungguh dekat, bukan? Namun bagiku, dekat ataupun jauh, tetap saja menyisakan ingatan pada kampung halaman. Karena bersamanya, aku pernah tinggal bersama. Bahkan lebih dari puluhan tahun. 
Tepat ketika usiaku menginjak angka dua puluh tahun, perantauan pun dimulai. Aku dan diriku yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan merantau, akhirnya sampai juga di Ibu kota. Ibu kota Jakarta, adalah awal melangkahku. Kemudian menetap untuk enam bulan saja di rumah Ibu Elly dan Bapak Adriza, yang sungguh berbaik hati padaku. Tinggal bersama beliau, aku alami layaknya berada di rumah saja. Karena tidak banyak hal berarti yang aku lakukan, kecuali mengerjakan rutinitas keseharian sebagai bagian dari sebuah keluarga. 
Lambat laun, waktu terus merayap. Dari satu hari ke hitungan dua, tiga, empat, dan seterusnya menjadi tidak terasa. Akhirnya, kami pun berjarak raga untuk kota yang berbeda. Ibu dan Bapak mengizinkanku untuk meneruskan langkah-langkah di kota Bandung. Kota yang bagiku, sungguh berkesan. Di sini, aku masih berada hingga saat ini. Untuk keperluan apakah? 
Melanjutkan pendidikan, demikian salah satu tujuanku berada di sini. Dengan dukungan materi, semangat, motivasi dan pesan-pesan berarti, aku pun meneruskan perjuangan lagi. Setelah beberapa tahun kemudian, beliaupun masih memberiku kesempatan emas untuk meneruskan langkah-langkah lagi. Hingga hari ini. 
Lama hidup banyak dirasa, jauh berjalan banyak dilihat. Itupun kalau selama menjalani kehidupan, kita benar-benar merasakan beraneka rasa yang ada. Sedangkan penglihatan pun begitu. Sejauh-jauh kita berjalan, kalau di perjalanan kita tidak melihat, maka tentu sia-sia saja. Hanya dengan membuka mata lebih lebar, kita dapat memperhatikan indahnya pemandangan alam. Pun, kita dapat melihat pesan-pesan untuk kita tuliskan mewujud tulisan. 
Di sela-sela waktu belajar, sempat ku berjalan-jalan ke berbagai wilayah yang sangat ingin aku kunjungi. Terkadang pagi, siang, ataupun sore menjelang malam. Aku suka berjalan-jalan dan meneruskan langkah. Hingga pada suatu hari, aku yang sedang ikut dengan sebuah angkutan kota, bertemu dengan seorang ibu yang sedang hamil tua. Sesuai dengan perkiraanku, usia kehamilan beliau telah mencapai angka delapan bulan lebih sedikit. Karena terlihat dari  kondisi perut beliau yang sungguh membuatku teringatkan pada Ibunda.  Kemudian, ku tepiskan bulir-bulir bening permata kehidupan yang ingin berjatuhan itu. Hingga ia kembali lagi ke cangkangnya. 
Dalam angkot yang hanya terdiri dari beberapa orang saja, aku dapat melihat jelas kondisi Ibu-ibu yang duduk dengan posisi terlihat tidak nyaman. Bersama keadaan yang beliau alami, mengingatkanku pada kondisi Ibunda saat mengandungku, dulu. Walaupun aku tidak dapat melihat langsung, namun demikian pula adanya beliau. Aku terharu. Haru yang akhirnya tidak lagi dapat terbendung itu, pun menyisakan ingatan bagiku hingga kini. Ingatan yang membuatku ingin segera menitipkannya pada rangkaian catatan walau beberapa baris saja. 
Perjalanan sehari yang aku tempuh, ada dua orang ibu-ibu hamil yang aku temui. Lalu, pada penglihatan kedua, aku segera berpikir tentang makna yang terselip di dalamnya. Karena dalam yakinku, tiada satupun yang kita lihat, kita temui dan kita alami yang tidak ada hikmah di dalamnya. Apakah hikmahnya, agar aku dapat menyadari akan kondisi seorang ibu ketika beliau sedang hamil? Lalu, menjadi jalan ingatkanku pada hari-hari yang sedang beliau alami? Ai! Perjuangan seorang Ibu, belum ada bandingannya dengan apa yang sedang aku alami saat ini. Walaupun demikian, sering saja aku merasakan bahwa perjuanganku sungguh berat. Padahal, tiada sesulit yang ibu alami, ternyata. 
Aku tidak mau menyatakan bahwa aku berjuang sungguh berat. Sebelum aku benar-benar menyaksikan perjuangan sejati seorang ibu yang sedang dalam kondisi hamil. Dan mungkin saja, apa yang aku lihat dalam perjalanan seharian pada beberapa hari kemarin, menjadi bahan pelajaran bagiku. Bahwa aku perlu teruskan perjuanganku ini. Karena apa yang aku jalani, tentu lebih ringan dari perjuangan seorang ibu yang dalam kondisi hamil, tadi. 
Oleh karena itu, teman, aku berjanji dengan diriku sendiri. Bahwa aku akan terus berjuang  dan berusaha lagi. Hingga aku benar-benar melompat dengan ringan dari satu medan juang hingga medan juang berikutnya. Karena pasti ada jalan yang sedang membentang untuk ku tempuh. Kalau saja aku berusaha untuk menemukannya. 
Semua orang yang hidup, tentu menemukan rasa yang berbeda. Sedangkan dari satu rasa ke rasa lainnya, tentu tidak berjarak. Karena mereka merupakan satu kekuatan yang saling menguatkan satu sama lainnya. Ketika saat ini engkau mengalami rasa bernama bahagia, maka beberapa detik kemudian tidak ada jaminan bahwa rasa tersebut masih ada. 
Kalau saja engkau tidak berusaha untuk mengenalinya dengan baik, maka engkau akan terkagetkan dengan rasa berikutnya yang datang menghampiri. Karena kehidupan adalah kumpulan dari rasa-rasa yang saling berantai, maka ia ada untuk menjadikan kehidupan kita ini menjadi lebih hidup terasa. 
Rasa yang kita alami di sepanjang perjalanan kehidupan ini, tidak dapat kita hilangkan begitu saja. Sebelum kita berjuang untuk mengabadikannya dalam prasasti perjalanan kita. Agar, ia dapat menjadi salah satu bahan pelajaran bagi sesiapa saja yang belum tentu mengalaminya. Bukankah rasa kita tidak sama? Walaupun memang sama adanya, namun ia tidak datang dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itulah, terkadang kita menanggapi rasa dengan penilaian yang berbeda pula. 
Pada suatu waktu kita dalam ketenangan hati dan ketenteraman pikiran, tiba-tiba ada yang menemui kita dengan nuansa berbeda. Karena apa yang kita alami memang tidak sama dengan yang menemui  kita, di sinilah pentingnya saling menghargai. Kita hargai apa yang oranglain rasakan, tanpa menertawakan. Apalagi untuk tidak mau turut merasakan apa yang orang lain rasakan. 
Kalau kita pernah mengalami bagaimana rasanya lapar, tentu akan sangat mudah bagi kita mendeteksi kondisi orang lain yang sedang dalam kondisi lapar pula. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi kita untuk bersegera mengulurkan beberapa suap menu makanan terhadap beliau, saat kita bertemuan. Ya, dengan tidak mengabaikan. Inilah pesan penting yang aku peroleh pula hari ini. Ketika dalam perjalanan, aku bertemu dengan sesosok insan yang memesankanku, lalu mengingatkanku akan pentingnya merasakan apa yang orang lain rasakan. Walaupun pada saat yang bersamaan kita sedang tidak merasakan apa yang beliau rasakan. Namun, kita pun pernah, lapar, bukan? Bagaimana rasanya? Lalu apakah yang kita pikirkan saat menu tiba-tiba datang bersama tampilannya yang mengenyangkan apabila kita menyantap?  Hmmm… tentu kita akan segera bersenyuman dengannya. Lalu memindahkannya melalui mulut hingga sampai di perut. Nah! Beberapa saat kemudian, kita pun kenyaang. Alhamdulillah…. rezekiku datang, bisik kita sebelum ia pun menghilang dari pandangan. 
“Ketika kita sedang  dalam kondisi kenyang, mungkin tidak mudah bagi kita untuk merasakan bagaimana seorang yang sedang lapar alami. Namun, kalau kita pun pernah lapar, kita akan mudah untuk berbagi,” bisik alam sore tadi di daun telingaku.
Dengan peduli terhadap orang lain, maka orang lainpun akan peduli terhadap kita. Walaupun tidak dalam hari yang sama. Dan mungkin saja saat kita telah lupa. Lalu, ketika kita memperoleh kepedulian dari orang lain, maka akan teringatlah kita pada apa yang pernah kita pedulikan. Karena tidak ada yang luput dari pandangan ALLAH Yang Senantiasa Ada dan Memperhatikan kita. Ya ALLAH Yaa Bashiir, Engkau ciptakan kami agar kami mau dan mampu melihat serta memperhatikan alam-Mu. Tidak hanya memperhatikan, namun agar kamipun dapat merasakan perhatian-Mu yang tiada pernah luput sedetikpun terhadap kami. 

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s