Hi friend, let me introduce my self. My name is Mini. Mini is the name of  friendship. I use this name as collaboration from a part of my name and my best friend name. Because my friend is my mirror. And then I see my self there.

I write for arrange my heart.

And reading for broaden my mind.

***

Hallo teman, kenalkan aku Mini. Mini adalah nama sebagai prasasti persahabatan. Nama yang aku pakai merupakan gabungan dari beberapa huruf namaku dan sahabat baikku. Karena dari sahabat, aku dapat bercermin. Lalu melihat diriku pada diri beliau. Bersama beliau aku menulis, seraya menata hati. Dan dengan membaca apa yang tertulis, maka dapat memperluas ruang pikirku.

Intinya, di sini aku sedang melihat diriku sendiri, di hadapan cermin Mini ini. Sedangkan cermin yang sedang berada di hadapanmu, sedang memperlihatkan dirimu, padamu. Lalu, bagaimana dengan sahabatku? Aku ceritai engkau kapan-kapan yaa.  Karena semua yang ada di sini adalah cerminan persahabatan kami.

Hehee, pada malam-malam begini, aku membahas tentang horor-horor, yaa. Ini sebagai sebuah kesempatan bagiku, untuk mengingatkanku pada salah satu aktivitas pada penghujung sore ini.

Tepatnya menjelang Maghrib menyapa, kami; aku beserta beberapa orang sahabat berkunjung ke sebuah Rumah Sakit. Ya, kami berada di hospital untuk beberapa puluh menit lamanya. Ada apakah gerangan?

Apakah ada yang mau melahirkan? Adakah yang sedang mengalami masa perawatan? Atau siapakah yang baru saja memperoleh suntikan? Ai! Lemas aku seketika. Saat kaki-kaki ini mulai menginjak lantai yang berwarna putih dan licin. Pun ketika mengedarkan pemandangan ke sekeliling, yang ada hanya cat berwarna putih dari satu sisi ke sisi lainnya. Yes, sangat mirip dengan warna cat di kostan kami saat di rumah Bapak Darsono.

Dan keberadaan kami di rumah sakit, ternyata bukan untuk menjenguk seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Bukan pula untuk mengantar seorang teman yang sedang melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, kedatangan kami adalah untuk menjenguk seorang teman beserta Ayah beliau yang hingga saat ini masih koma.

Ada kesempatan bagi kami untuk memasuki ruangan ICU. Ruangan yang bagiku, sangat asing ini, ternyata menjadi bagian dari hariku tadi. Ya, untuk pertama kalinya aku berkunjung ke ruangan ICU, sepanjang hidupku. Dan aku sangat terharu, saat memperhatikan sekeliling.

Ada beberapa selang yang menggantung dan dalam posisi memanjang. Ada yang dalam kondisi tegak, melintang, horizontal, vertikal, dan atau berjejeran semaunya. Sungguh, keadaan pasien yang sedang terbaring lemah di antara selang-selang tersebut, sangat lemah.

Dalam pandangan mata yang ku coba tegar-tegarkan, aku segera melajukan ingatan pada ujung dan akhir kehidupan. Apakah memang begini jalan yang semestinya beliau tempuh di penghujung usia beliau di dunia ini? Dan mengapa pikiranku segera sampai ke sana? Karena melihat kondisi pasien yang sungguh membuatku tertunduk, tidak sangat tega melihatnya.

“Ya Allah… Engkau Maha Tahu yang Terbaik bagi akhir kehidupan kami. Maka mudahkanlah aliran nafas kami yang sedang berhembus masuk dan keluar ini, pada akhir kebersamaannya dengan kami, ya Rabb. Lancarkanlah ia dalam waktu-waktu genting yang kami alami pada akhir usia ini menjelang. Dan lepasnya ia dengan segera, tentu menjadi salah satu kelegaan bagi kami, dibandingkan dengan menyaksikan ringkih tubuh yang sayup-sayup menghirup oksigen melalui selang-selang infus itu. Aamiin ya Rabbal’alamiin. Hikss…”

Merupakan perjuangan hebat bagi seorang insan yang sedang mengalami masa koma. Koma? Ya, koma yang menandakan bahwa si pasien dalam kondisi antara ada dan tiada. Pun keadaan yang membuat para saudara, sanak dan kerabat serta teman, hanya dapat memandang dengan uraian airmata yang tiba-tiba mengalir membasahi pipi.

Adakah kehidupan yang sedang kita jalani hingga detik ini, menjadi jalan bagi kita untuk memanfaatkannya dengan baik? Sedangkan kita tidak dalam kondisi tubuh yang terbaring lemah tanpa kekuatan sama sekali. Lalu, selang-selang itu, tentu sangat menyiksa beliau? Baik raga maupun jiwa, yakinku.

Untuk pertama kalinya, berada di ruangan yang di dalamnya terdapat pasien yang sangat kritis, aku hanya mampu menarik nafas pelan. Seraya menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah, aku segera pandangi wajah-wajah beliau yang tiada lagi mampu berekspresi. Hanya diam. Jangan untuk tersenyum, untuk membuka mata saja beliau tidak mampu. Sehingga, hanya deru nafas yang masih tersisa saja, yang menandakan bahwa beliau masih ada.

Cukup dengan memperhatikan keberadaan kita di manapun itu, dapat menjadi jalan bagi kita untuk kembali menata diri, kemudian menanya lagi padanya. Apakah satu hal yang patut ia syukuri detik ini?  Selain nafas yang masih menjadi teman terbaik dalam menemani kita menjalani hari?

Sungguh indahnya keadaan yang sedang menjadi bagian dari kehidupan kita. Baik saat kita sedang dalam kekuatan yang tiada lagi terkira, maupun ketika kita menyatakan bahwa kita sangat lelah dan lemah. Hingga untuk mengangkat jemari saja, kita mungkin saja masih bermalas-malasan. Apalagi untuk merangkai beberapa baris kalimat di dalam catatan kita setiap harinya. Bukankah saat ini kita dalam kondisi segar, bugar, sehat dan  masih dapat bernafas dengan leluasa?

Lalu, tidak maukah kita memanfaatkannya untuk sekadar menyeru kepada para sahabat kita yang lain. Bahwa keadaan yang saat ini sedang kita alami, dapat menjadi jalan bagi kita untuk menyapa beliau di sana. Ya, agar beliau kembali bersenyuman dengan kita. Walaupun dalam kondisi yang lemah dan bertambah-tambah, raga beliau ternyata sungguh terlihat sangat lelah.

Wahai teman… Adalah apa yang sedang engkau alami, dapat pula kami rasai. Karena kita adalah sahabat yang telah satu semenjak kita mengenali satu dengan yang lainnya.

Engkau mungkin menganggapku sebagai seorang yang tidak pernah mau peduli dengan keadaan terakhirmu. Karena memang aku tidak segera sampai di hadapanmu ketika engkau memintaku untuk datang. Engkau juga tidak dapat menyaksikan bagaimana ekspresi yang aku tampilkan, ketika mendengarkan kabarmu yang ternyata tidak sedang baik-baik saja.

Wahai teman… Adakah engkau menyadari, bagaimana pikirku mengingatmu saat ini? Ketika dalam kondisi yang penuh dengan kelemahan, engkau sedang mengalahkan virus-virus yang sedang mengerubuti ragamu. Semoga tidak demikian dengan jiwamu, yaa. Aku yakin bahwa ia senantiasa dalam kondisi terbaiknya. Karena engkau sangat cerdas dalam memberikan penjagaan kepadanya. Dan jiwamu yang sedang bersamamu adalah sahabatmu.

Wahai teman… Dalam detik demi detik waktu yang terus melaju, angka-angka itu terus saja berubah dengan cepat. Terkadang naik, ada waktunya turun. Bertambah atau berkurang, itulah yang menjadi salah satu perhatianku selama berada di ruang ICU, tadi.

Dengan kondisi raga sang pasien yang sungguh sangat lemah, tiada lagi yang mampu beliau baktikan. Selain sebuah harapan yang terus beliau tumbuhkan dari dalam diri. Dan aku yakin, harapan tersebut senantiasa bergerak meski perlahan, seiring dengan perubahan angka demi angka yang cepat itu. Selamanya, harapan itu masih ada. Harapan untuk kesembuhan sang pasien yang sedang koma.

“Bapak paling kuat. Yang sabar ya Pak. Bapak Bisa. Laa ilaaha illallaah…,” begini lebih kurang bunyi kalimat yang beliau ulang terus menerus di samping telinga pasien yang sedang koma, tadi.

Dan aku yakin, Ibu yang merupakan istri dari pasien, sedang diuji. Beliau yang dengan ketegaran yang terus bertambah dan bertumbuh, membuatku kembali mengangkat wajah yang semenjak tadi menunduk. Lalu, aku kembali memperhatikan layar yang di dalamnya terdapat angka-angka yang terus berubah. Terkadang naik, lalu turun.

Yang hijau, berkisar antara sembilan puluh-an

Yang kuning dua puluhan, terkadang lima belasan hingga dua puluhan lagi,

sedang garis-garis yang berwarna putih yang turun naik membentuk kurva itu, kalau aku tidak salah, tadi berada pada rentang angka enam puluhan.

Bagaimana aku dapat membaca makna dari garis-garis tersebut? Kalau saja hingga saat ini, aku belum pernah belajar tentang hal itu. Lalu, pesan apa yang dapat aku simpulkan dari hasil pengamatan ku tadi? Selain hanya mampu mengalirkan ingatan pada ujung kehidupan, tiada lagi yang dapat aku lakukan.

 Untuk dapat membaca grafik dan atau kurva, maka kita perlu memahami terlebih dahulu  makna dari kurva tersebut. Apalagi warna-warna yang terdapat di dalamnya. Sungguh! Sungguh dan sungguh rumit, kiranya, apabila kita tidak betul-betul memahaminya. Nah! Begitu pula dengan persahabatan, teman.

Terkadang kita berjumpa dengan seorang teman yang dalam kondisi terlemahnya. Ia sungguh tidak ada bertenaga sama sekali. Karena beratnya beban kehidupan yang sedang menimpanya, kah? Atau karena cobaan itu sedang tenang bertengger di pundak sang teman? Hingga dalam suatu kesempatan, kita pun bersua dengan beliau. Kita segera menyapa, untuk selanjutnya terlibat dalam percakapan yang sangat akrab. Lalu, dapatkah engkau menarik kesimpulan dari kebersamaanmu bersama teman tersebut?

Selayaknya memperhatikan seorang pasien yang sedang dalam kondisi koma, begitulah keadaan yang sedang aku alami pada waktu yang lalu. Ya, ketika aku akhirnya berjumpa dengan seorang teman yang menemuiku. Aku yang seakan tiada lagi harapan untuk kehidupan selanjutnya, tiba-tiba berpikir tentang ujung kehidupan yang ingin segera aku jelang. Padahal, kita tidak pernah tahu, yaa… di mana dan kapan garis takdir kita terputus.

Dalam kondisi yang seperti telah aku jelaskan pada paragraf sebelum ini, aku seakan menemukan untaian harapan yang berangkaian. Tepatnya, saat seorang teman yang akhirnya aku abadikan nama beliau di dalam catatan kehidupanku, pun datang.

Aku bagai seorang musafir yang sedang berada di gurun pasir yang gersang, dan tidak ada persediaan minuman apalagi makanan sama sekali. Tiba-tiba ada seorang yang datang dari kejauhan seraya menawarkan menu yang lezat dan mengenyangkan. Alhasil, akupun menerima kebaikan yang sampai padaku. Lalu, kami pun meneruskan perjalanan bersama-sama.

Tidak pernah dalam sehari, aku tiada membersamai teman yang akhirnya menjadi sahabat baikku. Walaupun sehari? Seingatku, memang iya. Kalau tidak pagi, siang ataupun sore hari, malam hari pasti saja aku teringatkan beliau. Lalu, akupun mengalirkan semua ingatan tersebut dalam bentuk rangkaian kalimat yang mengucur dengan derasnya.  Lalu, ia menembus waktu demi waktu. Dari hari ke hari, bulan berganti tahun, tidak terasa.  Dan kini, sudah bertahun-tahun kami bersama.

Alangkah indahnya kehidupan dengan kehadiran sahabat terbaik. Maka kita dapat seringkali bercermin darinya. Karena tiada seorangpun yang dapat mengoreksi kesalahan kita, selain sahabat yang sangat mengenal siapakah kita. Pun sebaliknya. Tidak ada yang selalu mau mengingatkan kita di saat lupa, kecuali beliau-beliau yang benar-benar peduli kepada kita. Dan beginilah aku mengabadikan persahabatan kami.

Saat aku sedang berada di rumah sakit tadi, tepatnya di ruang ICU, maka akupun segera teringatkan pada sahabat baikku. Semoga beliau sedang berada di sebuah ruangan yang penuh dengan kenyamanan, saat ini. Beliau sedang tersenyum, dan menggerakkan jemari yang menjadi jalan sampaikan suara jiwa. Walaupun ternyata, sahabat sedang dalam kondisi raga yang lemah.

Aaa….. aku paling tidak tega kalau mendengar kabar ada di antara para sahabat ataupun orang-orang terdekatku yang sedang tidak sehat raga. Karena segera saja airmataku menitipkan pesan pada lembaran pipi, bahwa ia turut berduka. Sedangkan jiwaku, sungguh sangat ingin menatap kedua bola mata beliau, yang semoga sedang berkedipan. Yang sabar yaa, bagi yang sedang dalam kondisi tidak sehat raga saat ini.

Raga boleh lemah, namun semangat dan tekad kita perlu terus kuat. Raga boleh pipih sedangkan tekad perlu terus bulat. Yakinlah, wahai sahabat, tidak selamanya kita berada dalam kondisi yang sama. Selagi kita mau terus bangkit, bergerak dan berbuat, maka kita pun mampu tersenyum. Walaupun untuk menitipkan senyuman terakhir pada sesiapapun yang sangat berkesan dalam kehidupan kita, itu sungguh tidak mudah. Namun teruslah mengukirnya hingga menjadi sangat indah.

Ya, selagi raga kita masih mau bergerak, dan jemari ini sedia untuk menyampaikan suara jiwa. Maka, jangan pernah siakan kesempatan. Selagi hari masih kita jalani, maka saat itulah kesempatan terbaik kita untuk meninggalkan jejak terbaik yang pernah kita punya. Dan memang tidak mudah untuk melakukannya, ketika raga kita dalam kondisi terlemahnya. Akan tetapi, aku yakin, bahwa kesehatanmu bahkan lebih baik dari seorang Bapak yang tadi ku kunjungi di ruang ICU. Beliau sungguh lemah… dan selang-selang yang melintang itu, sangat banyak di sisi kiri dan kanan beliau. Bahkan lebih dari dua puluh helai banyaknya. Dan semua itu, merupakan jalan beliau dalam mengeluarkan nafas pun menghirupnya.

Begitukah keadaanmu, teman? Aku yakin tidak separah itu. Karena aku masih dapat menemukan beberapa untai harapan yang sedang engkau rangkai di sela-sela rehat ragamu yang tanpa daya.

Jiwamu yang bersahaja, ingin ku kenang sebagai jiwa yang berhati raja. Sedangkan ragamu yang sederhana, ingin ku jadikan sebagai lukisan di ruang jiwa. Agar kelak, saat kita sudah tiada, semua menjadi penanda bahwa kita pernah berada di dalam sebuah pigura bernama persahabatan. Dan pada bagian depan pigura tersebut, kita memasang sebuah cermin mini. Cermin yang dapat menjadi jalan bagi kita untuk melihat raga kita yang sedang mendekatinya. Pun begitu pula dengan sesiapa saja yang sempat berada di depan pigura yang berisi wajah-wajah kita. Agar beliau dapat bercermin pula. Cermin yang selamanya akan menampilkan dengan jelas, raga sesiapa saja yang mendekat padanya. Bukankah kita lebih sering mengelapnya setiap saat?

Cermin itu, walaupun tidak dapat kita pandang dengan dua bola mata yang membuka, namun dapat kita raba dengan sentuhan jiwa. Dan aku temukan engkau sedang tersenyum, saat ini.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s