cute angry kid
I look you as a cute baby, when you are angry

Dalam berbagai keadaan, kita perlu siap dengan segala perubahan yang akan terjadi. Dan kesiapan kita dalam mempersiapkan diri, menjadi salah satu langkah awal dalam menyikapi perubahan.

Perubahan saat ini terjadi ketika adanya perbedaan antara sesuatu hal dan kejadian atau keadaan antara biasanya dengan yang sedang berlangsung. Lalu, apakah perubahan yang saat ini sedang engkau alami, teman?

Apakah perubahan menjadi penggebrak tekadmu untuk ikut serta dengannya? Atau malah membuatmu menyurutkan asa? Ai! Padahal sesungguhnya perubahan berlangsung untuk mengingatkan kita akan makna kehadirannya. Bahwa perubahan ada agar kita senantiasa dalam kondisi terjaga. Terjaga dalam artian tidak larut dan tenggelam di dalam mimpi-mimpi. Namun, benar-benar bangun dan bangkit, duduk, berjalan lalu melangkah lagi.

“Engkau, ada yang berubah denganmu hari ini, teman? Ada apa?,” tanya seorang sahabat padaku, pagi ini.

“Dengan gelengan kepala yang menandakan bahwa aku tidak berhasrat untuk membahas pertanyaan beliau dalam bentuk uraian kata, aku pun berlalu.”

Karena terkadang memang begitu. Ketika mengalami perubahan, kita akan terlihat berbeda dari biasanya. Dan bukan terlihat saja, kita benar-benar menjadi berbeda. Beda yang memperlihatkan diri kita dengan jelas, pada sesiapa saja yang berada di dekat kita.

Perubahan terkadang tidak mengenakkan. Bahkan bersama perubahan, kita mungkin saja ingin meluahkan ekspresi segera. Namun kalau kita segera mengambil tindakan dalam perubahan, maka kita akan tahu sebuah keajaiban yang terjadi.

Tidak ada kenyamanan dalam perubahan. Ya, ini aku alami pada hari ini. Dan aku sangat berkesan dengannya. Kalau dengan begini, tentu membuatku segera berpikir dalam menyambut kehadirannya. Perubahan yang saat aku belum siap menghadapi, tentu aku akan menjadi marah. Aha! Pernahkan engkau mengalami perubahan yang membuatmu marah, teman?

Kalau memarahi perubahan dan itu memang sanggup untuk engkau lakukan, maka marahlah padanya. Namun  jangan lupa satu hal, bahwa pada saat engkau sedang dalam kondisi marah, maka engkau sedang tidak nyaman dengan dirimu sendiri, bukan? Dan seorang yang dalam kondisi marah, akan melakukan hal-hal yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Lalu, untuk meluahkan kemarahan, apakah yang engkau lakukan, teman?

Dengan memahami perubahan? Engkau bisa? Hai, how about share it in here, to me. If you can, why not?

Dan saat ini, aku sedang belajar untuk mengendalikan marah. Hahaa. Marah-marah saat menulis, tentu sangat berkesan. Karena kita tidak dapat melukai sesiapa saja. Hanya, ada pesan yang sedang kita titipkan pada sesiapa saja yang sedang membacanya. Bahwa, kalau engkau sedang marah, duduklah. Kalau dengan duduk engkau masih merasa marah, maka melangkahlah. Yap, berwudu’. Karena dengan tetesan air wudu yang membasahi beberapa bagian anggota wudu, dapat memadamkan gejolak api yang berwahana –marah-.

Dalam yakinku, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah marah. Hanya saja, ada cara berbeda yang banyak orang lakukan dalam menyikapinya. Adapun yang aku lakukan saat ini, adalah salah satu jalan untuk meluahkan kemarahanku.

Oh! It’s very prestigious, right?

Berbagai perubahan, mungkin saja tidak kita kehendaki. Namun perubahan tersebut datang mengunjungi kita, tidak kenal waktu.  Terkadang pagi, siang, malam, dan sore hari. Lalu, berantai pula kehadirannya. Tidak satu atau dua kali, bahkan seringkali.

Ada yang menanyai kalau kita berubah. Ada yang kita tanyai kalau kita ingin berubah. Dan inilah salah satu jalan dalam menyikapi perubahan. Ya, dengan bertanya.

Walaupun sudah bertanya, adakalanya kita tidak dapat menerima jawaban segera. Sehingga kita terkadang bingung dengan perubahan yang ada. Kita pun kembali bertanya pada orang yang berbeda, tentang perubahan yang sedang berada di dekat kita. Tidak satu atau dua orang saja yang kita tanyai, bahkan sudah berpuluh-puluh jumlahnya. Namun kita belum lagi memperoleh jawaban.

Dan dibalik semua itu, ingatkah kita pada seorang yang belum pernah kita tanyai semenjak awal? Seorang yang keberadaannya sangat dekat dengan diri kita. Kita lupa padanya. Dan kita hanya memperhatikan lebih luas pada objek yang berada di luar dirinya. Kita lupa pada diri kita sendiri. Lalu, kita memarahi orang lain, saat perubahan kita alami. Sedangkan sesungguhnya yang sedang berubah itu adalah diri kita sendiri. So, menanyalah padanya, apabila ia temukan ada hal yang tidak biasa. Pertanyaan yang dapat memberikan jawaban kepada kita, tentang sikap yang sebaiknya kita ambil. Introspeksi diri, adalah sikap kita dalam menyikapi perubahan. Introspeksi diri yang kita tuliskan.

Pada suatu hari, tentu kita akan kembali membacanya. Tidak esok ataupun lusa. Namun, ketika kita sudah jauh berjalan, melangkah dan bergerak. Karena apa yang saat ini sedang kita ekspresikan, akan meninggalkan kesan bagi objek yang kita pesankan.

Berpesanlah pada diri, semenjak dini. Niscaya kita akan memberikan pesan, tidak hanya pada diri kita sendiri. Namun, pada lebih banyak diri lainnya di dunia ini, kalau kita bersedia untuk menuliskan pesan tersebut.

Tidak mudah mengendalikan marah, yaa….. Huwaaaaa, :D  Namun, kalau dengan memarahi diri sendiri, apakah engkau sanggup? Nah! Begitu pula dengan marah yang engkau luahkan pada orang lain. Apabila engkau saja tidak sanggup menerimanya, maka begitu pula dengan orang lain. Begitu pula dengan yang sebaliknya. So, it’s your decision. Mau marah-marah terus, atau segera menghentikannya?

Karena aku tidak dapat meluahkannya dalam wujud suara. Karena suaraku tidak berwujud. Nah, inilah jawaban dari pertanyaanmu, “Engkau, ada yang berubah denganmu hari ini, teman? Ada apa?.”

Karena ada yang aku ingin sampaikan, namun pada saat engkau bertanya, aku sedang dalam kondisi marah. Makanya, aku segera berjalan dan berlalu darimu. Lagi pula, tiada kursi tempatku duduk pada saat engkau menanya padaku. Sedangkan di sini, aku sedang duduk bersama seorang yang sedang mengajakku untuk larut dalam lautan perubahan. Perubahan yang alami. Karena kami mengalami perubahan demi perubahan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s