Bahasa Melayu: Pasukan elit PASKAL dengan senj...
Bahasa Melayu: Pasukan elit PASKAL dengan senjata MP5A5 yang dilengkapi pejera Optik Taktikal CompM2 dan lampu suluh Surefire sedang bersiap sedia untuk menggempur musuh. (Photo credit: Wikipedia)

Jangan bahagia dulu, kalau judul skripsi sudah disetujui. Karena masih akan ada proses selanjutnya yang akan kita hadapi. Yes, tepatnya setelah berjumpa dengan dosen pembimbing. Alhasil, beliau akan menjadikan judul kita lebih baik dan sempurna lagi, tentunya. So, inilah pengalamanku hari ini.

Satu kata dibuang sayang, dipakaipun terlalu panjang. Jadinya, akan ada beberapa kata dari judul skripsiku yang aslinya telah disetujui itu, akan direvisi. Hmm, kemungkinannya ada beberapa persen saja. Karena aku yakin, judulku itu sudah ‘gue banget‘. Lalu, apakah judul skripsiku?

Tidak banyak yang tahu, dan tidak ada yang boleh tahu, selain aku dan beliau, pembimbingku. Untuk saat ini, memang begitu, teman. Karena aku memang belum sepenuhnya memperoleh persetujuan beliau untuk judul tersebut. Padahal dalam yakinku, mengapa tidak itu saja?

Sempat dalam hati, aku berpikir. Kalau memang judul ini yang terbaik, maka dosen pembimbingku akan dengan senang hati menerimanya. Namun, kalau untuk menjadi yang terbaik dan sempurna dengan polesan bahasa dan kata yang beliau selipkan diantara beberapa kata yang ada, “Why not?” Aku pasti menerima dengan suka cita. Karena aku percaya bahwa sesiapapun yang berhadapan denganku, adalah jalan-jalan yang menjadikan aku lebih baik. Termasuk beliau, dosen pembimbingku.

Oia, tentang dosen pembimbing, belum aku kenalkan, yaa…?

Beliau adalah seorang Ibu yang baik, penuh dengan pemahaman, dan aku mengenal beliau semenjak dua tahun terakhir. Ai! Dua tahun, bukan waktu yang sebentar bagi kami untuk saling mengenal dan berkenalan. Intinya, tadi dalam pertemuan kami, aku merasakan kelegaan di dalam jiwa. Adem dan tenang saat bersama beliau, wahai Ibu, inginku seperti ini dalam hari-hari yang berikutnya kita bersama. Dan aku berjanji berikan yang terbaik untuk senyuman kita.

Belum banyak yang kami garap dalam proses pengerjaan skripsi. Karena memang hari ini  untuk pertama kalinya kami bersua setelah dokumen dan administrasi lengkap seluruhnya.  Walaupun sebelumnya memang kami pernah bersua, namun hanya sebatas pertemuan tatap muka. Saat aku menjelaskan pada beliau bahwa beliau akan menjadi dosen pembimbing.

Dan tahukah engkau wahai teman, bagaimana ekspresi beliau saat itu?

“Oke, namun lengkapi dulu berkas-berkasnya, yaa…🙂 ” sambut beliau ringan, bersama senyuman.  Bahkan lebih ringan dari ekspresi yang aku alirkan melalui senyuman pula.  Untuk selanjutnya, kami terlibat percakapan yang berujung pada kelegaan. Aku bahagia saat menemui beliau untuk pertama kalinya. Karena dalam syukurku, adalah kebaikan yang sedang beliau bagikan padaku. Termasuk keteladanan yang beliau sikapkan di hadapanku, dan aku ingin menjadikan beliau sebagai panutan.

***

“Jadi, mengapa mesti langsung menemui Ibu, sms saja tidak mengapa,” ungkap beliau di sela-sela pertemuan kami tadi.

“Ai! Keringanan apa lagi yang aku peroleh setelah ini?,” gumamku di dalam hati.

“Jadi, kalau memang ada yang kurang jelas, baru kita bertemu,” tambah beliau pula.  Jawaban dan pernyataan yang membuatku segera memutar ulang ingatan pada jarak yang aku tempuh untuk dapat sampai di hadapan beliau. Termasuk pula waktu yang aku pergunakan dalam menempuh jarak yang tidak cukup sepuluh atau dua puluh menit.

Nah! Kalau untuk berkomunikasi bisa melalui jalur susunan kata, agar lebih efektif dan efisien, itu memang yang terbaik, kiranya. Jadi, hingga benar-benar matang langkah awal yang akan kami pijakkan, maka kami belum akan bersua dalam tatap mata. Dan aku percaya bahwa beliau adalah seorang dosen yang berdedikasi. Tadi saja, ketika aku berada di hadapan beliau, beberapa lembar berkas sedang duduk manis di meja untuk beliau garap.

Semula pernah aku membayangkan bahwa pembimbingku adalah dosen yang benar-benar baik, dan aku suka. Dan sebelumnya pun aku membaca-baca informasi tentang tips dalam memilih dosen pembimbing. Adapun salah satunya adalah, pilihkan dosen pembimbing yang mudah ditemui, agar komunikasi dengan beliau dapat berlangsung dengan baik.

Dan dari dosen pembimbingku kini, aku memperoleh apa yang pernah aku bayangkan. Beliau yang hampir setiap hari berada di lingkungan kampus dan aku tidak perlu mencari-cari beliau hingga mengejar-ngejar ke luar kota untuk bimbingan. Semoga, Ibu senantiasa dalam kondisi sehat, bugar, penuh dengan senyuman, ya Bu. Sehingga detik-detik waktu yang akan kita tempuh berikutnya untuk keperluan bimbingan, dapat berjalan dengan lancar.  Dan menjadi lancar pula tugas-tugas yang akan Ibu selesaikan di sela-sela waktu membimbingku, aamiin ya Rabbal’alamiin.

Untuk menjalani proses bimbingan skripsi, aku belum mempunyai pengalaman sama sekali. Sehingga semuanya merupakan hal baru bagiku. Nah! Berhubung hal-hal yang baru akan menjadi satu kenangan spesial dan istimewa, maka awal huruf dengan inisial “C” ini, aku rangkai menjadi –Catatan Skripsi-. Karena aku ingin mengingatnya ketika aku lulus nanti. Dan catatan ini pula yang menjadi jalan teringatku dengan beliau, dosen pembimbingku. Beliau yang insya Allah akan menjadi salah satu jalan suksesku. Sukses yang aku raih, atas peran serta beliau.  Karena tidak ada satupun yang dapat aku lakukan tanpa peran serta dan bantuan dari sesiapapun selain diriku. Dan aku sangat percaya, bantuan terbaik dari orang-orang baik yang berada di sekeliling kita, merupakan jalan hadirnya kebaikan untuk kita.

Awal yang indah untuk memulai langkah dalam perjuangan, sangat terasa olehku, hari ini. Ketika aku bela-belain datang ke kampus pada jam istirahat dari beraktivitas. Dan alhamdulillah, di perjalanan, tiada kendala yang berarti. Hingga akupun kembali ke dalam lingkungan yang semenjak beberapa tahun terakhir menjadi tempatku meneruskan cita.

***

Bersama terik mentari siang hari yang sungguh menyengat, aku berlari-lari kecil. Alasannya, agar tidak telat sampai di tujuan. Tujuan yang sedang menantiku, lalu mempertemukanku dengan beliau, dosen pembimbingku. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, aku pun menemui beliau yang sedang asyik dengan berkas-berkas untuk beliau tanda tangani.

Sesungguhnya, siapakah dosen pembimbingku?

Beliau adalah seorang yang sangat terpandang di lingkungan kampus, tentu saja. Karena beberapa berkas yang berhubungan dengan mahasiswa/i yang akan lulus, perlu mendapatkan persetujuan beliau terlebih dahulu.

Perlahan aku melangkahkan kaki di ruangan yang lama kelamaan membuat ragaku menjadi ayem dan sejuk. Ya, aku yang sebelum memasuki ruangan sempat berada di bawah teriknya mentari, sungguh bak musafir di tengah gurun nan gersang.

Aku haus.

Hausku  pun terobati, dengan semilir angin yang berasal entah dari mana. Intinya, ruangan tempatku berada bersama beliau, sungguh mendamaikan ingatan. Setelah beliau mempersilakan duduk, maka aku segera menarik satu kursi, lalu duduk manis. Tepat di depan meja yang luas sungguh. Sedangkan di belakang meja, terdapat sebuah kursi yang lumayan gede.

Beliau adalah seorang?

Masih jauh pikiranku menerawang, hingga aku benar-benar menyadari bahwa ini bukan sebuah mimpi. Namun, kenyataan telah menjadi bagian dari hari ini. Kenyataan yang bukan ilusi. Namun sebuah hasil dari ekspresi demi ekspresi, termasuk janji-janji yang jiwa pernah ikrarkan. Dan aku pun pernah bercita, untuk menjadi seperti beliau.

Menjadi dosen pembimbing? Ini citaku berikutnya, teman. Dan dalam yakinku, semua yang saat ini sedang aku jalani, tidak pernah terlepas dari doa-doa orang-orang baik yang pernah hadir dalam kisah perjalanan kehidupanku. Semoga kita senantiasa dalam ingatan satu sama lainnya, yaa. Sehingga tidak pernah terlepas keakraban yang pernah terjalin diantara kita, meski raga belum lagi dapat bersua dalam sapa ataupun tatap mata.

Ku melihat beliau beberapa kali berpikir. Memejamkan mata untuk menemukan ide dan beberapa buah pilihan kata.  Sedangkan aku pun turut berekspresi sebagaimana beliau. Mengedipkan mata, mengerutkan kening, lalu tersenyum. Karena aku menyetujui ide-ide dan masukan yang beliau sampaikan.

“Baik, terima kasih, ya Bu,” sapaku pada beliau, di sela-sela kami bertukar informasi.

Untuk selanjutnya, beliau memperkenankanku untuk meninggalkan ruangan dan kami akan kembali berjumpa. Entah kapan?

Aku tidak tahu, kapan waktu yang akan kami jadwalkan untuk bertemu lagi. Karena beliau telah memberikan keringanan padaku. Untuk mengkomunikasikan beberapa hal dengan beliau, tidak mesti dengan bertemu langsung. Namun dapat dengan alat komunikasi yang telah kami pertukarkan, dalam bentuk susunan angka.

Setelah berpamitan, akupun segera melangkah, menuruni tangga, dan sedikit berlari ke arah lapangan menuju gerbang. Karena ada tujuan lain yang sedang aku perjuangkan. Ya, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, aku perlu segera berada di lokasi tempat aku beraktivitas. Karena aku masih ada keperluan, ternyata.

So, dengan segala kemauan dan harapan yang terus menyala, kembali aku melangkah di bawah terik mentari yang semakin menyengat.  Ya, karena waktu sedang berada pada puncak siang. Menjelang pukul satu, dan aku sedang berada di perjalanan.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian, sampailah aku pada tujuan. Tujuan yang sebelumnya aku ingin capai, dan aku benar-benar sampai. Sampainya aku pada tujuan, bukan pula karena kaki-kaki ini yang terus berlari ataupun melangkah tiada henti. Namun atas bantuan dari beliau pula, supir angkot yang aku tumpangi. Sungguh, aku bersyukur. Ada banyak pihak yang begitu baik padaku, dan beliau ada-ada saja di sekelilingku.  Terlebih lagi di saat aku sangat memerlukan bantuan beliau, maka seakan ada kekuatan dahsyat yang mengantarkan beliau padaku. Lalu, aku pun segera menyegarkan ingatan pada-Nya, ALLAH Yang Maha Baik, Alhamdulillaahirabbil’alamiin. 🙂

Aku yakin dan percaya bahwa doa-doa terindah dari Ibunda sedang mengiringi setiap langkah yang sedang aku ayunkan. Karena beliau pernah memesankan bahwa, beliau hanya menginginkan agar aku senantiasa bertemu dengan orang-orang yang baik. Yang menjadi jalan bagiku untuk meneladani kebaikan beliau apabila kebaikan serupa belum ada padaku.

Di sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan, beberapa buah kata yang tadi aku simak dari suara indah dosen pembimbingku. Adapun salah satu pesan yang ingin ku selipkan di sini adalah tentang inti penting dalam penyusunan skripsi. Beliau bilang, bahwa untuk menentukan judul, menentukan bahasan apa yang akan kita paparkan, di dalamnya perlu ada ‘MASALAH”.

Ya, karena masalah adalah awal dari bahan yang akan kita uraikan dan temukan solusinya. Dan masalah tersebut yang akan dijadikan sebagai acuan dalam menyusun skripsi. So, bagi siapapun yang akan mengalami masa-masa akhir menyelesaikan studi, perlu menemukan masalah untuk ditemukan penyelesaiannya.

Begitu pula dengan apa yang kita temukan dalam perjalanan kehidupan ini, ibaratkan saja bahwa kita sedang berada dalam masa-masa pembelajaran, dan bukan sedang menyusun skripsi. So, tidak perlu mencari-cari masalah, deyy.

Cukuplah saat akan menyelesaikan masa pendidikan saja, kita berjuang untuk menemukan masalah yang akan kita bahas dalam tugas akhir.

Nah yang menjadi pertanyaan di sini, sepelik apakah masalah yang akan kita angkat dalam skripsi yang akan kita selesaikan? Tentu tidak pernah terlepas dari berbagai pengalaman yang kita temui dalam praktik kerja di lapangan. Karena masalah timbul saat teori berseberangan dengan kenyataan. Masalah juga muncul ketika apa yang kita inginkan dan kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang kita jalani. Itulah masalah.

“Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktik, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan.” (Oleh: Prof. Dr. Sugiyono; cetakan ke-13 Mei 2011, dalam buku beliau berjudul “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.”

Ah, catatan ini mengingatkanku pada salah satu catatan ketika masih menempuh masa pendidikan dulu. Salah seorang dosenku mengingatkan bahwa proses penyusunan skripsi adalah langkah-langkah untuk mengenal arti perjuangan. Bahwa dengan menempuh proses akhirnya kita menjadi tahu, sejauh apa jarak yang telah kita tempuh untuk dapat sampai ke tujuan. Maka jadikanlah kesempatan untuk menempuh proses dalam penyusunan skripsi sebagai ajang untuk meningkatkan kemampuan, memperluas pengalaman dan meningkatkan pemahaman. Karena apa yang sedang kita lakukan adalah menemukan jawaban dari pertanyaan yang hadir atas masalah yang telah kita temukan.

Jadi, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Agar apa yang kita dambakan dapat menjadi jawab dari perjuangan yang kita lakukan.

Sungguh, manis itu akan terasa apabila kita pernah merasakan bagaimana pahit. Sedangkan apabila kita terus-terusan mengecap rasa manis, tentu tidak enak lagi, bukan? So, aneka rasa yang kita coba dalam perjalanan kehidupan adalah pelezat ingatan akan makna perjuangan. Dan setiap orang yang saat ini sedang kita lihat duduk dengan tenang bersama aktivitas yang beliau senangi, tentu pernah pula mengalami masa-masa yang tidak enak di hati. Namun beliau telah melewati itu semua. Hingga yang tersisa hanyalah kenangan, untuk saat ini.

So, apakah kenangan yang akan kita pandangi lagi, ketika tidak lagi bersamanya, nanti? Apakah kita akan melihat senyuman sedang menebar indah pada lembaran wajah yang penuh dengan kebahagiaan, saat ia menyadari perjuangan-perjuangan yang pernah ia tempuh sebelumnya? Dan kitakah itu yang sedang tersenyum?

Sungguh, hingga saat ini aku belum dapat menceritaimu teman, tentang bagaimana perjuangan yang beliau-beliau tempuh saat menyusun skripsi. Namun hingga detik ini, baru begini catatan yang dapat aku selipkan sebagai salah satu jalan yang mengingatkanku. Bahwa aku pun pernah memulai. Dan kalau sudah memulai, lanjutkanlah!

Perjalanan masih panjang. Kita pun akan sampai pada tujuan, kalau kita terus bergerak, melangkah dan berjuang. Sedangkan para pemenang adalah ia yang tidak mengenal apa itu lelah. Yang ada hanya kembali mengangkat pedang, berjuang dan tepikan segala penghalang. Hidupkan semangatmu teman, karena engkau adalah pejuang sejati. Pejuang yang akan menjadi bagian dari orang-orang yang mengukir prasasti untuk dikenang.

Lepaskan arah pandangmu pada masa depan yang sedang engkau tuju. Lalu, jalanilah saat ini dengan sepenuh hati. Karena hari ini adalah penentu keberhasilanmu. Sekali engkau melangkah, teruskan ia hingga sampai ke tujuan. Pastikan langkah-langkahmu sepenuh hati! Walaupun tidak sedang menyusun skripsi. Xixixii.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s