Sore ini, ada yang menyambut kedatanganku. Ya, sepulang dari beraktivitas hari ini, seorang gadis kecil tiba-tiba muncul dari balik pintu. Pintu kamarnya Fitly. Kemudian, sang gadis yang masih berusia di bawah sepuluh tahunan ini, pun melangkah menuju halaman. Setelah aku berusaha untuk mengeja namanya. Karena aku lupa. Yang aku ingat, hanya … Cahaya Budiman saja.

“Haiii, Cahaya Budiman, Eh, siapa namanya yaa…😀 ,” tambahku pula.

Sesaat setelah kami bertatap mata.  Dan Fanny yang segera mendekatiku, tidak menjawab apa-apa, sebelumnya. Hanya ekspresi anak kecil yang sungguh lucu itu, yang ku lihat. Kemudian ku mengulang lagi tanya yang sama, seraya tersenyum.

“Eits, namanya siapa yaa..,” hmm… sedikit merunduk, ku mendekati Fanny. Hingga jarak kami tidak lagi jauh. Kira-kita lima langkah lagi aku maju, maka kami akan bersentuhan. Kemudian, Fanny pun menjawab dengan kerlingan dua bola matanya.

“Fanny,” jawabnya malu-malu.

“Hohoooiya… kita udah lama tak jumpa ya, Fan, mari sini, kita main ke atas, yuukks…?!,” ajakku pada Fanny. Kemudian akupun segera melangkah ke tangga, menuju ruangan tempatku melanjutkan perenungan. Karena Fanny tidak segera memberikan tanggapan. Jadi, aku pun berlalu.

Namun, tidak berapa lama setelah aku berada di ujung lorong pada lantai dua kost-kostan kami, ternyata Fanny mengikutiku dari belakang. Dan akhirnya kami pun bersama-sama. Ku ajak ia mengenali lagi apa yang sebelumnya pernah kami lakukan bersama. Untuk mengembalikan ingatan kami pada masa-masa kami bermain.

Ternyata, pilihan Fanny pun jatuh pada foto-foto. Awalnya, hanya memandang gambar-gambar yang terdapat pada album. Namun kemudian, Fanny ingin difoto jugaaaa.  Jadinya, kami pun berekspresi melalui sarana ‘Crazytalk‘ camera. Dan inilah salah satu hasilnyaaa…:

Aku ingin ia menjadikannya sebagai kenangan bersama Fanny.

Aktivitas ini berlangsung, ketika aku baru saja datang. Ketika sore sudah mulai menepi, menjelang senja. Saat mentari pun segera melanjutkan perjalanannya di luar sana. Kami yang sedang berada di dalam ruangan asyik mengkreasikan ekspresi masing-masing. Buat refreshing aja. Karena bagiku, salah satu aktivitas yang melegakan adalah ketika bersama dengan anak-anak, seperti ini dan aku suka.

Belum lama kami berkenalan. Namun, setiap kali kami bertemu, akan ada satu prasasti yang kami selipkan. Bermula semenjak kedatangan Fanny bersama mama, untuk mengunjungi kakaknya Fitly yang sedang melanjutkan studi di kota ini. Kami pun menjadi akrab pada pertemuan pertama. Akibatnya, untuk beberapa waktu bersama, kami pun terlena dalam permainan. Hingga mengenangkanku pada masa kecilku.

Yach. Masa kecil yang mengajarkanku untuk menjadikannya sebagai salah satu bahan pelajaran. Dan kini, aku kembali belajar dari seorang gadis kecil bersama Fanny. Bahwa untuk dapat berekspresi, kita perlu bersama dengan seorang yang benar-benar menyadari kebersamaan kita dengan beliau. Karena, tentu saja ada kesan yang tertinggalkan setelahnya. Dan inilah keakraban yang kami jalani, teman.

Untuk mengenal teman, kita memang tidak perlu pandang usia.  Apalagi untuk membeda-bedakan asal mula kedatangan. Oia, mengingat tentang hal ini, aku teringatkan pula pada salah satu baris kalimat yang beliau sampaikan tadi pagi, pada kami. Di sela-sela masa penyajian materi yang sudah berada pada ujung waktu.

Bapak Haddan Dongoran menjelaskan, bahwa tentang perkenalan, telah terdapat di dalam salah satu ayat Al Quran Surat ke 49: 13 berikut:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

 Oleh karena itu, tidak ada yang dapat membedakan kita. Baik berasal dari wilayah manapun. Karena kita tercipta dengan perbedaan untuk dapat saling mengenal. Beliau menekankan bahwa, bergaullah dengan sesiapa saja, termasuk saya. Begitu pesan beliau, teman.

Atas perkenalan singkat dengan beliau pada masa awal pembelajaran tadi, aku teringat hingga saat ini. Bahwa kita perlu bergaul dengan beraneka suku dan bangsa di dunia ini. Tentu saja tanpa membedakan usia, taraf kehidupan, apalagi untuk membedakan gender.

“Nah! Anda sudah mengerti? Ada pertanyaan? Silakan…,” begini gaya beliau dalam menghiasi waktu-waktu yang kami jalani bersama.

Kita mempunyai kecenderungan dan perilaku yang berbeda-beda pula. Dan tidak ada seorangpun yang diciptakan dengan perilaku yang sama persis dengan yang lainnya. Oleh karena itu, saling memahami dan menghargai tentu dapat mempermudah hari-hari yang sedang kita jalani.

Sampai pada paragraf ini, aku teringatkan dengan keadaan yang berlangsung pada diriku pada malam hingga pagi tadi. Aku yang sedang mempunyai pikiran tidak menentu, sempatkan berasumsi tak jelas pula kepada orang lain. Aku yang sedang mengendalikan ingatanku, akhirnya menerima apa yang aku jalani. Dan dengan sisa-sisa ketidakmenentuan, akupun melanjutkan aktivitas hari ini. Alhasil, aku pun berusaha menguraikan pesan-pesan pada sore ini dengan susunan :

  • Apapun yang engkau pikirkan tidak selalu sama dengan kenyataan. Oleh karena itu, tegaslah dalam berpikir. Dan menjadilah seorang yang positif. Karena di balik keadaan yang sedang engkau alami, ada hikmah dan pesan di sana.
  • Apapun yang bukan merupakan hak kita, akan segera menjadi hak orang lain. So, jangan pernah mengharapkan ia kembali, apabila memang kita tidak berhak. Ini aku temukan dari jawaban yang aku terima atas pertanyaanku pada seorang yang sangat berarti dalam kehidupanku, akhir-akhir ini.
  • Merunut keadaan hingga ke akarnya, tentu sangat baik. Namun kita pun perlu mengerti dan memahami, bagaimana keadaan dapat mengembalikan ingatan kita pada hakikat seorang insan. Ia tidak pernah luput dari salah dan khilaf, so… what do you think?
  • Seluas apapun ilmu yang kita miliki, ingatlah satu hal bahwa, “Ilmu manusia hanyalah setitik dari luasnya samudera ilmu ALLAH.” Ada yang pintar di atas orang pintar. Ada yang lebih cantik dari si cantik. Ada yang kaya dari yang paling kaya. Ada  yang baik dari seorang baik yang kita kenal. Ada yang lebih berjasa dari orang paling berjasa yang kita tahu. Dan semoga ingatan kita segera kembali kepada-Nya, atas berbagai keadaan yang kita temui dalam kehidupan ini.
  • Untuk dapat menjalani kehidupan dengan penuh keseimbangan, maka sesuaikanlah antara keinginan dan kemampuan. Karena keinginan yang lebih tinggi dari kemampuan akan menimbulkan masalah. Sedangkan kehidupan ini memberikan kita pilihan, bukan?
  • Bijaksanalah dalam berperilaku.

Dalam waktu-waktu tertentu, mungkin saja kita belum menyadari apa yang kita lakukan. Karena kita belum mengingat dengan lengkap apa yang sedang berlangsung pada waktu yang sama. Nah, beberapa lama kemudian, barulah kita teringatkan. Dan ternyata ada yang terlupa dari yang semestinya kita jalankan.

Pernahkah engkau mengalami hal yang seperti ini, teman?

Atas ingatan yang hadir kemudian, dan suka kebawa di alam pikiran. Akhirnya ia ikut-ikutan ke mana saja kita pergi. Ia tidak lagi mau untuk kita tinggalkan walau semenit saja. Nah, kalau saja kita terlarut di dalamnya, kapan lagi kita mau belajar untuk berpikir positif?

Cukuplah salah satu ekspresi yang abadi sore ini, mengajarkanku untuk segera mensenyumi keadaan. Karena di balik yang kita pikirkan, tentu ada kenyataan yang berbeda.  Dan tidak selalu, apa yang kita pikirkan pun orang lain memikirkannya. So, keep enjoy your mind.

Selayaknya gadis kecil yang masih belia, terkadang bahkan sering, kita perlu belajar darinya. Agar, apa yang kita alami menjadikan kita segera menyadari. Bahwa tidak selamanya kita dapat mengingat keadaan, kejadian, pun sesiapa saja yang pernah bersama dengan kita. Hal ini terjadi karena terbatasnya kemampuan yang kita miliki. Oleh karena itu, dengan merangkai beberapa baris kalimat setiap harinya, semoga ini dapat menjadi jalan ingatkan kita lagi yaa.

Catatan saat ini, semoga dapat lagi menjadi jalan ingatkan ku pada Fanny. Ya, Fanny yang hanya dapat ku ingat beberapa potong namanya saja, hari ini. Padahal belum lama waktu berlalu, semenjak terakhir kami bersua. Dan ingatanku tidak sepenuhnya sempurna kalau ia tiba-tiba berjumpa dengan orang yang sama lagi, pada masa berikutnya.

Dan aku takutkan ini. Cemasku pun pernah alami. Aku takut tidak dapat mengingat kebaikan-kebaikan yang aku terima dari beliau-beliau yang sangat baik padaku, sebelum ini. Hingga akhirnya kecemasan itu pun berlanjut dengan hadirnya ingatanku pada beliau-beliau yang baik padaku. Semoga aku dapat mengingatnya lebih sering.

Kebaikan Fanny yang mengajakku untuk menampilkan ekspresi sore ini, sungguh berharga. Padahal, semula aku tidak merencana untuk menjalaninya bersama Fanny. Namun demikian, aku merasa kebersamaan ini kami perlukan pada suatu hari nanti. Oleh karena itu, I keep it in here now and forever.

Aku tidak begitu yakin, akan selamanya teringat Fanny. Apalagi setelah ia kembali berjarak denganku dan tidak lagi berada di sini. Namun dengan kembali membalik catatan yang pernah tercipta ini, semoga ingatanku terhadap Fanny pun kembali.

Esok harikah…?

Lusakah…?

Bulan depan?

Tahun depan atau hmmm…

Aku ingin kembali mengingat Fanny Cahaya Budiman.

Walaupun kami berkenalan di sini, di kota ini, hanya untuk beberapa hari saja. Dan itupun tidak rutin. Ya, kalau Fanny sedang berkunjung ke Teh Fitly- saja.  Meskipun ketika ia sudah remaja nanti, dan sudah tidak dapat lagi bertatap mata denganku. Karena jarak yang membentang di antara kami. Semoga kami dapat kembali menyatu di sini.

Untuk gadis belia yang membersamaiku tersenyum sore ini, ingin ku menitipkan selembar ekspresi. Semoga, kami dalam suasana tersenyum pula nanti, untuk perjumpaan yang berikutnya. Entah kapan lagi yaa…

Aku yang merupakan pendatang di sini, pun Fitly. Akhirnya kami berjumpa tanpa pernah merencana sebelumnya. Fanny yang merupakan adiknya Fitly, pun mengenaliku di sini. Padahal, sebelumnya kami bukanlah saudara kandung, apalagi tetangga. Namun untuk keperluan apakah kami bersua?

Tanpa rangkaian aktivitas yang kami lakukan bersama. Namun kami bersua untuk saling menukar senyuman. Ada bahagia yang Fanny bawa, hingga selama kebersamaan kami, aku berekspresi lepas saja.

Sungguh, guru itu ada di mana-mana yaa. Termasuk guru yang mengajarkan kita untuk tersenyum. Teladan pun ada di mana saja. Dan pilihan pun kembali kepada kita saat ia menemui kita atau kita yang menemuinya.

Semua yang kita jalani, terkandung pilihan di dalamnya. Pilihan bagi kita. Untuk menampilkan sikap terbaik. Karena apapun yang sedang berlangsung, baik kita sadari atau belum, telah tertulis jelas di dalam takdir perjalanan diri. Ya, lagi-lagi ALLAH subhanahu wa ta’ala menjadi fokus untuk mengembalikan ingatan kita. Agar tidak tersia detik waktu yang kita jalani di dunia ini, untuk berfikir yang tidak semestinya.

Aih! sungguh-sungguh kenyataan memang tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Namun demikian, teruslah berpikir teman. Pikir yang dapat menyampaikan kita pada kelegaan dan kebahagiaan. Karena bagi orang yang mau berpikir, akan terus ada berbagai hambatan dan kendala menghiasi perjalanan pikirnya. Dan semua itu tidak pernah terlepas dari yang namanya ingatan.

Ingatlah kebaikan orang lain. Saat apa yang sedang kita terima dari beliau dan itu tidak kita suka. Niscaya kita akan kembali berpikir positif. Begitulah…

Hari-hari yang panjang akan berlalu…

Jalan membentang di hadapan dan penuh fatamorgana akan kita temui…

Terlihat genangan air di depan sana. Akan tetapi ketika kita mendekatinya, ia pun tiada. Begitu pula dengan dunia yang sementara. Terkadang kita bangga dan bahagia dengan apa yang kita upaya. Padahal kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan sana. Ya, tentang masa depan yang belum jelas adanya. Hanya saja, untuk dapat melihat bukti, kita perlu teruskan perjalanan.

Tidak kagum dengan apa yang ada di hadapan dan itu jauuuuh. Tidak pula berdiam tanpa mau mengambil tindakan. Cukup fatamorgana itu kita pandangi saja, tanpa mempedulikannya saat kita sedang melangkah. Agar konsentrasi kita tetap dan fokus pada hari ini, saat ini, di sini.

Hari ini kita sedang menjalani kepastian,

Maka selipkanlah beberapa pesan hari ini dalam bentuk catatan walaupun ringkas,

Karena belum tentu kita dapat mengingatnya lagi esok hari,

Karena esok akan hadir dengan ceritanya yang berbeda,

Karena esok yang penuh dengan mimpi-mimpi akan kita alami dalam suasana terjaga.

Dan ia akan menjadi hari ini pula, untuk kita tetesi dengan beberapa helai senyuman berharga.

So, dengan siapakah engkau merencana akan tersenyum esok hari, teman…

Ah, aku yakin engkau pun tidak dapat memberikan jawabannya, kalau engkau belum mengalaminya. Pun aku.

Karena segala yang kita alami, tidak pernah berada di dalam kuasa kita. Hanya saja, merencana yang kita bisa.

Aku tidak tahu, esok berada di negeri yang mana, tepatnya. Masihkah di kota ini? Bersama Fanny? Atau Fanny yang telah berangkat ke lain kota, sedangkan aku masih di sini? Begitu pula dengan aktivitas yang akan kita jalani. Yakinkah kita masih dapat berjumpa dengan sesiapa saja yang hari ini kita bersamai? Padahal kita ingat, tidak ada satupun kuasa kita atas hari esok yang belum tentu kita temui.

So, bermudah-mudahlah teman, dalam berinteraksi. Berdamailah dengan sesiapa saja yang kita temui. Sedangkan dengan diri sendiri, kita perlu lebih berakrab lagi. Karena kita pun tidak pernah tahu, kapan terakhir kali membersamainya di dunia ini. Diri yang terkadang kita tidak  mengenalnya sama sekali. Wahai… padahal jelas-jelas ia sedang berada sangat dekat dengan kita. Ingatkah kita dengannya? Ia insan yang penuh dengan khilaf, yaa.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s