Berjalan Ke Langit
Berjalan Ke Langit (Photo credit: Tawel)

Awalnya aku berpikir, bahwa engkau bukan siapa-siapa bagiku. Namun seiring dengan pertumbuhan usia, akhirnya aku menyadari bahwa engkau sangat berarti. Bukan hanya sebagai sesama yang sepatutnya senantiasa saling menghargai. Bahkan engkau memberikan lebih terhadapku. Kelebihan yang membuatku tidak henti bertanya, “Siapakah engkau yang sesungguhnya?”

Dan kini, aku tidak lagi mau bertanya-tanya kalau ingatanku terhadapmu menghinggapi ruang pikir ini. Karena aku sudah menyadari dengan sepenuh hati. Bahwa engkau adalah saudaraku. Saudara seiman dan sekeyakinan. Sungguh engkau berbeda dengan beliau yang ku kenali, dan bukan sekeyakinan. Oleh karena engkau lebih dari sesiapapun juga.

Pun aku tidak lagi menyediakan waktuku untuk mencari-cari perbandingan, menemukan persamaan, atau mengulik beda di antara kalian. Karena jelas sudah alasan yang aku yakini hingga detik ini.

Aku yang menyibukkan diri dengan kehadiranmu, cukup menjadikan semua ini sebagai salah satu bahan pelajaran. Untuk ku jadikan sebagai salah satu kenang-kenangan atas kebersamaan kita. Mungkin kelak kita bersua dalam sebuah pertemuan dan engkau tidak lagi mengenalku? Atau aku yang menemukanmu di sebuah ruang tak terduga, pun berubah pangling dan terkesima?

Ah! Biarlah.

Karena aku tidak lagi mau menduga-duga atau menemukan beraneka cara untuk seringkali dekat denganmu. Sebab, sesama saudara kita perlu saling percaya. Ya, kita percaya bahwa segalanya adalah kebaikan. Meskipun dalam perjalanan engkau menjumpaku. Maka sekadar menebarkan barisan senyuman dari wajahmu, semoga engkau rela. Pun aku, agar kita dapat berbaikan, yaa… Karena dari semula kita berbaik-baik saat berjumpa. Lalu kini, ketika jarak menjadi perantara kita, mungkinkah kita menjadikannya sebagai jeda yang membuat kita tidak lagi saling mendamba?

Aku yakin dan percaya bahwa engkau adalah yang istimewa. Oleh karena itu, tidak banyak yang mempunyai ruang untuk menjadi istimewa bersamamu. Mungkin juga aku.

Ah! Biarlah.

Karena aku percaya, dari setiap bahasa yang engkau suarakan, di sana ada ingatan terhadap beberapa orang yang engkau pernah bersua. Dan semua menjadi salah satu landasan bagimu dalam mengukur, sejauh mana engkau mampu menjadi yang istimewa?

Kelak, aku benar-benar sampaikan padamu, bahwa engkau sungguh berharga. Engkau berarti selamanya, bagiku.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s